Mencintai Wanita dengan Tanda Lahir di Bibir

- Admin

Minggu, 9 Mei 2021 - 13:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Tommy Duang

1

Daya-daya cinta itu serupa kekuatan magis yang bekerja melampaui hukum-hukum logika. Dengan tanda lahir di bibir bawahnya, F. mampu menerobos gerbang menuju hati laki-laki yang mengidam-idamkannya dengan sangat.

Baca Juga : Malia

Baca Juga : Desa: Sentra Budaya dan Peradaban

2

Saya tidak akan pernah melupakan hari ketika mengetahui ada tanda lahir di bibir bawahnya. Dia sedang bernyanyi, dalam sebuah layanan panggilan video, dan tiba-tiba sinyal internet di tempat saya ngadat. Panggilan itu terhenti ketika layar telepon genggam saya menampilkan wajahnya dan tanda lahir itu terpampang jelas.

Tanda lahir itu–orang-orang di tempat saya menyebutnya tahi lalat–bertengger anggun di sisi kiri bilah bibir bawahnya. Dengan cara yang agak mengherankan, tanda lahir itu seolah-olah menegaskan kecantikkan dan kecerdasannya.

Baca juga :  Misoginis Si “Pembunuh” Wanita

Baca Juga : Zidane, Tuchel, dan Tuhan

Baca Juga : Korupsi dan Ketidakadilan Gender

3

Saya menyukai kecerdasan, tawa, dan matanya yang bulat. Ngobrol berjam-jam dengannya memberikan kesejukan tersendiri–seperti minum es kelapa setelah memenangkan pertandingan final turnamen sepak bola.

Dia suka bernyanyi, dan bercerita, tentu saja berkat kecerdasan bawaannya dan terutama karena tanda lahir itu. Keinginan mengecup bibirnya saat dia bercerita dan bernyanyi, sulit  saya hindari.

Saya selalu tergoda mengatakan bahwa dia cantik, dan dia selalu bilang, “Sudah selayaknya perempuan itu cantik. Karena perempuan memang ditakdirkan untuk menjadi cantik.”

Baca juga :  Misoginis Si “Pembunuh” Wanita

Jawaban itu terdengar seperti ungkapan kerendahan hati orang cerdas—yang cantik.

Baca Juga : Kemenangan Barcelona di Mata Seorang Madridista Setengah Moderat

Baca Juga : Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja

4

Saya menyukainya dengan sangat—saya yakin F. tahu itu, sebab bagaimana pun juga dia seorang wanita cerdas yang pandai membaca intensi cahaya bola mata.

Lalu pada akhirnya pertahanan saya benar-benar runtuh: Saya mengakui telah jatuh cinta padanya. Itu salah satu dari sedikit kejujuran yang tidak akan pernah saya sesali sepanjang sisa hidup saya yang entah berapa lama lagi.

Baca juga :  Misoginis Si “Pembunuh” Wanita

Baca Juga : Catatan Pendek Pasca Pekan Berat Real Madrid

Baca Juga : Masyarakat Risiko, Terorisme, dan Kemanusiaan Kita

5

Kata orang, pintu masuk menuju hati wanita itu telinga, dan gerbang hati laki-laki adalah mata. Saya tipe laki-laki yang suka jatuh cinta pada kecantikan yang terekam mata.

Tapi, tanpa saya sadari, F. telah mengubah banyak hal dalam hidup saya, termasuk akses masuk ke hati. Malam ini, pertanyaan “Kaka apa kabar?”darinya telah menjadi lebih dari cukup untuk membuat saya tidur nyenyak.

Komentar
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA