China Flores: Jejak Panjang dan Integrasi Sosial

- Admin

Sabtu, 16 Mei 2026 - 21:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika berbicara tentang Pulau Flores, perhatian kita sering tertuju pada keindahan alam, kekayaan budaya, atau sejarah kolonialnya. Namun di balik perjalanan panjang perkembangan sosial dan ekonomi selama ratusan tahun, terdapat satu komunitas yang turut membentuk denyut kehidupan daerah ini: komunitas China Flores.

Mereka bukan pendatang baru yang hadir semata-mata untuk kepentingan ekonomi modern. Keberadaan mereka di Flores telah berlangsung sejak berkembangnya perdagangan antar pulau pada masa kolonial. Melalui jalur perdagangan yang menghubungkan Makassar, Surabaya, Timor, dan berbagai wilayah pesisir Nusantara, para pedagang Tionghoa secara bertahap datang dan menetap di Flores. Dari generasi ke generasi, mereka membangun kehidupan bersama masyarakat lokal dan perlahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Flores.

Menarik untuk dicatat bahwa pada masa kolonial Portugis, kawasan Solor–Timor–Flores, dalam konteks yang lebih luas, pernah berada dalam satu kerangka administratif yang saling terhubung, termasuk dalam jaringan yang dikenal sebagai província Macau–Solor–Timor, sebagai bagian dari struktur yang berada di bawah subordinasi Estado da Índia (Estado do Goa). Struktur kolonial ini memperlihatkan bagaimana perdagangan, pemerintahan, dan kehidupan sosial di kawasan tersebut saling terhubung dalam satu sistem yang lebih luas pada masa itu.

Berbeda dengan gambaran umum komunitas Tionghoa di kota-kota besar yang sering dipandang eksklusif, China Flores berkembang dengan karakter yang jauh lebih membumi. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat setempat, menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, mengikuti ritme sosial masyarakat, dan membangun hubungan kekeluargaan yang erat dengan warga lokal. Banyak di antara mereka lahir, besar, dan menghabiskan seluruh hidupnya di Flores.

Di berbagai daerah di Flores, masyarakat akrab menyebut mereka dengan panggilan “Baba” atau “Aci”. Sebutan ini lahir dari hubungan sosial yang telah terbangun lama dalam kehidupan sehari-hari. Panggilan tersebut bukan sekadar penanda etnis, melainkan bentuk kedekatan yang tumbuh melalui interaksi lintas generasi. Dalam banyak situasi, istilah ini bahkan terasa lebih lokal dan akrab dibanding penyebutan formal “Tionghoa”.

Di kota-kota seperti Lewoleba, Larantuka, Maumere, Ende, Mbay, Bajawa, Borong, Ruteng, dan Labuan Bajo bahkan di sejumlah ibukota kecamatan, komunitas China Flores memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi lokal. Toko-toko keluarga mereka menjadi bagian dari sejarah perdagangan daerah. Dari usaha kecil di pasar hingga jaringan distribusi antar pulau, mereka membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses pada masa lalu.

Jejak keberadaan mereka juga tersimpan dalam cerita-cerita lokal. Di Kabupaten Sikka, misalnya, terdapat kawasan Geliting yang dalam sejumlah tradisi lisan masyarakat dikaitkan dengan seorang pedagang Tionghoa bernama Go Lie Ting. Nama ini diyakini berkaitan dengan perkembangan kawasan perdagangan lama di wilayah tersebut. Pada masa lalu, Geliting dikenal sebagai salah satu titik penting perdagangan masyarakat pesisir di utara Maumere. Kawasan ini menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok, mulai dari masyarakat lokal, pedagang Tionghoa, hingga pelaut dan pedagang dari Wajo (Sulawesi Selatan) serta Tidore/Tidung (Maluku Utara). Dari interaksi inilah terbentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan Flores dengan jalur ekonomi antar pulau di kawasan timur Nusantara.

Baca juga :  Tenggelamnya Kapal O Arbiru, Dili - Bangkok 1973 di Perairan Maumere, Flores

Dalam ingatan masyarakat setempat, Pasar Go Lie Ting bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga ruang pertemuan sosial antara masyarakat lokal dan komunitas pendatang. Dari tempat-tempat seperti inilah hubungan sosial antara komunitas China Flores dan masyarakat setempat tumbuh secara alami selama puluhan tahun. Aktivitas perdagangan tidak hanya menciptakan hubungan ekonomi, tetapi juga melahirkan kedekatan sosial, pertukaran budaya, hingga hubungan kekeluargaan lintas generasi.

Namun sejarah China Flores sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah yang lebih besar di kawasan timur Nusantara, terutama hubungan mereka dengan komunitas China Timor. Flores dan Timor sejak lama berada dalam jalur perdagangan serta pengaruh kolonial Portugis yang saling terhubung. Karena itu, pola perkembangan komunitas Tionghoa di kedua wilayah ini memiliki banyak kesamaan. Bahkan dalam perjalanan sejarah sosialnya, tidak sedikit terjadi perkawinan lintas komunitas antara keturunan China Timor dan China Flores, yang semakin memperkuat jejaring kekerabatan dan hubungan sosial di antara keduanya.

Kajian mengenai China Timor pernah diteliti secara mendalam oleh Douglas Kammen bersama Jonathan Chen dalam buku China Timor: Baba, Hakka, and Cantonese in the Making of Timor-Leste, 2022. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa di Timor tidak berkembang sebagai kelompok yang terpisah, melainkan berproses menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat Timor Portugis dalam jangka panjang.

Dalam konteks kawasan yang lebih luas, pola interaksi seperti ini tidak hanya terjadi di Timor saja. Flores, sebagai bagian dari ruang sejarah yang sama dalam perdagangan dan pengaruh kolonial di kawasan tersebut, juga memperlihatkan dinamika yang serupa. Komunitas Tionghoa di Flores dan Timor berkembang melalui jaringan perdagangan pada masa kolonial di wilayah ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang, Hakka, Hokkien, Cantonese serta keluarga Tionghoa yang berakar secara lokal melalui proses panjang integrasi budaya dan perkawinan campur, kemudian perlahan membangun kehidupan baru di wilayah pesisir dan pusat-pusat perdagangan lokal.

Baca juga :  Pengaruh Portugis di Kabupaten Sikka   


Berbeda dengan komunitas Tionghoa di kota-kota besar Indonesia yang sering dipersepsikan lebih eksklusif, komunitas Tionghoa di Flores dan Timor justru berkembang dalam pola integrasi sosial yang kuat. Mereka menggunakan bahasa lokal, ikut serta dalam praktik budaya masyarakat setempat, serta membangun hubungan sosial yang erat dengan lingkungan sekitar. Banyak di antara mereka tidak lagi memandang Flores atau Timor semata sebagai tempat mencari nafkah, melainkan sebagai rumah sosial dan kultural mereka sendiri.

Hal ini terlihat jelas pada periode 1950-an, ketika di berbagai daerah Indonesia muncul tekanan politik terhadap komunitas Tionghoa pasca kemerdekaan. Di Flores dan Timor, banyak keluarga Tionghoa memilih menggunakan nama atau marga bercorak Portugis-Flores sebagai bentuk penegasan identitas lokal mereka. Pilihan tersebut bukan sekadar urusan administratif, melainkan juga mencerminkan rasa memiliki terhadap wilayah tersebut sebagai rumah mereka sendiri. Fenomena penggunaan nama Portugis-Flores ini juga menunjukkan kuatnya pengaruh sejarah kolonial Portugis di Flores dan Timor. Dalam masyarakat yang dipengaruhi tradisi Katolik serta budaya Portugis lokal, proses integrasi komunitas Tionghoa berlangsung lebih lentur dibandingkan di banyak wilayah lain di Indonesia.

Mereka tidak membangun tembok sosial yang kaku dengan masyarakat sekitar. Sebaliknya, mereka tumbuh dalam relasi yang cair, bergaul secara terbuka, mengikuti kehidupan sosial setempat, dan menjadi bagian dari dinamika masyarakat sehari-hari. Karena itu, banyak warga memandang mereka bukan sebagai “orang luar”, melainkan sebagai bagian dari masyarakat Flores itu sendiri. Kontribusi komunitas China Flores juga tidak berhenti pada perdagangan. Selama puluhan tahun, banyak keluarga China Flores aktif membantu kehidupan sosial masyarakat. Mereka terlibat dalam pembangunan Gereja, sekolah, kegiatan sosial, hingga bantuan kemanusiaan bagi warga yang membutuhkan.

Dalam masyarakat Flores yang menjunjung tinggi solidaritas dan kehidupan religius, keterlibatan seperti ini mempererat hubungan antara komunitas China Flores dan masyarakat lokal.
Seiring waktu, sebagian keluarga dalam komunitas keturunan Tionghoa di Flores mengalami mobilitas sosial dari aktivitas perdagangan lokal menuju jaringan usaha yang lebih luas, mencakup hubungan antarpulau hingga kota-kota besar di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Perkembangan ini juga diikuti oleh generasi berikutnya yang menempuh pendidikan dan berkiprah di berbagai bidang seperti usaha, pendidikan, hukum, kesehatan, dan profesi lainnya.

Komunitas ini berkembang dalam ruang sosial Flores secara berkelanjutan dan membangun relasi yang erat dengan masyarakat setempat. Dalam dinamika kehidupan sosial dan ruang publik di Flores, berbagai kelompok masyarakat, termasuk keturunan Tionghoa, turut menjadi bagian dari perkembangan daerah ini.

Baca juga :  Asal Usul Nama Kewapante

Dalam konteks yang lebih luas, sejumlah tokoh asal Flores telah berperan di tingkat lokal maupun nasional, termasuk dalam bidang keagamaan, pemerintahan, dan politik, seperti Mgr. Silvester Tung Kiem San dalam kepemimpinan Gereja Katolik sebagai Uskup Denpasar, Herman Herry yang pernah duduk sebagai anggota DPR RI, serta Eliaser Yentji Sunur yang pernah menjabat sebagai Bupati Lembata. Di luar itu, komunitas China Flores secara umum berkiprah dalam berbagai bidang profesi seperti anggota DPRD, pimpinan partai politik, pengusaha lintas negara, pengacara, notaris, dokter, akademisi, maupun berbagai profesi lainnya di tingkat nasional. Meskipun banyak yang merantau dan menetap di luar daerah, ikatan sosial, kultural, dan emosional dengan Flores tetap terjaga.

Tidak sedikit pula yang kembali memberikan kontribusi langsung bagi daerah asal melalui usaha, penciptaan lapangan kerja, serta dukungan terhadap berbagai kegiatan sosial masyarakat. Dalam banyak cara, mereka turut membawa nama Flores ke ruang yang lebih luas melalui jaringan ekonomi dan hubungan sosial yang mereka bangun. Kehadiran mereka dalam dunia politik, baik di tingkat lokal maupun nasional, juga mencerminkan perubahan penting dalam masyarakat Flores. Partisipasi publik kini tidak lagi semata ditentukan oleh latar belakang etnis, melainkan oleh kapasitas, kerja nyata, dan kedekatan dengan masyarakat. Hal ini menunjukkan tingkat integrasi sosial yang kuat, di mana hubungan yang dibangun melalui kerja, solidaritas, dan kedekatan kemanusiaan menjadi lebih penting dibanding sekat identitas.

Pada akhirnya, China Flores dan China Timor merupakan bagian dari mosaik besar sejarah Nusantara Timur. Mereka melewati masa kolonial, masa-masa sulit ekonomi, hingga era modernisasi, sambil terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Melalui perdagangan, jaringan sosial, dan kehidupan sehari-hari, mereka ikut membentuk denyut kehidupan masyarakat di Flores.

Banyak di antara mereka yang berhasil di luar daerah, namun tetap memandang Flores sebagai rumah. Karena itu, memahami sejarah Flores tanpa melihat kontribusi komunitas China Flores akan membuat gambaran tentang daerah ini menjadi tidak utuh. Mereka bukan sekadar pelaku ekonomi, melainkan bagian dari perjalanan sosial, budaya, dan bahkan politik Flores itu sendiri.

Dalam kesenyapan sejarah yang sering luput dicatat, mereka telah ikut membangun Flores selama ratusan tahun, menjadi penghubung antara lokalitas dan dunia luar, antara masa lalu dan perubahan zaman yang terus bergerak.

Komentar

Penulis : Fransisco Soarez Pati

Editor : Rio Nanto

Berita Terkait

Flores Barat di Luar Cengkeraman Portugis: Sejarah Kolonial dan Warisan Agama
Bubuk Mesiu di Pulau Flores Abad 15-16
Nama-Nama Orang Flores
Sepak Bola dan Flores
Asal Usul Nama Kewapante
Pengaruh Portugis di Kabupaten Sikka   
Tenggelamnya Kapal O Arbiru, Dili – Bangkok 1973 di Perairan Maumere, Flores
Jejak Portugis di Paga      
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 30 Januari 2023 - 23:16 WITA

Menalar Sikap Gereja terhadap Kaum Homosekual

Rabu, 8 Desember 2021 - 12:16 WITA

Misoginis Si “Pembunuh” Wanita

Jumat, 19 November 2021 - 11:45 WITA

Memahami Term ‘Pelacur’

Jumat, 20 Agustus 2021 - 16:04 WITA

Perempuan Korban Pelecehan Seksual Cenderung Bungkam, Mengapa?

Senin, 26 Juli 2021 - 12:57 WITA

Berpisah Dengan Pacar Toxic Bukanlah Dosa

Jumat, 23 Juli 2021 - 12:42 WITA

Bagaimana Peran Media Dalam Melawan dan Menghapuskan Kekerasan Terhadap Anak?

Jumat, 16 Juli 2021 - 16:27 WITA

Jejak Pelayanan Transpuan di Gereja Maumere

Jumat, 25 Juni 2021 - 17:34 WITA

Perempuan, Iklan dan Logika Properti

Berita Terbaru

Sejarah

China Flores: Jejak Panjang dan Integrasi Sosial

Sabtu, 16 Mei 2026 - 21:25 WITA

Sastra

Pantun Berlawanan dengan Puisi

Sabtu, 25 Okt 2025 - 16:31 WITA

Pendidikan

Kaum Muda dan Budaya Lokal

Jumat, 15 Mar 2024 - 19:27 WITA