Sepak Bola dan Flores

- Admin

Rabu, 11 Januari 2023 - 15:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Apabila Anda datang ke suatu daerah, cobalah Anda bertanya kepada setiap anak kecil yang Anda temukan di sana tentang apa yang menjadi cita cita mereka kelak. Bila ada 1 atau 2 dari 10 anak menjawab bahwa kelak ia ingin menjadi pesepakbola hebat seperti Messi atau Ronaldo, maka di daerah itu ada peluang besar untuk mulai mengembangkan olahraga sepakbola modern. Secara hampir merata di berbagai belahan dunia, cabang olahraga sepakbola kini telah menjadi suatu alternatif pilihan hidup atau cita cita dengan berbagai alasannya.

Pele, Maradona, Messi, Christiano Ronaldo dan hampir semua bintang legendaris sepak bola dunia lainnya, saat mereka masih berusia kanak kanak rerata memiliki mimpi sekaligus tekad yang kukuh dalam sanubari untuk kelak dapat menjadi pesepakbola handal tingkat dunia. Ada begitu banyak narasi mengharukan tentang anak anak pecinta bola yang ternyata kemudian mampu merubah nasib keluar dari keterpurukan ekonomi sosial keluarga dan masyarakatnya melalui prestasi di bidang olahraga sepakbola.

George Weah menjadi presiden Liberia karena ditunjang oleh prestasi sebagai pesepakbola terbaik dunia. Maradona dipuja bak dewa di Napoli, di Argentina bahkan di seluruh dunia karena sihir dan kejeniusannya dalam bersepakbola. Demikian pula dengan kisah Messi, Ronaldo, Mbappe, dan lain lain. Romantisme heroik seperti inilah yang kini mulai menginspirasi anak anak sedunia untuk bersepakbola.

Selama beberapa dekade sebelum ini, di seujung pulau Flores, setiap anak bila ditanya tentang cita cita otomatis akan memberikan jawaban stereotipe. Nyaris sama. Umumnya pada ranking pertama, jawaban mereka itu adalah ingin menjadi seorang pastor, suster atau guru. Kemudian muncul pula cita cita akan profesi lain seperti menjadi pegawai negeri, anggota TNI atau Polri, atau menjadi politisi terkenal.

Jawaban seperti ini tentu menyiratkan tentang sistem berpikir, persepsi maupun mental dan kultur yang hidup dalam masyarakat Flores. Bahwa bagi orang Flores di masa masa itu, menjadi pastor, suster atau guru adalah semulia mulianya manusia dan sehebat hebatnya suatu profesi atau pekerjaan. Begitulah kenyataan di masa lalu. Ini menjadi semacam indoktrinasi yang merasuki alam berpikir hampir setiap anak dalam setiap rumah tangga Flores di masa lalu.

Pernah ada seloroh bahwa efek mindset ini ternyata ikut pula mempengaruhi pertumbuhan otot tulang fisik orang Flores. Otot dan tulang sekitar rahang dan mulut serta tangan anak anak Flores itu biasanya akan bertumbuh optimal demi menunjang profesi sebagai pastor, guru, atau politisi yang mengandalkan kemampuan dalam berkata kata dan berbicara. Nah, bila cita cita mulia itu ternyata gagal tercapai, tenang saja, orang Flores punya opsi lain yaitu pergi merantau ke Malaysia dan menjadi buruh kasar di kilang kilang atau berangkat ke Jawa dan siap menjadi debt collector dan pekerjaan lain yang mengandalkan kekuatan kepalan tangan.

Flassback

Entah sejak kapan sepakbola yang kini menjadi jenis olahraga paling digemari orang se-antero dunia ini hadir di Flores. Yang jelas, sekitar tahun 1930 an, para seminaris di Todabelu, Mataloko, Ngada sudah terkenal sebagai pemain bola handal pada posisinya masing masing. Pater Adrianus Conterius, SVD dan pater Ozias Fernandez, SVD asal Sikka misalnya dipuji sebagai penyerang haus gol dan gelandang bertahan yang handal di masa itu.

Selanjutnya selepas Perang Dunia II olahraga sepakbola yang semakin populer sejak ada kejuaraan di tingkat dunia itu, juga ikut dikembangkan oleh para misionaris asal Eropa, di parokinya masing masing di seluruh wilayah Flores. Para Frater dari Ledalero dan Ritapiret, biasanya di saat pulang berlibur juga suka mengajak bermain sepakbola bersama anak anak, remaja dan pemuda di kampung asalnya masing masing.

Sekitar tahun 1960 an, sepakbola nampaknya sudah menjadi olahrahga rakyat yang paling populer di Flores. Di masa itu, hampir setiap wilayah di Flores memiliki klub sepakbola di tingkat remaja dan pemuda masing masing. Mereka ini berlatih atau bermain di tanah lapang seadanya dengan bola dari bahan sederhana serta menampilkan teknik seadanya pula. Homo ludens, manusia adalah makhluk yang suka bermain.

Baca juga :  Generasi Muda: Penentu Kemenangan Partai Golkar dalam Pemilu 2024

Bersepakbola bagi masyarakat Flores di saat itu pertama tama adalah untuk memenuhi dorongan rasa ingin bermain bersama yang ternyata bisa juga menjadi kesenangan atau hobi sekaligus menjadi tontonan hiburan dan kegembiraan bagi masyarakat sekitar. Semua orang Flores berusia 60an atau lebih bisa berceritera tentang keindahan hidup masa kecil itu yang mungkin sulit untuk terulang kembali.

Almarhum Jenderal Anton Tifaona adalah seorang pesepakbola handal dan terkenal di Flores pada masa lalu. Keahlian bersepakbola bapa Anton semakin terasah baik setelah ia bersekolah di seminari Mataloko di tahun 1950 an. Bapa Anton sendiri berasal dari Lembata namun ia sering pula dikenang sebagai tokoh pendiri PSN Ngada, kesebelasan sepakbola tangguh dari NTT. Semasa hidupnya ia pernah mengisahkan bahwa pada dekade tahun 1960 an itu, turnamen sepakbola di Flores Timur yang meliputi Lembata Adonara, Solor dan Larantuka sungguh sangat ramai.

Perhelatan sepakbola itu biasanya dilaksanakan pada saat saat menjelang peringatan dan perayaan hari Kemerdekaan Indonesia. Ada belasan klub dari tingkat anak, remaja, pemuda dan dewasa akan datang berlaga untuk bertanding merebut juara dengan sistem ‘tarelot’. Dari generasi ini lahir nama nama seperti Bebe Corebima, dan Cor Monteiro yang kemudian menjadi andalan tim sepakbola Flores Timur dalam setiap turnamen Eltari Cup di NTT pada tahun 1970 an. Sinyo Aliandoe adalah nama lain anak Flores Timur yang ternyata mampu tampil di level nasional, baik sebagai pemain ataupun sebagai pelatih tim nasional Indonesia.

Setelah era Sinyo Aliandoe, sejak dahulu hingga kini selalu hadir pesepakbola handal asal Flores yang ikut mewarnai ajang turnamen dan kompetisi sepakbola tingkat nasional seperti : Frans Watu (Perkesa/Lampung Putra/Arema), Yohanes Geohera (Arema), Maura Hely (Persebaya/Niac Mitra), Polce Kia (Pelita Jaya/Barito Putra), Lorens Fernandez (Persija Timur/Merpati Galakarya), Yos Fernandez (Angkasa/Lampung Putra), Daniel Boro (BPD Jateng/Diklat Salatiga), Paulus Dolun (Caprina), Yance Ruma (Perkesa/PSIM), Joni Lamuri (Galatama), Heri Nerly (Persipura), Otavianus (Persebaya/PSIS), Roly Lamuri (Persija), dan yang teranyar adalah pemain muda berbakat Marselino Ferdinan (Timnas/Persebaya).

Fransisco Soarez Pati adalah seorang pemuda filantropik dan peneliti sejarah Portugis di Flores asal Maumere. Sisco sudah menghasilkan beberapa tulisan yang dimuat di journal internasional. Sisco pernah berujar bahwa bakat serta kualitas skill dan teknik bersepakbola orang Flores mestinya tidak perlu kalah dengan kemampuan pesepakbola timnas Brasil. Perhatikan profil pesepakbola Brasil yang bertampang tidak khas Eropa, Afrika, Indian, ataupun campuran di antaranya.

Wajah dan fisik mereka itu sangat mirip dengan wajah dan fisik orang Flores atau Timor, sungguh akrab dan tidak asing. Mengapa? Sisco menjelaskan bahwa bangsa Portugis yang pernah menjajah Brasil itu juga memang pernah hilir mudik menjajah di Flores dan Timor selama beberapa abad di masa lalu. Sejumlah Gubernur Jendral di Timor dan Solor di abad XVI hingga XVIII umumnya adalah orang yang sama yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jendral Portugis di Brasil, Africa, Goa dan kemudian menduduki jabatan yang sama di Timor dan Solor seperti António José Teles de Meneses, Julião José da Silva Vieira, José Joaquim Lopes de Lima.

Sebagaimana ribuan orang Afrika pernah diangkut paksa oleh Portugis untuk bekerja di berbagai hasienda di Brasil, demikian pula di sekitar abad 16 hingga pertengahan abad 18 itu kiranya tidak sedikit orang Flores dan Timor yang pernah diangkut paksa oleh Portugis ke Brasil untuk tujuan yang sama. Perbudakan orang Flores dan Timor berlangsung hingga abad ke XVIII dijaman Gubernur Jendral Jose Joaquim Lopes de Lima sebelum mengambil tindakan sepihak dengan menjual seluruh wilayah koloni Portugis di Flores, Solor, Adonara, Lembata, Alor kepada Belanda dan secara sepihak pula bersama kolonial Belanda membagi pulau Timor dalam dua kekuasaan yaitu sebelah barat pulau Timor menjadi milik Belanda dan sebelah Timur menjadi milik Portugis.

Menurut penjelasan Sisco misteri perbudakan orang Flores dan Timor semakin nyata diuraikan dalam buku karangan Alfonso de Castro dengan judul “AS POSSESSOES PORTUGUEZA NA OCEANIA”, 1867 (Kekayaan Portugis di Oceania, 1867). Hipotesis Sisco ini memang perlu dibuktikan dengan berbagai dokumen autentik kesejarahan. Atau bila perlu dibuktikan juga dengan tes DNA demi mendapatkan kebenaran historis dan kepastian alasan kemiripan tersebut. Tetapi bila orang Flores mencoba mengenangkan kembali teknik dan skill hebat Pedro Rodriquez, legenda Persami atau Cor Monteiro maestro dari Perseftim, maka opini Francisco Pati ini kiranya menjadi menarik untuk disimak.

Baca juga :  Urgensi Penelitian Sosial terhadap Pembentukan Kebijakan Publik

Politik dan Olahraga

Deretan nama pesepakbola asal Flores yang pernah hadir di ajang kompetisi sepakbola nasional di atas itu mirip dengan pesebaran tanaman kelapa di seputaran pulau Flores. Di Flores, kecuali di perkebunan kelapa milik Misi gereja katolik, rerata pohon kelapa itu biasanya tumbuh secara alamiah. Buah kelapa yang sudah tua jatuh sendiri dari tangkai lalu bergulir di sekitar pohon. Bila posisi pohon berada di lereng yang miring maka buah kelapa yang jatuh akan bergulir semakin jauh. Setelah jatuh dan apabila buah kelapa itu kemudian bergulir ke tanah yang subur gembur maka ia akan mudah tumbuh menjadi pohon kelapa baru. Sebaliknya, bila buah kelapa itu bergulir ke bebatuan atau ke tanah yang tidak subur maka buah kelapa itu akan segera membusuk atau mengering.

Eltari adalah seorang Gubernur Provinsi NTT di masa lalu. Setelah pelantikannya di Kupang pada tahun 1968, gubernur Eltari segera menggagas suatu konsep politik olahraga melalui cabang olahraga sepakbola. Ia menginisiasi ajang turnamen Eltari Cup (ETC) yang digelar secara berkala. Visi dan tujuan Eltari dengan giat ETC pertama tama adalah untuk mempersatukan orang NTT yang beragam ragam Flores, Sumba Timor, Alor, Rote, dan Sabu. Melalui ajang ETC ini, Eltari sekaligus juga memulai upaya pembinaan dan pembuktian bagi bakat bakat sepakbola di NTT melalui suatu ajang tunamen berkala.

Dengan demikian selanjutnya diharapkan dapat memunculkan prestasi yakni kemampuan bersaing di level yang lebih tinggi terutama dalam persaingan di tingkat nasional. Prestasi yang dapat membanggakan NTT. Visi dan politik olahraga Eltari ini kemudian diabadikan dalam turnamen lanjutan yaitu Eltari Memorial Cup (ETMC) sebagai ajang turnamen sepakbola antar kabupaten di NTT hingga saat ini.

Sudah 50 tahun lebih turnamen ETC dan ETMC bergulir setiap 2 tahun. Namun setelah setengah abad berlalu ternyata prestasi dan pencapaian sepakbola NTT nampaknya masih seperti berjalan di tempat. Tim sepakbola NTT hingga kini belum mampu bersaing di tingkat nasional. Tidak membanggakan. Hal ini mestinya perlu disadari dan disikapi secara serius.

Orang NTT itu pernah mampu merajai dunia atletik nasional atau bisa bersaing di beberapa cabang olahraga individual lainnya seperti tinju dan jenis olahraga bela diri lainnya. Tetapi mengapa tidak mampu bersaing di cabang sepakbola? Jawaban atas pertanyaan ini bisa saja dibuat dalam suatu kajian dan penelitian yang mendalam. Namun secara kasat mata jelas terlihat bahwa di NTT itu hingga kini ternyata belum ada dibangun stadion sepakbola yang cukup memadai atau berkelas.

Stadion Marilonga di Ende misalnya, hanya dengan kemampuan lighting sehingga bisa menggelar pertandingan di malam hari terbukti telah berhasil menyedot begitu besar antusiasme publik dan penonton. Selebihnya, kondisi nyaris semua stadion di NTT itu masih amat memprihatinkan. Stadion Gelora Samador di Maumere misalnya seringkali hanya jadi tempat angon kuda dan kambing. Tidak terurus dan terlantar. Itu hanya dari sisi sarana prasarana. Setali tiga uang dengan banyak sisi lainnya dalam upaya pembinaan dan pengembangan sepakbola NTT.

Model pembinaan dan pelatihan berjenjang , sistem kompetisi berkelanjutan, jumlah turnamen, fasilitas atau tunjangan dan apresiasi bagi pesepakbola, dan lain sebagainya masih sangat terbatas. Kendala dan hambatan seperti ini tentu berimbas pada pencapaian prestasi yang ternyata masih jauh dari harapan.

Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa alasan dari prestasi yang minim itu sesungguhnya terletak pada masalah alokasi atau ketersediaan anggaran bagi pembinaan dan pengembangan sepakbola di Flores dan NTT yang masih amat minim pula itu. Syukurlah bahwa beberapa tahun belakang ini telah mulai muncul sekolah sepakbola bagi anak dan remaja di beberapa kota di NTT. Di Atambua belum lama ini ada klub sepakbola yang didirikan dengan manajemen dan metode pembinaan profesional.

Baca juga :  Pulau Timor, Satu Ruang Dua Tuan

Diketahui bahwa dana pembinaan olahraga sepakbola NTT termasuk di Flores, sejauh ini masih sangat bergantung pada dukungan dari keuangan pemerintah setempat. Dana APBD pemerintah daerah di Flores itu relatif kecil. Di samping itu, masih terdapat sejumlah kebutuhan dasar atau prioritas pembangunan di bidang lain. Maka bisa dimaklumi bahwa alokasi anggaran untuk pembinaan dan pengembangan bidang sepakbola Flores tentu akan kecil saja.

Namun dengan demikian otomatis pula menjadikan visi dan harapan sepakbola Flores atau NTT yang berprestasi itu sebagi pepesan kosong belaka. Keadaan ini akan semakin runyam bila bupati atau gubernur di daerah tertentu ternyata sama sekali tidak memiliki minat dan atensi dalam pengembangan sepakbola berkelanjutan.

Berkaca dari kondisi persepakbolaan NTT maka politik olahraga yang pernah dicanangkan oleh gubenur Eltari kiranya perlu dikontekstualisasikan kembali. Sudah jelas bahwa salah satu faktor pendukung terpenting dalam sepakbola berpretasi itu mensyaratkan komitmen pendanaan secara profesional pula. Dengan demikian harapan sekaligus upaya dan peluang menciptakan leapfrog prestasi akan lebih mudah diwujudkan berikut multiplier effectnya.

Kebanggaan dan kesatuan persatuan rakyat dan bangsa Argentina di Buenos Aires saat menyambut kemenangan Messi dan kawan kawan di Piala dunia Qatar 2022 adalah suatu pelajaran berharga tentang manfaat dari investasi pengembangan dan pembinaan sepakbola berkelanjutan. Selanjutnya ada begitu banyak peluang yang muncul dan bisa dikapitalisasi sebagai hasil dari pencapaian prestasi sebagaimana prestasi Messi dan kawan kawan yang gemilang di tingkat dunia itu.

Fenomena Suporter

Sebagai bagian penutup dari ulasan ini adalah terkait fenomena kelahiran kelompok fans pendukung fanatik bagi sautu tim kesebelasan di Flores saat ini. Beberapa perhelatan kejuaraan sepakbola di Flores atau di NTT antar kabupaten belakangan ini, para suporter pendukung tim kebanggaannya selalu ramai datang memenuhi stadion pertandingan.

Masing masing kelompok datang dengan biaya swadaya dan dengan semboyan dan yel yel serta atribut yang khas. Semangat dan dukungan yang diberikan oleh para suporter itu sungguh memberikan suatu nuansa baru. Ada energi, emosi dan kecintaan sekaligus harapan yang luar biasa terhadap tim dukungannya. Harapan utama setiap kelompok suporter tentunya kemenangan dan juara.

Kehadiran kelompok suporter atau fans fanatik itu bisa dilihat sebagai semacam kelahiran sebuah subkultur baru dalam sosial budaya atau peradaban orang Flores, khususnya di bidang olahraga sepakbola. Kehadiran kelompok suporter fanatik itu juga iku menunjukkan bahwa dalam kehidupan masyarakat Flores saat ini telah muncul suatu kecintaan sekaligus kebanggaan yang besar terhadap sepakbola berikut seluruh nilai (values) yang terkandung di dalam cabang olahraga tersebut. Patut disayangkan bila rasa cinta dan kebanggaan masyarakat tersebut belum sebanding dengan pencapaian prestasi, apalagi teknik, skill, dan strategi yang dimainkan oleh sebuah tim sepakbola di Flores.

Suporter di dalam suatu pertandingan sepakbola sering disebut juga sebagai pemain ke -12. You will never walk alone adalah semboyan fans fanatik pendukung tim Liverpool yang selalu memberikan tambahan energi dan fighting spirit bagi pemain Liverpool ketika bertarung di stadion Anfield. Fanatisme pendukung Brasil atau Argentina itu terkenal sedemikian kuat sehingga sepakbola di kedua negara Latin tersebut seolah menjadi agama kedua bagi masyarakatnya.

Kehadiran fans pendukung fanatik tim kesebelasan sepakbola di Flores itu secara terang benderang menunjukkan bahwa sepakbola itu telah semakin membudaya bagi orang Flores, dan sekaligus menjadikan sepakbola sebagai sebuah cabang olahraga yang sudah siap untuk dikembangkan secara profesional demi mengejar prestasi. Dukungan pemerintah daerah tentu tetap akan diperlukan. Terutama terkait sarana dan prasarana pendukung. Tetapi dalam konteks pengelolaan sepakbola modern (industri) kiranya hal ini sudah saatnya perlu diambil alih oleh pihak yang memiliki komitmen dan kompetensi sekaligus siap all out untuk bergelut secara profesional dalam bidang pembinaan dan pengembangan olahraga sepakbola tersebut di Flores.

Komentar

Berita Terkait

Bubuk Mesiu di Pulau Flores Abad 15-16
Nama-Nama Orang Flores
Asal Usul Nama Kewapante
Pengaruh Portugis di Kabupaten Sikka   
Tenggelamnya Kapal O Arbiru, Dili – Bangkok 1973 di Perairan Maumere, Flores
Jejak Portugis di Paga      
Pulau Timor, Satu Ruang Dua Tuan
Fosil Budaya Purba Flores (2)
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA