Wajib Tahu! Enam (6)Tahap Penting dalam Menulis

- Admin

Minggu, 16 Mei 2021 - 12:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Selain terinspirasi oleh perjumpaan dengan buku-buku yang penulis baca selama ini, artikel ini juga termotivasi oleh pengalaman sejumlah sahabat yang mengalami kesulitan dalam menulis. Mereka mengatakan, niat dan inspirasi memang sudah ada, tetapi strategi dasar untuk menyajikan ide tersebut ke dalam sebuah tulisan, masih kabur. Hal ini tidak hanya dialami oleh para penulis pemula, tetapi juga oleh para penulis profesional.

Itu sebabnya, banyak penulis tidak mengalami perkembangan yang signifikan sebab mereka hanya menerima begitu saja (taken for granted) karya-karya yang sudah mereka hasilkan. Padahal, menulis merupakan suatu proses dialektis: selalu berdialog dengan diri, literatur, dan konteks. Lagipula, menulis selalu bersifat dinamis. Proses menulis mesti mampu menghidupkan wacana sekaligus menghadirkan wacana baru agar membuka kesadaran pembaca. Lantas, apa saja strategi dasar dalam menulis?

Tentu masing-masing kita memiliki trik dan strategi tersendiri dalam mengembangkan bakat menulis. Namun, seringkali kita melupakan prinsip-prinsip dan tahap-tahap penting dalam menulis, sehingga kualitas tulisan kita pun tidak berkembang dengan baik. Selain itu, bertolak dari keluhan para sahabat yang gagal mengikuti lomba menulis, strategi-strategi dasariah dalam menulis seringkali tidak diketahui. Memang setiap kita memiliki ide kreatif.

Namun, tanpa strategi penyajian yang baik, ide kita pun hanya bersarang di kepala, bukan di dalam sebuah tulisan. Dalam hal ini, menyajikan ide ke dalam sebuah tulisan ibarat menjajakan dan menyajikan segelas kopi di sebuah kedai kopi. Memiliki pengetahuan tentang komposisi racikan kopi saja belum cukup. Kita juga perlu mengetahui wadah apa yang tepat, sehingga para pengunjung atau pembeli merasakan kepuasan.

Sebab itu, bagi sahabat-sahabat yang ingin mulai menulis, enam (6) strategi berikut dapat menjadi penuntun. Tentu, masih ada begitu banyak strategi. Namun, tidak mungkin semua strategi itu dituangkan dalam tulisan itu. Agar lebih memadai, saya tidak perlu menguraikan kembali tips-tips yang sudah familiar bagi kita. Bagi para sahabat yang telah akrab dengan filsafat, strategi-strategi ini merupakan bagian penting dari actus philosophicus.

Apakah strategi-strategi ini berlaku untuk semua jenis dan bentuk karya tulis (cerpen, novel, opini/artikel ilmiah, puisi, dan sebagainya)? Hemat saya, kelima strategi berikut bisa berlaku baik untuk karya sastra maupun karya ilmiah. Strategi-strategi ini juga sangat bermanfaat untuk dijadikan pedoman dalam mengikuti lomba menulis.

Baca Juga : Sore Nanti, Kita ke Pantai
Baca Juga : Metafora Perang dalam Penanganan Covid

Inovasi (innovation)

Secara sederhana, inovasi berkaitan dengan suatu terobosan baru atau ide kreatif. Dari setiap tulisan, selalu dituntut suatu kebaruan ide. Namun, penulis juga harus menghindari adanya ide yang terlalu sempit atau terlalu luas. Jika, terlalu sempit, kualitas tulisan pun akan berkurang, demikian pun sebaliknya. Sebelum menentukan ide kreatif, kita perlu mengetahui persoalan apa yang akan kita bahas atau teliti.

