Indodian.com – Modernitas sering dipuji sebagai zaman yang menjanjikan kebebasan. Ia memungkinkan tiap-tiap orang mengembangkan diri, membangun usaha, mengejar karier, dan menentukan masa depannya sendiri. Dalam masyarakat modern, manusia seolah diberi kesempatan tanpa batas untuk menjadi siapa pun yang diinginkan. Namun pertanyaannya: apa orang-orang sungguh bebas di tengah slogan kebebasan itu?
Byung-Chul Han, filsuf berdarah Korea Selatan, justru bergelut paradoks itu. Dalam karyanya seperti The Burnout Society, Psychoplitics, dan Vita Contemplativa, Han menunjukkan bahwa masyarakat modern tidak lagi hidup dengan pola penindasan lama yang kasar dan represif. Sebaliknya, dominasi kini hadir secara halus, bahkan tampak positif.
Han menyebut situasi ini sebagai masyarakat beprestasi (achievement society): suatu keadaan sosial di mana setiap orang diberi ruang untuk memaksimalisasi kepentingannya. Orang tidak lagi dipaksa oleh cambuk kekuasaan eskternal, melainkan oleh dorongan internal untuk terus melampaui dirinya sendiri. Orang-orang memuja produktivitas dan menuntut diri untuk terus bekerja dan mencapai kesuksesan (Han, 2015:9).
Namun, justru di sinilah bahayanya. Alih-alih menjadi manusia bebas, orang perlahan berubah menjadi mesin kerja bagi dirinya sendiri. Ia terus bekerja, mengejar pencapaian (semisal dalam FB Pro), membangun citra diri, dan memaksimalisasi performa demi memperoleh pengakuan sosial. Alhasil, dalam dorongan dirinya, orang tidak lagi menjadi korban eksplotasi sesama, melainkan pelaku eksploitasi atas dirinya sendiri.
Han menyebut situasi ini sebagai ‘kekerasan positif’ (positivitas) (Han, 2015:5). Apalagi di era perang dingin, kekerasan itu berwujud negatif dengan mengingidentifikasi the others atau sejenis musuh (common enemy) yang menuntut penindasaan dan pembasian massal, maka di era saat ini, kekerasan itu sesungguhnya bercorak positif. Itu berarti kekerasan itu tidak lagi hadir dalam dominasi yang kentara, melainkan melalui cara kerja tersembunyi yang memungkina orang-orang untuk bekerja secara terus menerus dan mengeksploitas dirinya.
Bagi Han, kekerasan positif ini lahir sistem dominasi kapitalisme neoliberal (Han, 2014). Dalam sistem sosial politik semacam ini, semua orang diberi kebebasan untuk bekerja kerja keras Mereka sesunguhnya. dipacu untuk terus aktif, kreatif, produktif, dan kompetitif. Kebebasan dipuja, tetapi pada saat yang sama manusia dipaksa untuk terus bekerja demi mempertahankan eksistensinya. Akibatnya, manusia direduksi menjadi subjek performatif: pribadi yang terus mengejar prestasi, efisiensi, dan pencapaian tanpa pernah benar-benar berhenti.
Tatakala hidup dalam sistem semacam ini, Han menegaskan bahwa masyarakat presetasi semacam itu akan berubah rupa menjadi burnout society-masyarakat yang kelelahan. Di balik tuntutan dunia kerja yang tinggi, tersembunyi manusia-manusia yang letih, cemas, depresi, stress, dan kehilangan makna hidup. Di tengah corak kekerasan positif semacam itu, orang-orang bahkan dituntut untuk percaya bahwa tiap-tiap orang harus produktif, kesibukan adalah hal yang normal dan istirahat adalah tanda kemalasan.
Di tengah keadaan semacam itu, Han mengajak tiap-tiap orang untuk menghidupi vita contemplative (Han,2023). Ini adalah sebuah panggilan sejati agar tiap-tiap orang merebut kembali ruang kontemplasi. Di tengah dunia yang dikepung dengan tuntutan pekerjaan yang tinggi, penting agar orang-orang menarik diri dari rutinitas dan menekuni diri dalam keheningan. Keheningan adalah momen untuk memulihkan kembali kemanusian yang terkikis. Keheningan adalah jalan agar orang kembali menghidup makna hidup. Keheningan adalah kesempatan agar kita dapat menjumpai keutamaan batin dan menghidupkan kembali pikiran, perasaan, dan harapan kita.
Penulis : Ican Pryatno, Mahasiswa Magister IFTK Ledalero






