Budaya

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Penulis : Dr.Adi M.Nggoro,S.H., M.Pd

Indodian.com – Tulisan ini mengeksplor konsep Bambu (betong/pering) dalam budaya Manggarai ke dalam tiga dimensi kehidupan manusia: saat manusia lahir, hidup/berkarya dan mati

Pertama, Manusia Lahir

Sejak manusia lahir, bambu dalam konsep orang Manggarai, dipandang sebagai simbol dan peran penting ketika detik-detik manusia lahir. Bambu digunakan untuk memotong tali pusat bayi yang baru lahir ( poro putes). Alat dari bambu untuk memotong tali pusat ini disebut lampek lima. Bambu yang berbentuk lampek lima adalah bambu kering yang diruncing menyerupai selebar dan panjang pisau. Namun yang khasnya adalah lampek lima tersebut terdiri dari lima sisi yang teruncing. Kelima sisi yang teruncing inilah sehingga disebut lampek lima.

Pertimbangan dari segi medis (kesehatan) mengapa lampek lima harus berasal dari bahan dasar bambu kering ( betong/pering dango), yang kuat (belum lapuk), dan juga tidak boleh bambu mentah yang barusan potong (betong ta’a), alasannya agar tidak terinfeksi setelah memotong tali pusat ( poro putes ).

Baca juga :  Tiga Unsur Pembentuk Kampung Adat di Ende Lio, Flores

Kedua, Manusia Berkarya

Beberapa multi peran bambu dalam versi Manggarai :

a. Sebagai kerajinan tangan antara lain: untuk perlengkapan membuat korong manuk (sarang ayam), membuat penampi beras nyiru (doku), membuat khas sebagai tempat simpan padi (lancing), membuat keranjang (roto), membuat campat (perangkap hewan di air), membuat nggepit (perangkap tikut), buat takaran beras ( _tongka), untuk timba air/simpan air ( gogong).

b.Sebagai pekerjaan pokok petani atau masyarakat. Hal-hal tersebut antara lain:
Untuk membuat pagar kebun ( pande kena uma), membuat gerbang kampung( kintal).

c.bambu digunakan untuk jembatan ( letang wae).

d. untuk bangun rumah ( pande mbaru),
pondok ( sekang).

Baca juga :  Nakeng Sabi, Tradisi Masyarakat Manggarai yang Mulai Hilang

e.untuk tangga memanjat menggali air enau ( rede pante tuak)

f. Bambu sebagai filosofi.

  • Kebijaksanaan: kalau mau jadi pemimpin, jadilah seperti bambu, semakin tinggi pendidikan, statusnya semakin bijaksana melihat keluhan masyarakat jelata (.betong eme tua gi, londek nggerwa tana).
  • Regenerasi kepemimpinan.

Eme mata betong asa mose waken nipu tae (kalau bambu tua mati, tetapi masih ada akarnya untuk tunas baru). Artinya, jika generasi terdahulu telah tiada, maka akan muncul generasi baru untuk melanjutkan nahkoda kepemimpinan baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat publik

Ketiga, Manusia Mati

Bambu juga dapat digunakan pada saat manusia meninggal ( mata/rowa). Adapun bagian acara kematian yang dapat menggunakan bambu adalah:

a. Untuk mengusung jenasah ke liang lahat ( rakang rapu).

b.untuk mbuat meriam/bedil ( pande bo). Biasanya bambu untuk meriam daat orang meninggal adalah bagi orang tua yang meninggal (berusia tua).tapi kalau yang meninggal anak-anak, bambu tidak digunakan.

Baca juga :  Asal-Usul Roh Halus Menurut Kepercayaan Asli Orang Manggarai

Jadi beberapa ulasan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa bambu bagi orang Manggarai tidak sekedar dipahami sebagai kerajinan tangan, atau untuk keperluan pertanian, tetapi bambu adalah hal fundamental dalam budaya Manggarai.
Seluruh dimensi hidup manusia: lahir, hidup/berkarya dan mati tak terpisahkan dengan peran bambu.

Meskipun kalau ada anak yang lahir di rumah sakit (tidak menggunakan lampek untuk memotong tali pusat), tetapi lampek lima itu ( lima sisi belahan bambu itu) tetap dimaknai dalam peristiwa kelahiran manusia yaitu misalnya acara ratung wuwung (menguatkan bubungan kepala) atau acara kelo one leso jemur di mata hari baru dilakukan setelah lima hari setelah bersalin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button