Baca juga :  Generasi Serba Salah

Dalam artikel ilmiah, persoalan atau permasalahan ini biasanya muncul dalam pertanyaan ‘rumusan masalah’. Dari masalah tersebut, seorang penulis harus menentukan sikap dan kemudian membentuk gagasan kreatif-inovatif, sehingga mampu menghasilkan sebuah tulisan yang berkualitas. Dalam hal ini dituntut keaslian gagasan. Dengan kata lain, inovasi berkaitan erat dengan kemampuan penulis untuk merumuskan sikap intelektual secara independen tanpa meniru gagasan orang lain. Tentu, untuk menguatkan gagasan, seorang penulis dapat menggunakan sumber-sumber terpercaya.

Baca Juga : Mencintai Wanita dengan Tanda Lahir di Bibir
Baca Juga : Malia

Penalaran (reasoning)

Penalaran berkaitan dengan proses dan cara yang tepat dalam menuangkan ide kreatif ke dalam sebuah tulisan. Penalaran juga berkaitan dengan kelogisan tulisan. Untuk mengetahui penalaran ini, seorang penulis harus bisa menjawab pertanyaan: apakah saya merumuskan gagasan dengan pola umum-khusus (deduktif), pola khusus-umum (induktif), atau campuran (induktif sekaligus deduktif)? Hal ini dapat membantu penulis agar dapat menyajikan gagasan secara  sistematis dan terstruktur. Selain itu, strategi penalaran ini memungkinkan penulis untuk hanya berfokus pada hal-hal yang relevan dengan gagasannya. Dengan demikian, penalaran mencegah terjadi bias dalam menuangkan ide.

Dalam proses penulisan karya ilmiah, penalaran ini biasanya muncul melalui daftar isi tulisan. Pada saat mengerjakan skripsi, para mahasiswa biasanya dituntut untuk membuat atau menyusun proposal penelitian dan membuat garis besar isi tulisan (outline). Ibarat rancangan bangunan di tangan sang arsitek, outline ini merupakan panduan sekaligus daftar hal-hal penting yang perlu dihadirkan di dalam karya seorang penulis.

Dalam karya sastra, penalaran ini biasanya berkaitan dengan alur cerita (maju, mundur, atau maju-mundur). Penalaran dapat dianalogikan dengan sebuah perjalanan dari kota A ke kota B. Jika tersedia tiga buah pilihan untuk mencapai B, maka seorang pengendara sepeda motor hanya perlu memilih salah satu jalur.

Dalam perjalanan itu, ia harus bisa menentukan kapan ia menaikkan atau menurunkan kecepatan. Jika belum pernah melewarute A ke B, si pengendara, sekurang-kurangnya, bertanya ke orang-orang lain tentang bagaimana melalui rute tersebut. Demikian pun dengan proses menulis. Penalaran merupakan strategi untuk menentukan dinamika tulisan.

Baca Juga : Korupsi dan Ketidakadilan Gender
Baca Juga : Milenial dan Pendidikan Vokasi

Visualisasi (Visualization)

Visualisasi berkaitan dengan kemampuan untuk mengimajinasikan konteks pembaca, (atau penilai/juri jika Anda mengikuti lomba), kekuatan/kelemahan tulisan Anda, dan kemungkinan sambutan pembaca terhadap artikel tersebut. Dengan kata lain, visualisasi berkaitan dengan ‘perkiraan’ kekuatan tulisan Anda ketika dibaca oleh publik. Penulis harus bisa memvisualisasikan atau mengimajinasikan pengaruh karyanya terhadap dunia batin dan intelektual pembaca.

Jika alamat artikel atau tulisan Anda adalah para pembaca profesional, Anda harus memikirkan cara-cara yang tepat untuk menyajikan gagasan. Visualisasi juga berkaitan dengan kemampuan untuk memproyeksikan keterkaitan antarbagian dari tubuh tulisan. Misalnya, ketika mengangkat tema pendidikan, seorang penulis bisa memproyeksikan atau mengimajinasikan subbagian yang akan mendukung penjelasan tentang tema tersebut. Lazimnya, seorang penulis memvisualisasikan gagasannya dengan menuangkan poin-poin penting melalui memo yang meningatkannya untuk berkonsentrasi pada tema yang dipilih.

Baca juga :  Berani untuk Percaya Diri?

Baca Juga : Kemenangan Barcelona di Mata Seorang Madridista Setengah Moderat
Baca Juga : Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja

Sedimentasi (sedimentation)

Setelah menyelesaikan tahap visualisasi, langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh para penulis adalah tahap sedimentasi. Dalam ilmu geografi, sedimentasi merupakan suatu proses pengendapan material tertentu yang dibantu oleh air, angin/udara, dan gletser. Setelah melewati proses pengendapan yang cukup lama, material tersebut akan menjadi lebih halus dan padat.

Tidak berbeda jauh dari pengertian ini, dalam konteks menulis, sedimentasi merupakan proses pengendapan gagasan dan bagian-bagian penting yang berhubungan erat dengan gagasan tersebut. Istilah interiorisasi (pembatinan/interiorization) juga memiliki makna yang sama dengan sedimentasi. Proses pengendapan ini dimaksudkan agar gagasan penulis tidak terlalu sempit atau terlalu luas serta agar dapat dirumuskan secara tepat.

Melalui proses sedimentasi ini, penulis dapat mengantisipasi kekurangan yang terdapat di dalam karyanya. Biasanya, proses sedimentasi ini dilakukan jika penulis sudah memiliki ide kreatif dan garis besar isi tulisan. Dengan mengendapkan dan membatinkan gagasan tersebut, penulis benar-benar menjadikan gagasannya sebagai sesuatu yang akrab dengannya dan bisa merasakan kekuatan gagasannya.

Dalam proses penulisan karya sastra, sedimentasi/interiorisasi merupakan suatu proses fundamental yang tidak dapat diabaikan oleh setiap pengarang atau penyair. Sebab sebelum menyentuh dunia batin pembaca, karya itu sendiri harus terlebih dahulu ‘menyentuh’ batin penulisnya.

Lazimnya, setelah melalui tahap sedimentasi, penulis memulai membuat tulisan yang utuh dan lengkap. Namun, durasi waktu yang dibutuhkan masing-masing penulis untuk menghasilkan sebuah karya tulis biasanya berbeda-beda. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh kemampuan, tetapi juga disebabkan oleh intensi penulis sendiri.

Banyak penulis atau pengarang yang menulis sebuah karya dalam tempo waktu yang sangat lama, bahkan sampai belasan tahun. Meskipun demikian, ada juga karya-karya berkualitas yang dihasilkan hanya dalam hitungan menit. Hal ini kita temukan melalui diri Sapardi Djoko Damono. Ia menulis puisi Aku Ingin hanya dalam tempo waktu 15 menit!

Baca Juga : Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja
Baca Juga : Catatan Pendek Pasca Pekan Berat Real Madrid

Distansiasi (distantiation)

Setelah menulis keseluruhan artikel, penulis disarankan untuk tidak boleh langsung memublikasi tulisan tersebut. Demi menghasilkan sebuah tulisan yang berkualitas, seorang penulis perlu mengambil jarak (distansiasi) terhadap tulisan tersebut. Beberapa hal yang berkaitan dengan distansiasi, yaitu penulis memposisikan diri sebagi pembaca tulisan/artikel tersebut. Sebagai pembaca, apa yang Anda rasakan dan pikirkan ketika membaca tulisan tersebut? Ibarat pekerjaan seorang pemasak yang harus merasakan terlebih dahulu masakannya, demikian pun penulis.

Baca juga :  Pansos Boleh, Tapi Ada Batasnya

Dengan menjarakkan diri dari karyanya, seorang penulis mempersiapkan diri untuk menghadapi setiap bentuk kemungkinan yang akan terjadi. Jika karyanya bersifat investigatif (pelacakan kasus), pertanggungjawaban selalu dituntut dari penulis itu sendiri. Jika karya tulis itu untuk dilombakan, distansiasi membantu penulis untuk dapat mempersiapkan dirinya jika ia diminta untuk mempresentasikan tulisannya.

Baca Juga : Masyarakat Risiko, Terorisme, dan Kemanusiaan Kita
Baca Juga : Colin Crouch tentang Post-Demokrasi

Validasi (validation)

Validasi berkaitan dengan kesesuaian dan ketepatan artikel dengan kaidah metodologis, linguistik, dan teknis. Kaidah metodologis berkaitan dengan tata cara penyajian gagasan di dalam artikel. Penyelenggara lomba atau media pemublikasi tulisan, biasanya mencantumkan tata cara penulisan referensi atau sumber acuan (metode footnote atau bodynote), jenis artikel (esai, artikel ilmiah, atau ilmiah populer), dan struktur tubuh tulisan (pembuka, isi, dan penutup). Sementara kaidah linguistik berkaitan dengan struktur kebahasaan.

Jika seorang penulis hendak membuat esai, jenis dan struktur bahasanya juga bersifat ‘ringan’ atau mudah dicerna. Tentu, hal ini berbeda jika penulis membuat artikel untuk dimuat di dalam sebuah jurnal ilmiah. Kaidah teknis berkaitan dengan hal-hal teknis. Jika sebuah karya ditulis untuk dilombakan atau dikirim ke media massa atau media daring, seorang penulis perlu mengetahui jenis karakter, fonts (seperti Times New Roman), pemberkasan (PDF atau RTF), margin, dan spasi yang telah ditetapkan.

Validasi juga berkaitan dengan data, informasi, dan keterangan yang digunakan di dalam tulisan. Jika sebuah tulisan menggunakan metode penelitian kuantitatif (studi lapangan), maka penulis perlu mengecek konsistensi dan koherensi data dan analisisnya. Sementara  jika yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif (studi literatur), penulis perlu memerhatikan ketepatan informasi tentang literatur, konsep atau teori, dan tokoh pemikir yang dianalisis.

Hal ini untuk menghindari kekeliruan dalam menyajikan informasi. Banyak penulis pemula yang mengabaikan hal ini. Sebagai contoh, ada penulis yang menyebutkan bahwa puisi Aku Ingin adalah karya Kahlil Gibran, padahal yang sebenarnya adalah Sapardi Djoko Damono. Hal semacam ini sangat riskan terjadi. Jika kita tidak teliti, kita menjadi aktor disinformasi. Sebab itu, validasi informasi sangat penting.

Tentu, setelah melewati tahap-tahap atau proses-proses di atas, seorang penulis dapat mempublikasi tulisannya. Namun, penulis sendiri harus memiliki militansi dan optimisme dalam diri berkaitan dengan tulisannya. Dalam hal ini, dari setiap penulis dituntut ‘mentalitas pemenang’. Ini adalah energi yang memacu penulis untuk menulis dan mempersembahkan yang terbaik bagi publik pembaca.

Dengan demikian, ide kreatif yang telah berproses dalam tahapan-tahapan di atas tetap memerlukan sentuhan terakhir dari penulis sendiri, yaitu ‘kekuatan optimisme’ terhadap karyanya sendiri. Itulah dunia menulis. Penulis harus yakin dengan karyanya sendiri! Selamat menulis! Jadilah yang terbaik

Komentar

Berita Terkait

Generasi Serba Salah
Canggihnya Kamera Smartphone dan Raibnya Nilai Kepahlawanan
Menulis Menghidupkan yang Mati
Pansos Boleh, Tapi Ada Batasnya
Berani untuk Percaya Diri?
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 22:46 WITA

Seni Homiletika: Tantangan Berkhotbah di Era Revolusi Sibernetika

Berita Terbaru

Politik

Menanti Keberanian PDI Perjuangan Berada di Luar Pemerintahan

Selasa, 25 Jun 2024 - 08:31 WITA

Berita

SD Notre Dame Puri Indah Wisudakan 86 Anak Kelas VI

Jumat, 21 Jun 2024 - 12:13 WITA

Pendidikan

Menyontek dan Cita-Cita Bangsa

Jumat, 14 Jun 2024 - 10:52 WITA

Berita

SMP Notre Dame Wisudakan 70 anak Kelas IX

Kamis, 13 Jun 2024 - 18:26 WITA

Pendidikan

Sastra Jadi Mata Pelajaran

Rabu, 12 Jun 2024 - 20:39 WITA