Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

- Admin

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Kisah Tuna (belut) sebagai penjaga mata air masih diyakini oleh sebagian besar orang Manggarai, NTT hingga hari ini. Jika seseorang menangkap tuna di mata air, maka sumber mata air akan mengering dan pelaku serta keluarganya akan mendapat musibah yang berkepanjangan.

Di kampung Wae Tua, Desa Golo Mangung, Kecamatan Lamba Leda Utara terdapat sebuah kolam. Namanya Tiwu Waso. Di sekitar Tiwu Waso ada tujuh mata air. Mata air inilah yang menjadi sumber air untuk irigasi Dampek. Dalam radius 200 meter ke utara dan ke selatan dari Tiwu Waso ada beberapa titik mata air, kurang lebih ada 7 mata air. Mungkin itulah sebabnya kampung itu dinamakan Wae Tua. Wae: air. Tua: muncul. Banyak air yang muncul di Wae Tua persis di dekat kampung.

Baca juga :  Aku Caci, Maka Aku Ada

Di tengah kolam persis di sisi timur ada mata air. Mata air ini muncul di antara batu gamping. Mata air ini memberikan kesan angker, karena ada keyakinan masyarakat bahwa ada penunggunya. Konon, cerita orang tua bahwa di sana ada tuna pendek di mulut mata air.

Baca juga :  Asal-Usul Roh Halus Menurut Kepercayaan Asli Orang Manggarai

Setiap warga takut untuk mendekat ke arah sumber mata air. Warga sekitar dan pengunjung hanya mampu melihat dari kejauhan. Kalaupun mendekat, biasanya menggunakan sampan yang terbuat dari beberapa batang pisang yang disatukan. Kata orang tua, kolam ini terkenal angker. Orang tua melarang setiap warga untuk menangkap sesuatu di mata air atau menebang pohon di atas mata air. Jika ada yang menangkap tuna (belut), maka yang bersangkutan akan mendapat musibah.

Baca juga :  Tiga Unsur Pembentuk Kampung Adat di Ende Lio, Flores

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan pergi ke kolam tersebut untuk melihat posisi mata air. Ada kesan angker ketika melihat air kolam yang tenang dengan beberapa deretan batu besar yang mengelilingi kolam tersebut. Di mulut mata air tampak tuna berwarna merah, berbentuk lonjong dan pendek. Masyarakat lokal meyakini bahwa tuna tersebut adalah penunggu dan penjaga mata air itu.

Komentar

Berita Terkait

Ivan Nestorman: Mempertahankan Identitas Musik Flores di Tengah Arus Modernisasi
Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai
Lingko dalam Festival Golo Koe  
Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT
Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai
Merayakan Hari Kasih Sayang
Aku Caci, Maka Aku Ada
Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA