Cerita Seorang Pembohong

- Admin

Sabtu, 22 Mei 2021 - 16:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Mari bung duduk manis sambil berpangku tangan dan bersila. Aku tahu otakmu sedang lelah dan lapar memikirkan kepastian cinta, harga diri, dan pekerjaan dalam hidup. Oleh karena itu, aku punya hidangan yang nikmat dan cocok buat otakmu yang lapar itu. Hidangannya adalah kebohongan.

Jadi begini, buat kalian yang hidup dalam kecemasan tentang itu semua, kuberitahu rahasia supaya kalian tidak perlu cemas lagi: berbohonglah.

Tidak percaya? Ini kisahku. Waktu SMA aku tak punya modal apa-apa buat menggaet wanita. Wajah sederhana dengan hidung pesek yang hemat oksigen dan tinggi yang pas-pasan membuatku lebih mirip seekor kutu. Kamu mau berpacaran dengan kutu? Nanti malah dibilang “lihat kutu busuk berkencan.” Aku kutunya kamu busuknya karena terus jadi korban bully.

Baca Juga : Bias Urban dan Desa sebagai Subjek Media
Baca Juga : Zen, sebuah Agama Baru?

Aku ini juga anak yatim piatu yang tak ditinggalkan warisan. Bisa kau bayangkan betapa susahnya hidupku. Menyantap sesuap nasi dengan sedikit bumbu mie instan yang ditemukan di jalanan ibarat sedang menikmati makanan ala restoran.

Predikat nasib hancur lebur semakin kuat karena otakku juga pas-pasan. Tidak enak dikatakan bodoh, ini soal sopan santun yang sudah basi. Lalu kalau sudah demikian siapa yang mau berpacaran denganku? Dengan kutu yang susah buat makan dan otak yang pas-pasan. Siapapun pasti tidak mau. Bahkan wanita yang senasib denganku juga tetap tak sudi. Namun, riwayatku ini hanya kau yang tahu ya. Jangan ceritakan pada orang lain.

Meski berpredikat hancur lebur, aku berhasil menggaet wanita. Kau kaget bukan? Ratna, wanita yang menjadi rebutan banyak orang dengan mudah jatuh di pelukanku. Wanita tajir dengan mata indah bola pingpong, hidung mancung seperti orang Eropa, bibir sensual, lalu bodi yang aduhai bakal buat siapapun akan menyesal untuk mengedipkan mata ketika dia lewat.

Baca Juga : Pernikahan Dini: Pandemik Yang Belum Juga Berakhir
Baca Juga : Cerita Wartawan di NTT Dapat Sinyal 4G di Pohon Jambu

Sayangnya, tak satupun dari mereka yang berhasil mendapatkan Ratna, bahkan untuk waktu sedetik. Kau tahu di mana letak kesalahannya? Mereka tidak pandai berbohong. Mereka terlalu jujur. Sok jujur maksudnya.

Bayangkan si Rinto anak petani miskin itu, dia merayu Ratna dengan katakan “Ratna, aku hanya punya cinta untukmu. Kita akan hidup dengan cinta.””

Memangnya waktu lapar kau akan makan cinta? Tidak. Camkan ini, kau harus kenyang dulu baru punya cinta. Hidup di dunia yang materialistis seperti sekarang, semuanya akan kalah dengan uang. Perasaan akan luluh ketika lengan menjinjing Dolce Gabana atau Gucci. Maka salah besar kalau kau merayu dengan imbalan cinta semata.

Baca juga :  Sebelah Utara Kota Karang

Lihat aku, sekali kukatakan “Ratna, aku suka kamu. Ini ada sedikit aksesoris untukmu. Tas yang kubeli dari Italia”, dia langsung jatuh di pelukan. Tidak perlu basa-basi. Aku suka kamu, ini ada oleh-oleh buatmu. Itu umpan yang paling ampuh buat memancing. Kalau kau memancing dengan umpan segulung cinta, sampai kiamat pun kau hanya akan memeluk harapan.

Dirimu pasti bertanya dari mana aku mendapatkan uang? Ya sederhana aku tinggal berbohong pada Ratna.  Aku ini tidak punya uang yang banyak apalagi buat beli barang-barang bermerek. Kubilang saja pada Ratna bahwa orangtuaku itu konglomerat. Suka bepergian ke luar negeri. Dan semua itu adalah oleh-oleh dari mereka.

Nyatanya uang buat membeli barang-barang itu adalah hasil curian dan memalak. Lalu kubelikan produk bajakan yang murah dengan sedikit modifikasi sehingga menyerupai merek asli.

Baca Juga : Media Siber dan Demokrasi di Era Milenia
Baca Juga : Wajib Tahu! Enam (6)Tahap Penting dalam Menulis

Nah sekarang bagaimana, gampang bukan buat menggaet wanita? Ayolah di zaman ini demi wanita, kau harus banyak-banyak berbohong. Demi wanita ya, bukan demi cinta dari seorang wanita. Tidak peduli bila belakangan cinta itu tumbuh, yang penting sekarang kau bisa dapat wanitanya.

Berbohong adalah kunci untuk mendapatkan cinta, eh wanita maksudku. Begitu juga kalau kau ingin dihargai, disegani, dan dikenang sebagai pahlawan. Berbohonglah. Masih belum yakin?

Setelah tamat sekolah dulu, aku menganggur. Ditolak sana-sini karena ijazah yang dipenuhi angka merah.

Dari pada terus hidup melarat di sini aku merantau ke negeri tetangga. Menyelinap di dalam peti ikan yang diselundupkan adalah tiket tumpangannya.

Hidup merantau di negeri tetangga itu susah. Untuk makan saja susah. Bahkan aku juga tidak boleh makan ikan ilegal dari negeri ini. Padahal itukan adalah hakku yang dijual. Namun kita tidak perlu berdebat lebih jauh soal ikan itu, karena pada akhirnya aku bisa makan ikan sepuasnya dengan berbohong.

Sesampai di negeri tetangga, aku berhasil masuk militer. Kubilang pada atasanku jika aku ini adalah seorang tukang pukul di sini. Tukang pukul elit-elit politik. Kukatakan bahwa tugasku adalah mengancam setiap orang yang mau membongkar kasus mereka.

Baca Juga : Sore Nanti, Kita ke Pantai
Baca Juga : Metafora Perang dalam Penanganan Covid

Dan atasanku itu menerimaku. Siapa tidak senang punya prajurit mantan tukang pukul yang sukses. Ya, bagi mereka aku sukses. Terbukti hingga saat ini tidak seorangpun elit politik di negeri ini yang tertangkap. Padahal atasanku tahu, ada banyak pelanggaran yang mereka lakukan, termasuk menyelundupkan ikan.

Baca juga :  Seratus Jam Mencari Sintus

Masuk militer berarti siap menerima konsekuensi, berdiri menantang maut. Lebih maut karena aku tidak punya bekal militer yang baik. Kau bayangkan seorang pengangguran yang hanya pernah menembak dengan ketapel dipercayai jadi komandan pasukan di medan perang.

Aku harus bertarung, berdiri di garis depan. Waktu itu sempat terpikir olehku “jangankan jadi pahlawan perang, untuk tetap bernafas saja mustahil.”

Tunggu dulu, kau jangan berpikir begitu juga. Ingat aku punya senjata ampuh: kebohongan. Dalam suatu perang sengit yang mempertaruhkan harga diri negara, hanya aku satu-satunya orang yang bertahan hidup.

Kulaporkan pada atasanku bahwa aku berhasil membunuh 100 orang, seorang diri. Entah dari mana ide itu, tapi aku punya saksi. Diriku sendiri. Karena hanya aku yang bertahan hidup. Dia pasti percaya apalagi aku juga seorang komandan.

Baca Juga : Mencintai Wanita dengan Tanda Lahir di Bibir
Baca Juga : Desa: Sentra Budaya dan Peradaban

“Pahlawan! Hidup pahlawan.” Setiap orang mengenangku demikian. Mereka menjadi hormat padaku. Dan itu semua kuperoleh dengan mudah. Memang mudah, karena aku tinggal berbohong.

Ya, jangan kau berpikir bahwa aku sungguh berhasil membunuh 100 orang. Sakti benar aku jika memang demikian.

Begini, kuceritakan kisah sebenarnya, tapi jangan kau beritahu siapa-siapa ya.

Saat itu kekuatan kedua pasukan seimbang. Banyak korban yang berjatuhan di masing-masing kubu. Pada akhirnya semua orang yang terlibat perang, mati karena kelelahan dan tertusuk timah peluru, kecuali aku.

Selama tujuh hari tujuh malam aku bersembunyi di balik puing-puing tank yang telah hancur. Kerjaku hanya tidur dan baru bergabung dengan pasukanku ketika terjadi gencatan senjata di malam hari demi sesuap nasi.

Enak bukan? Mereka yang mati, aku yang dikenang sebagai pahlawan.

Nah bagaimana? Mudah kan membuat kita dikenang sebagai pahlawan? Jika kau pandai berbohong, segalanya gampang kau gapai. Wanita, kehormatan, apalagi pekerjaan.

Terkait pekerjaan ini, kudengar ada satu yang hangat dibicarakan dan jadi rebutan banyak orang, jadi wakil rakyat. Karena kata mereka buat jadi wakil rakyat itu susah.

Pertama kau harus punya visi misi yang jelas. Kedua kau harus benar-benar punya rekam jejak yang baik sehingga dikenal dan disukai banyak orang.

Baca Juga : Zidane, Tuchel, dan Tuhan
Baca Juga : Korupsi dan Ketidakadilan Gender

Itu semua hanya omong kosong! Aku pernah jadi wakil rakyat dengan perolehan jumlah suara yang besar. Padahal aku ini miskin. Tidak tahu apa itu visi-misi, apalagi memilikinya.

Baca juga :  Sore Nanti, Kita ke Pantai

Aku juga seorang pengangguran, belum pernah terlibat langsung dalam kegiatan sosial demi kesejahteraan banyak orang. Memperjuangkan hidup sendiri saja susah. Bagaimana mungkin aku dapat memperjuangkan hidup orang lain? Omong kosong!

Namun aku punya taktik jitu: kebohongan. Menjelang hari-hari pemilihan, ketika banyak calon lain sibuk berkampanye, sibuk blusukan, sibuk sebar visi misi, aku memilih untuk masuk ke rumah-rumah orang miskin.

Bukan dengan tangan hampa, aku datang dengan amplop putih berisi beberapa rupiah dan secarik kartu nama. Orang susah mana yang tidak senang menerima uang? Mereka tidak mau makan visi-misi dan janji-janji.

Saat mereka lapar, mereka butuh uang buat membeli makanan. Itu kesan yang kudapat dari mereka. Mereka tidak peduli dengan janji-janji yang ditawarkan.

Rupanya mereka bosan lihat orang yang sudah duduk nyaman di kursi wakil rakyat, lalu lupa akan janji-janjinya. Kata beberapa kenalan, orang-orang lebih suka memilih aku yang “memberi bantuan konkret.”

Uang itu hanyalah korek telinga buat membuka telinga mereka yang bosan mendengar janji-janji manis. Setelah itu kukatakan pada mereka bahwa aku akan melawan semua oligarki dan investor-investor yang datang dan ingin menguasai lahan rakyat.

Baca Juga : Milenial dan Pendidikan Vokasi
Baca Juga : Kemenangan Barcelona di Mata Seorang Madridista Setengah Moderat

Karena uang, mereka mau dengar dan percaya. Kalau uang belum membuka telinga dan diri mereka, mana mungkin dipercaya, sebab sama saja dengan calon-calon lain yang penuh janji.

Gampang bukan? Tinggal berbohong. Berbohong pada rakyat. Kau pikir dari mana kudapat semua uang buat membuka telinga mereka agar mau mendengar dan mempercayai ucapanku? Ya dari investor dong.

Dan, semua pasti tahu kecuali mereka yang menerima uang itu kalau imbalannya adalah perampasan hak-hak milik rakyat. Tapi sudahlah itu urusan belakangan. Yang penting aku terpilih dahulu, punya kerjaan, hidup enak, dapat banyak uang.

Jadi begitulah bung. Kau akan temukan berbagai kemudahan dengan berbohong. Nah, sekarang aku yakin otakmu sudah kenyang. Kenyang oleh banyak kebohongan.

Hanya itu hidangan yang dapat kusajikan. Aku yakin kau suka, karena di zaman ini, selama kebohongan memudahkan hidup, pasti akan dilahap bulat-bulat.

Tapi tunggu dulu Bung, sebelum kau pergi melangkahkan kakimu lalu mengayunkan tanganmu lagi, aku ingin kau ingat bahwa aku ini seorang pembohong.

Dan boleh jadi aku sedang berbohong kepadamu ketika menceritakan kisah ini atau mungkin aku juga sedang berbohong ketika mengatakan bahwa aku ini seorang pembohong. Sekarang terserah kau, mau percaya yang mana.

Komentar

Berita Terkait

Lelaki Banyak Masalah
Teriakan-Teriakan Lia
Antara Hujan dan Air Mata
Sunset yang Hilang
Tanpa Tanda Jasa
Seratus Jam Mencari Sintus
Perempuan Tangguh
Kita adalah Sepasang Luka
Berita ini 100 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 19:07 WITA

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Minggu, 18 Februari 2024 - 16:18 WITA

Demokrasi dan Kritisisme

Jumat, 9 Februari 2024 - 18:26 WITA

Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?

Senin, 22 Januari 2024 - 20:58 WITA

Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit

Rabu, 3 Januari 2024 - 06:57 WITA

Independensi, Netralitas Media dan Pemilu 2024

Senin, 11 Desember 2023 - 17:44 WITA

Pemimpin: Integritas, bukan Popularitas

Jumat, 8 Desember 2023 - 17:01 WITA

Politik dan Hukum Suatu Keniscayaan

Jumat, 24 November 2023 - 15:03 WITA

Ketua KPK Memimpin Dengan Contoh; Contoh Korupsi

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA