Bola

Kemenangan Barcelona di Mata Seorang Madridista Setengah Moderat

Indodian.com, Ulasan ini ditulis ketika rekan kerja saya, dia mencintai Barcelona melebihi Joan Laporta dan Lionel Messi, memutar Mars Barcelona untuk keduapuluh tiga kalinya pada hari ini (Minggu, 18/04/2021). Itu perayaan yang pantas atas kemenangan spektakuler Barcelona beberapa jam sebelumnya.

Di pertengahan penulisan, saya berusaha dengan tingkat keseriusan maksimal melepaskan diri dari kenyataan bahwa dalam nadi saya mengalir cinta yang luar biasa pada Real Madrid. Tujuannya agar tulisan yang dihasilkan benar-benar objektif.

Tapi ternyata tidak bisa. Maka dalam judul ulasan ini terdapat satu unsur yang hampir serupa pengakuan dosa: “Kemenangan Barcelona di mata seorang Madridista.” Alasan penambahan dua kata terakhir akan ditampilkan pada bagian paling akhir nanti.

Baca Juga : Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja
Baca Juga : Catatan Pendek Pasca Pekan Berat Real Madrid

Profisiat untuk Barcelona dan seluruh penggemarnya di dunia, teristimewa mereka yang menghuni bentangan tanah dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Hari ini (Minggu, 18/04/2021) Barcelona bermain—maaf, melanggar tata bahasa Indonesia yang baik dan benar—dengan sungguh sangat, sangat, sangat indah dan luar biasa.

Beberapa waktu lalu, saya menulis bahwa bagi Barcelona, sepak bola adalah karya seni, serupa pertunjukkan teater di panggung seluas lapangan bola. “Barcelona adalah klub bola hebat yang menghayati sepak bola dengan segenap jiwa dan seluruh badan. Bagi Barcelona, sepak bola bukan hanya sekadar memindahkan bola dari kaki ke kaki sebelum menjaringkannya ke gawang lawan. Lebih dari pada itu, sepak bola merupakan sebuah karya seni: seni menggetarkan jala.”

(Sumber: Handout via Reuters, 2021)

Kita agak susah berbicara tentang Barcelona tanpa berbicara tentang keindahan mengolah bola. Menonton Barcelona berlaga hampir serupa dengan menyaksikan pertunjukan seni tari atau teater di panggung raksasa seukuran stadion sepak bola.

Baca Juga : Masyarakat Risiko, Terorisme, dan Kemanusiaan Kita
Baca Juga : Colin Crouch tentang Post-Demokrasi

Selanjutnya, dalam tulisan yang sama, saya menunjukkan bahwa klub bola (mereka menyebutnya lebih dari sekadar klub) bernama Barcelona selalu identik dengan keindahan itu sendiri. Dari segi namanya saja, Barcelona sudah indah.

Baca juga :  Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja

“Dalam jangkauan ruang pendengaran saya, ada tiga nama klub bola terindah sepanjang masa. Selain nama “Barcelona”, ada nama Fiorentina dan Atletico Ultramas. Klub bola terakhir ini berasal dari negara di ujung timur Pulau Timor: Republik Demokratik Timor Leste.”

Atas nama keindahan dan cinta yang luar biasa pada dunia sepak bola, saya mengakui bahwa Barcelona adalah satu-satunya yang pantas mengangkat Piala Copa del Rey musim ini. Untuk sampai pada laga final, mereka telah melewati perjalanan panjang dan pernah tersandung sebelum kemudian bangkit lagi (tidak seperti Madrid yang terjungkal di kandang klub kasta ketiga).

Untuk para pendukung, tidak perlu terlalu ambil pusing dengan cibiran-cibiran iri hati dari kami yang sering kalian sebut “tetangga sebelah.” Cibiran seperti, “Itu piala kasta kedua. Tidak usah terlalu lebay,” atau “Lawan di final bukanlah yang sepadan,” atau “hanya garing saat lawan klub kecil.” Tidak usah pusing dengan cibiran semacam itu. Itu hal biasa, biasa dalam sepak bola dan juga biasa kalian lakukan.

Baca Juga : Menikmati Wisata Kopi Detusoko
Baca Juga : Pengorbanan Melahirkan Kehidupan

Hari ini Barcelona adalah yang terhebat. Bukan hanya karena piala tapi terlebih karena gol dan proses-prosesnya yang menawan. Mereka menyimpan penampilan terbaik mereka di laga final. Laga yang digelar ketika mata dunia tertuju pada mereka (tidak terkecuali mata Madridista yang selalu menyimpan harapan Barcelona kalah).

Baca juga :  Menanti Xavi Hernandez yang Datang Saat Schadenfreude Terlanjur Menjadi Kewajiban Moral

Bermain di bawah tuntutan mutlak mengangkat piala kemenangan, Barcelona memanjakan mata kita dengan pertunjukan yang lebih dari sekadar partai final. Mereka menyajikan ruang imajinasi, impian, jagat raya petualangan, bakat, daya juang, kerja sama, soliditas—keindahan pada level tertinggi.

Cristiano Ronaldo membangkitkan antusiasme tapi lionel Messi membangkitkan kekaguman, tulis Luca Caioli dalam buku biografi Cristiano Ronaldo berjudul “Cristiano Ronaldo, The Obsession for Perfection.”

Dalam laga final Copa del Rey kali ini, melebihi laga-laga sebelumnya, Lionel Messi benar-benar membangkitkan kekaguman kita.

Menit 66’. Kapten Timnas Argentina itu berada di pinggir garis lingkaran tengah lapangan di area Barcelona. Mendapat sodoran bola dari belakang, sang messiah langsung meneruskannya ke Serginho Dest di sisi kanan. Bola sempat direbut pemain Athletic yang kemudian tanpa sengaja meloloskannya di antara kedua kaki Dest. Namun sayang bola justeru kembali ke Messi. 

Baca Juga : Merawat Simpul Empati
Baca Juga : Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Semuanya berawal dari situ. Messi berlari kencang di pinggir lapangan diikuti oleh tiga pemain Athletic. Solo run yang sangat mengagumkan. Beberapa meter sebelum memasuki kotak enam belas, dia menyodorkan bola ke De Jong.

Dengan satu gerakan cantik, mantan pemain Ajax Amsterdam itu memantulkan bola kembali ke Messi kemudian Messi mengembalikannya lagi pada pemain bernomor punggung 21 itu. Detik-detik itu De Jong sudah dikerumuni pemain bertahan Athletic.

Baca juga :  Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja

Namun dengan tenang dia menahan bola sekitar tiga atau empat detik. Tiga detik adalah waktu yang cukup bagi De Jong untuk membaca arah pergerakan Messi. Bola kemudian disodorkan beberapa meter ke ruang kosong di depan Messi yang secepat kilat memasuki kotak enam belas meter.

Kotak enam belas adalah tempat di mana tiga per empat pemain Athletic berkumpul. Di sekitar Messi ada lima orang pemain. Tapi ini Messi dan bagi seorang Messi itu bukanlah halangan yang berarti. Satu gerakan, satu tendangan dan satu gol. Anak-anak Seminari Mataloko bilang, “Messi ni bosss”

Hampir tak bisa dipercaya. Komentator pertandingan berteriak seperti orang gila. Dan saya yakin Cules di seluruh dunia juga berteriak. Sungguh suatu proses yang sangat mengagumkan. Gol itu adalah gabungan paling sempurna dari kecerdasan, ketepatan, kecepatan, kerja sama, feeling, dan naluri. Itu gol ketiga dalam laga ini.

Sepuluh menit setelah laga berakhir, seorang teman mengirimi saya tangkapan layar sebagian kecil proses gol Messi itu dan menulis, “Minimal sudah pula gelar musim ini. Tetangga kami belum tentu punya gelar.”

Kemudian saya buat tangkapan layar atas pesan itu dan menjadikannya story di whatsapp dengan caption, “Gelar yang hanya cocok untuk medioker.”

Sepanjang hari story-story di whatsapp hampir selalu tentang kemenangan Barcelona. Dan saya kemudian saya menulis lagi di whatsapp, sebuah olok-olokan yang memalukan, “1.1 Latar belakang: Hari ini media sosial dipenuhi warna merah-biru-kuning. 1.2 Rumusan Masalah: di manakah mereka pekan lalu?”

Ah, kapan seorang Madridista seperti saya ini bisa sepenuhnya moderat?

Penulis : Tommy Duang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button