Cerpen

Seratus Jam Mencari Sintus

Timoteus Rosario Marten

Indodian.com – Aku tak mengetahui apakah Bali itu punya kuda, kerbau, hutan, dan padang seperti hamparan luas di kampungku. Selama ini aku hanya mendengar tentangnya dari orang lain. Di sana banyak turis. Separuh anak muda dari kampung kami mengadu nasib ke sana. Begitu juga Sintus anakku yang tidak pernah berkabar sejak dua puluh tahun lalu.
Semenjak kepergiannya rumah ini belum ditempati karena atapnya belum rampung. Dia berjanji akan menyumbangkan sejumlah uang untuk membeli seng agar segera ditempati.
Aku dan keluarga kini tinggal di pondok kecil di ujung kampung, sehingga tampak oleh kami masyarakat desa tiap pagi ke kebun atau pergi menggembalakan sapi, kuda dan kerbau.
Balok dan tiang-tiang rumah nyaris lapuk. Aku tak punya harapan lagi selain Sintus.
Usiaku sudah uzur. Namun kabarnya tak terdengar alih-alih meminta sedekah darinya tuk sekadar membeli seng.
Terhitung puluhan kali aku ke kota Ruteng untuk meneleponnya melalui saluran interlokal. Namun apa daya sambungan interlokal tak pernah terkoneksi. Entah dia memiiliki telepon rumah ataukah memang jauh dari kota? Jangan-jangan terjadi apa-apa dengannya.
Sedangkan Beata istriku tak kuasa menampung air mata di sudut matanya bertahun-tahun. Semenjak Sintus yang lambaian tangannya ditelan jalan, perbukitan dan barisan gunung usai berpamitan, sejak saat itu Beata menampung air mata.
Tepat di akhir pekan pada minggu keempat bulan Januari aku punya ide. Segenap keluarga dikumpulkan. Sekadar meminta saran mereka, apakah aku dapat menyusul si Sintus melalui Kapal Motor Nusa Ular ke Pulau Dewata ataukah dibiarkan saja.
Setelah bersitegang antaranggota keluarga, kami pun bersepakat mencari si anak yang bikin rindu setengah itu.
Gazpar adalah adik sepupuku. Bapak empat anak ini cuma terpaut beberapa tahun denganku. Jiwa perantaunya terbentuk sebab setamat Sekolah Rakyat dia bekerja sebagai buruh kapal di Reo. Jadi, aku dapat mengandalkannya selama perjalanan hingga tiba di Pulau Para Turis nanti. Minimal kemampuan berbahasa Indonesianya bisa dimengerti meski dengan lidah patah-patah.
Malam ini kami berjaga hingga jago berkokok. O Tuhan, matahari mulai menampakkan kemuning di balik bukit. Aku meraih ransel dan memasukkan pakaian ala kadarnya. Kopi dan rebok tak lupa aku sertakan. Buah tangan ini akan menjadi kado istimewa bagi anak dan cucu-cucuku di sana.
Seluruh anggota keluarga menangis sejadi-jadinya meratapi kepergian kami. Betapa tidak, pelayaran ke pulau seberang akan membutuhkan waktu empat hari empat malam. Kami akan bermalam di lautan. Lagian, angin laut mengamuk tepat di awal bulan saban tahun.
Sesuai tradisi leluhur kami harus meninggalkan rumah pagi-pagi buta. Sebelum si raja siang menampakkan kemuningnya yang ceria kami sudah harus berjalan.
Berjalan kaki empat jam lamanya ke pelabuhan sungguh menguras tenagaku di usia senja ini. Beruntunglah gantian dengan Gazpar bila aku tak kuat menggendong ransel.
Bukit demi bukit kami susuri. Lembah dan ngarai kami terabas. Jalan setapak menjejak terus. Hingga tampaklah olehku ombak yang berguling-guling ketika matahari menikam kepala. Berkilauan.
“Itu sudah, kota yang kita tuju. Rumah-rumah berkilauan atapnya,” kataku sembari menunjuk ke arah laut.
“Hahae, itu bukan rumah. Itu adalah ombak yang berguling dan kebetulan disorot matahari,” kata Gazpar.
Obrolan sepanjang perjalanan membuat perjalanan kami tak terasa. Tibalah di pelabuhan. Dari kejauhan kapal merapat ke dermaga.
“Siap-siap naik sekoci,” kata Gazpar.
Aku pun menurutinya. Tak menghiraukan ombak, arus dan angin. Bagiku itu semua adalah nonsense. Asal kujumpa saja anakku.
Limbang tacik mbilar. Leles tana mese. Aku mabuk laut. Sisa mabuk empat hari empat malam masih kubawa hingga kapal sandar di pelabuhan.
Hari masih pagi ketika anak buah kapal membuang sauh. Satu per satu penumpang menjejali anak tangga. Tanpa berlama-lama kami menuju pusat kota dengan berjalan kaki. Demi mencari alamat si Sintus.
Tiap rumah kami singgahi. Sekadar menanyakan anakku. Kira-kira lima puluh rumah sudah kami sambangi, tapi tak ada yang mengenal dia.
Tengah hari sudah. Perut mulai berbunyi laksana tabuhan gendang dan gong tatkala sanda dan mbata tiap akhir tahun di kampungku. Keringat yang menganak sungai tak kami hiraukan lagi.
Tiba-tiba seorang pemuda dua puluhan tahun melintasi jalan raya. Tepat di depan kami di Jalan Ulu Wani, dia berhenti. Motornya segera menepi. Terheran-heran melihat dua orang tua yang tergopoh-gopoh ini.
“Ema!!”
Rupanya anak muda ini senang dan kaget melihat kami, yang memakai lipa songke dan destar. Jika tak memakai atribut identitas budaya, pemuda keriwil ini bisa saja berlalu saja tanpa suara.
“Kenapa sampai di sini?”
“Mencari anak kami. Puluhan tahun tidak memberi kabar.”
“Siapa namanya?”
“Sintus.”
“Apakah Bapa Tua mengetahui alamatnya?”
“Kami hanya mengetahui bahwa dia di Bali.”

Baca juga :  Perempuan Tangguh

Pemuda ini baik sekali. Dia lalu memboyong kami ke rumahnya segera setelah mengetahui kami kelelahan dan lapar. Dalam sekejap kami tiba di rumahnya. Dia mempersilakan kami minum es buah dan makan siang. Setelah itu dia bergegas ke gereja-gereja. Mencari tahu keberadaan anakku.
Menurut pemuda yang kemudian ku tahu berasal dari Utara ini, anak-anak rantau dari kampung kami aktif di paroki-paroki. Kita bisa menanyakan alamat mereka di sini.
Tanpa berlama-lama dua pemuda muncul di hadapanku. Dari balik jalan aku mengenal cara jalan dua anak muda ini. Aku mengenal potongan rambut keriwil dan kepala lonjongnya. Tinggi dan segala macam ciri fisiknya jelas terbaca. Bapak siapa yang tak mengenal darah dagingnya sendiri? Itu dia si Sintus. Aku butuh seratus jam untuk menemukan buah kasihku bersama Beata.
“Ole Bapa, kenapa tidak beri kabar terlebih dahulu?”
“Aku menginterlokal tapi tidak pernah tersambung,” jawabku diamini Gazpar.
“Baiklah. Mari kita ke rumah!”

Baca juga :  Kita adalah Sepasang Luka

Sepanjang perjalanan amarahku mendidih hingga meluap ketika tiba di rumahnya di kota Denpasar. Langsung saja aku menghardiknya dengan makian.
“Acu da’at! Kau lihat parang di tas. Itu untuk potong kau punya leher!!”
Aku tak menghiraukan lagi menantu dan cucu-cucuku. Muka mereka memerah dan menanggung malu.
Emosiku tak terkendalikan. Tak ada lagi yang bisa melerai kemarahanku. Aku seperti tidak waras lagi. Dengan sigap aku mengambil parang dari tas. Targetnya adalah batang leher si Sintus.
“Jangan!!! Jangan!!! Tolong!! Tolong!!”
Menantu dan empat cucuku berteriak sejadi-jadinya. Aku semakin gila. Gazpar tak lepas kendali. Dia melompat ke arahku. Merangsek parang yang nyaris mendarat di leher darah dagingku sendiri. Sintus selamat!
Anak ini tak bisa bicara lagi. Habis sudah kekesalannya. Dia merangkulku erat-erat seraya meminta maaf. Suasana mencekam tiba-tiba reda seperti udara pedesaan.
Kami pun sepakat berdamai. Sintus berjanji akan selalu memberi kabar dan meringankan beban keluarga di kampung halaman.
“Bagaimana kakak meloloskan parang sedangkan pemeriksaan di pelabuhan begitu ketat?” Gazpar bertanya dengan senda gurau.
“Aku menyimpan gereng di tas. Tuk sekadar mengelabui petugas. Mereka melihat parangku seperti dudukan ransel.”
Kemudian aku menceritakan kronologi kedatangan kami hingga tiba di Bali. Seisi rumah mendengar dengan saksama. Tawa membahana seisi rumah begitu mereka mengetahui, bahwa tujuanku ke sini semata-mata menagih janji Sintus. Alih-alih melepas rasa rindu.
Tadi aku tersulut emosi sehingga tidak menghiraukan darah dagingku sendiri yang didampingi istri dan anak-anaknya yang berdiri mematung.
Wajah polos mereka membuat naluri kebapakanku kembali normal. Aku juga meminta maaf. Bir dan rokok di depan mata. Artinya damai kami ada di sini. Matahari sore mulai menyembul dan kami bersama-sama ke Pantai Kuta. []

Baca juga :  Sepucuk Surat untuk Pengantin Perempuan

Jayapura, 2021
Selamat Hari Ayah Nasional di 12 November

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Artikel Terkait

Back to top button