Sebelas Tahun dipasung, Leksi Akhirnya Lepas Pasung dan Bisa Jalan Sendiri

- Admin

Minggu, 18 Juli 2021 - 20:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Dari kiri ke kanan, Kakak, Mama Kornelia Daghe, Aleksius Dugis (Baju hijau) dan Kepala Puskesmas Kisol, Hery Paul saat kunjung pasien yang sudah pulih di Kampung Sola, Desa Persiapan Ruan Selatan, Kecamatan Kota Komba, Kab. Manggarai Timur, NTT beberapa waktu lalu. (Foto/DOK/Puskesmas Kisol)

Dari kiri ke kanan, Kakak, Mama Kornelia Daghe, Aleksius Dugis (Baju hijau) dan Kepala Puskesmas Kisol, Hery Paul saat kunjung pasien yang sudah pulih di Kampung Sola, Desa Persiapan Ruan Selatan, Kecamatan Kota Komba, Kab. Manggarai Timur, NTT beberapa waktu lalu. (Foto/DOK/Puskesmas Kisol)

Pondok dibangun Caritas Keuskupan Ruteng

Pada tahun 2019, kondisi tempat pemasungan Om Leksi sungguh sangat memprihatinkan. Ketika melihat kondisi tempat pemasungan yang sangat memprihatinkan, relawan KKI memotret dan menginformasikan kepada Vikep Borong, Romo Simon Nama,Pr. Selanjutnya Romo menginformasikan kepada Pastor Paroki Santo Yosef Kisol dan Ketua Komisi Caritas Keuskupan Ruteng, Romo Yuvens Rugi, Pr 2019 lalu.

Saat itu Pastor Paroki Kisol bersama relawan KKI Manggarai Timur sama-sama mengunjungi Aleksius Dugis sambil menginformasikan kepada mama dan keluarganya bahwa Komisi Caritas Keuskupan Ruteng membantu membangun pondok yang layak bagi Leksi. Tentu kerja sama dengan Kelompok Umat Basis Gerejani setempat (KBG) untuk membangun pondoknya.

Baca Juga : Perempuan, Iklan dan Logika Properti
Baca Juga : “Utang Budi” Pater Thomas Krump, SVD

Baca juga :  Pariwisata dalam Konteks Manggarai Raya

Bantuan dari Caritas Keuskupan Ruteng dihantar langsung oleh Romo Yuvens Rugi, Pr bersama dengan staf Caritas. Akhir 2019, keluarga bersama KBG setempat membangung pondok panggung bagi Leksi di belakang dapur.Jarak dapur dengan pondoknya kurang lebih 8 meter. Selanjutnya mereka memindahkan Leksi ke pondok yang layak tersebut.

Pemda Manggarai Timur dan Gereja Serius Tangani ODGJ

Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa belum lama ini menegaskan, Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur melalui dinas terkait menangani secara serius penderita disabilitas mental di daerah ini.

“Saya sudah mengunjungi penderitaan gangguan jiwa atau disabilitas mental dua bulan lalu di kampung translok Lidi, Desa Lidi, Kecamatan Ranamese. Bahkan seluruh Manggarai Timur sudah saya kunjungi didampingi relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Kabupaten Manggarai Timur dan Dinas Kesehatan Manggarai Timir. Mereka harus pulih. Pasung dibongkar. Saya bersuara tentang penanganan ODGJ dalam rapat bersama instansi terkait,” jelasnya.

Baca juga :  Kisah Yohanes Rongga, Kaum Difabel yang Mendapat Bantuan dari Kemensos RI

Romo Hermen Sanusi, anggota relawan KKI dan pendamping ODGJ Kabupaten Manggarai Timur belum lama ini mengungkapkan, pemulihan bagi penderita disabilitas mental menjadi tanggungjawab bersama semua pihak.

“Saya berkali-kali mengunjungi penderita itu. Mendoakan dengan ibadat singkat serta memberikan sakramen ekaristi bagi yang beragama Katolik. Saya bersama relawan KKI sudah mengunjungi mereka disela-sela tugas saya menjadi Kepala Sekolah SMAK Pancasila Borong,” jelasnya.

Baca Juga : Kain Songke dan Kenangan tentang Ibu
Baca Juga : Kisah Yuliana Mijul, Gali Pasir dan Menenun Demi Menyambung Hidup Keluarga

Pada tahun 2018 dan 2019, Ketua Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Nusa Tenggara Timur, Pater Aventinus Saur, SVD mengunjungi Aleksius Dugis yang dipasung di belakang dapur. Saat itu kondisinya sangat memprihatinkan.

Baca juga :  Tanahikong, Dusun Terpencil dan Terlupakan di Kabupaten Sikka              

Saat ini, Om Leksi sudah secara perlahan kembali membaik. Om Leksi sudah bisa masuk rumah, duduk, dan meminta makan. Semula anggota keluarga takut dan panik serta ingin menjauh. Namun Om Leksi tetap dengan tenang dan sopan meminta makan. Usai makan, om Leksi meminta obat, lalu kembali ke pondok dan tidur.

Ibunda Om Leksi menyampaikan rasa syukur atas karya Tuhan dalam diri relawan KKI, tenaga medis dan Gereja Katolik Keuskupan Ruteng serta Pemda Manggarai Timur bagi pemulihan Leksi di Kampung Sola.

Komentar

Berita Terkait

Milenial Promotor Literasi Digital dalam Spirit Keberagaman Agama
Kasus Pasung Baru di NTT Masih Saja Terjadi
Seandainya Misa Tanpa Kotbah
Gosip
Sorgum: Mutiara Darat di Ladang Kering NTT
Tanahikong, Dusun Terpencil dan Terlupakan di Kabupaten Sikka              
Qui Bene Cantat bis Orat (Tanggapan Kritis atas Penggunaan Lagu Pop dalam Perayaan Ekaristi)
Media dan Ilusi Netralitas
Berita ini 108 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 08:40 WITA

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Rabu, 27 Mei 2026 - 14:16 WITA

Pesta Babi: Pembangunan yang Memakan Manusia

Rabu, 27 Mei 2026 - 14:00 WITA

Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB

Senin, 25 Mei 2026 - 20:43 WITA

Prabowonomics: Dari Neoliberalisme Menuju State Capitalism

Rabu, 21 Februari 2024 - 19:07 WITA

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Minggu, 18 Februari 2024 - 16:18 WITA

Demokrasi dan Kritisisme

Jumat, 9 Februari 2024 - 18:26 WITA

Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?

Selasa, 6 Februari 2024 - 19:06 WITA

Dari Ledalero untuk Indonesia: Menyelamatkan Demokrasi dari Jerat Kuasa?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA