Sebelas Tahun dipasung, Leksi Akhirnya Lepas Pasung dan Bisa Jalan Sendiri

- Admin

Minggu, 18 Juli 2021 - 20:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Dari kiri ke kanan, Kakak, Mama Kornelia Daghe, Aleksius Dugis (Baju hijau) dan Kepala Puskesmas Kisol, Hery Paul saat kunjung pasien yang sudah pulih di Kampung Sola, Desa Persiapan Ruan Selatan, Kecamatan Kota Komba, Kab. Manggarai Timur, NTT beberapa waktu lalu. (Foto/DOK/Puskesmas Kisol)

Dari kiri ke kanan, Kakak, Mama Kornelia Daghe, Aleksius Dugis (Baju hijau) dan Kepala Puskesmas Kisol, Hery Paul saat kunjung pasien yang sudah pulih di Kampung Sola, Desa Persiapan Ruan Selatan, Kecamatan Kota Komba, Kab. Manggarai Timur, NTT beberapa waktu lalu. (Foto/DOK/Puskesmas Kisol)

Peristiwa Ajaib

Setelah ia pulang ke Kampung Kisol, lanjut Heri, Leksi melepaskan sendiri kakinya yang dipasung dari lubang balok di sebuah pondok. Dia duduk di atas pondok tersebut. Saat mamanya mengantar makan malam, mamanya kaget karena anaknya duduk di pondoknya. Mamanya memberikan makanan. Melihat peristiwa itu, mamanya menginformasikan kepada anggota keluarga.

Keluarga menelepon Pak Heri untuk mempertimbangkan keputusan yang terbaik dengan memasung kembali Om Leksi. Tetapi, Pak Heri meminta seluruh anggota keluarga untuk tidak memasungnya lagi. Pak Heri meminta agar keluarga secara rutin memberi obat. Pak Heri juga meminta agar keluarga mengenakan pakaian yang rapi untuk Om Leksi. Ketika mengenakan pakaian, om Leksi tidak memberikan tanda-tanda perlawanan. Keluarga yakin bahwa Om Leksi sudah benar-benar pulih.

Baca juga :  Dua Imam di Flores Berjuang Memulihkan Martabat Manusia

Baca Juga : Pansos Boleh, Tapi Ada Batasnya
Baca Juga : Politik Identitas ‘Racun’ Demokratisasi

Kesembuhan Om Leksi berkat usaha dari tim medis yang bekerja sama dengan keluarga untuk memberikan pengobatan yang rutin. Kurang lebih selama 2 tahun, Om Leksi minum obat secara rutin yang dilayani mamanya. Proses pemulihan bagi penderita disabilitas mental membutuhkan waktu lama, kesabaran, ketabahan dan ketenangan serta keterlibatan keluarga.

Aleksius Dugis yang biasa disapa Leksi mengalami gangguan jiwa sejak 2009 lalu. Sejak saat itu, Leksi langsung dipasung oleh keluarga dan warga. Ibu kandung Leksi, Kornelia Daghe menjelaskan, gejala awal anaknya mengamuk, marah dan jalan-jalan tanpa arah di kampung Sola.

Baca juga :  Pariwisata dalam Konteks Manggarai Raya

Bahkan, anaknya sering mengganggu orang di kampung pada 2009 lalu. Sejak saat itu keluarga mengambil jalan untuk memasungnya demi kenyamanan keluarga dan warga di kampung tersebut.

Baca Juga : Sepucuk Surat untuk Pengantin Perempuan
Baca Juga : Musisi Difabel Mata ini Ingin Memiliki Keyboard dan Membuka Kursus Musik

“Dulu dua kakinya dipasung. Namun, saat ini hanya kaki kanannya dipasung karena kondisinya parah. Bahkan, kadang-kadang dua kakinya dipasung secara bergantian oleh keluarganya apabila kakinya sakit. Keluarga mengambil jalan itu demi keamanan keluarga dan kampung karena anak saya selalu marah, mengamuk dan berontak,” tuturnya.

Baca juga :  Menikmati Wisata Kopi Detusoko

Daghe menjelaskan, ayah Leksi, Mikael Pandu sudah meninggal. Dia juga sudah tua maka tidak bisa lagi merawat anaknya itu.

“Memang saya rutin beri anak saya makan dan minum dan kadang-kadang mandi. Namun, saat ini kondisinya semakin parah,” katanya. “Saya berharap ada perhatian dari berbagai pihak untuk membebaskan anak saya yang dipasung selama 10 tahun hingga saat ini,” jelasnya.

Komentar

Berita Terkait

Milenial Promotor Literasi Digital dalam Spirit Keberagaman Agama
Kasus Pasung Baru di NTT Masih Saja Terjadi
Seandainya Misa Tanpa Kotbah
Gosip
Sorgum: Mutiara Darat di Ladang Kering NTT
Tanahikong, Dusun Terpencil dan Terlupakan di Kabupaten Sikka              
Qui Bene Cantat bis Orat (Tanggapan Kritis atas Penggunaan Lagu Pop dalam Perayaan Ekaristi)
Media dan Ilusi Netralitas
Berita ini 113 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA