“Utang Budi” Pater Thomas Krump, SVD

- Admin

Selasa, 22 Juni 2021 - 18:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pater Thomas Krump, SVD

Pater Thomas Krump, SVD

Indodian.com – Siapapun yang mengenalnya, hampir pasti tidak asing dengan akhiran “hemm” di setiap pembicaraan. Rambutnya yang putih dengan guratan-guratan halus, membuat mata saya ketika masih kecil, seperti disilaukan oleh pijar-pijar kebijaksanaan dari seorang bapak dan gembala. Namanya Pater Thomas Krump, SVD (87). Umat paroki yang digembalanya mengenal dengan sebutan Tuang Thomas atau Pater Thomas.

Usianya Tidak Muda Lagi

Buah cinta pasangan Doktor Yosep Krump dan Gisela Krump ini lahir di Budapest, ibu kota Hongaria, 14 Agustus 1934. Dia merupakan anak kedua dari enam bersaudara (tiga laki-laki, tiga perempuan). Pater Thomas mengenyam pendidikan dasar tahun 1939-1944 di Budapest, lalu mengungsi ke Austria. Ketika dia berusia 16 tahun, Hongaria sedang menghadapi revolusi yang dikenal dengan Revolusi Hongaria 1956, sebuah perlawanan terhadap intervensi kebijakan Uni Soviet.

Baca juga :  Kisah Seorang Istri yang Merawat Suami Gangguan Jiwa dan Dipasung Selama 12 Tahun

Revolusi berlangsung 23 Oktober sampai 10 November 1956. Tanggal 4 November, pasukan Uni Soviet berhasil menginvasi Budapest, dan perlawanan Hongaria berlanjut hingga 10 November 1956. Wikipedia mencatat 2.500-an warga Hongaria dan 700 serdadu Soviet tewas dalam konflik ini, dan 200 ribu warga Hongaria mengungsi.

Baca Juga : Kain Songke dan Kenangan tentang Ibu
Baca Juga : Kisah Yuliana Mijul, Gali Pasir dan Menenun Demi Menyambung Hidup Keluarga

Dalam catatan Misjonarz (pdf).nr 11/2009. hlm.23 (www.misjonars.pl) pemerintah komunis Hongaria menutup semua seminari, sehingga lulusan sekolah menengah melarikan diri ke Austria. Mereka bergabung dengan seminari Verbist di St. Gabriel dekat Wina. Dalam catatan “Kenangan 50 Tahun Pater Thomas Krump berkarya di Paroki Rejeng (2014, hlm.11) disebutkan bahwa Pater Thomas mulai studi di Seminari Menengah St. Rupertus Bisehofaholen pada tahun 1946-1954.

Baca juga :  Menyapa Aleksius Dugis, Difabel Penerima Bantuan Kemensos RI

Pada tahun 1954-1956, beliau melanjutkan formasi di Novisiat St. Gabriel Modling Wina dan selama lima tahun (1956-1961) menempuh studi filsafat dan teologi di Seminari St. Gabriel Wiena hingga ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Doktor Frans Yachym, 18 Maret 1961. Setelah ditahbiskan, dia tidak langsung ke Indonesia, tetapi menjadi Pastor Pembantu di Paroki Othenhofen dan Pastor Pembantu di Paroki Gerberau pada Maret hingga Agustus 1961.

Setahun kemudian, tepatnya Maret 1962, sang Misionaris menuju Indonesia dan tiba di Indonesia pada 4 April 1962. Sebagai misionaris, tentu dia tidak langsung ke tanah misi, sehingga pada Mei-September 1962, dia belajar bahasa Indonesia di Mataloko, Flores. Setelah kursus bahasa Indonesia di Mataloko, Pater Thomas tiba di Ruteng pada 17 September 1962. Pater Thomas ke Manggarai bersama seorang misionaris lainnya, Pater Frans Meszaros, SVD.

Baca juga :  Sebelas Tahun dipasung, Leksi Akhirnya Lepas Pasung dan Bisa Jalan Sendiri

Baca Juga : Berkomunikasi dalam Masyarakat Pasca-Kebenaran
Baca Juga : Kota dan Rindu yang Setia

Perlu diketahui bahwa pada tahun 1962, Pater Thomas masuk Manggarai bertepatan dengan pesta Kristus Raja Semesta Alam. Kala itu Pater ditempatkan di Wewo Satar Mese lalu ditugaskan di Paroki Todo sampai menjelang Paskah Tahun 1963. Pada tahun yang sama, Pater Thomas pindah ke Paroki Pacar. Tidak sampai satu tahun di Paroki Pacar, tahun 1964 pindah ke Paroki Rejeng hingga hari ini.  

Komentar

Berita Terkait

Milenial Promotor Literasi Digital dalam Spirit Keberagaman Agama
Kasus Pasung Baru di NTT Masih Saja Terjadi
Seandainya Misa Tanpa Kotbah
Gosip
Sorgum: Mutiara Darat di Ladang Kering NTT
Tanahikong, Dusun Terpencil dan Terlupakan di Kabupaten Sikka              
Qui Bene Cantat bis Orat (Tanggapan Kritis atas Penggunaan Lagu Pop dalam Perayaan Ekaristi)
Media dan Ilusi Netralitas
Berita ini 219 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 19:07 WITA

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Jumat, 9 Februari 2024 - 18:26 WITA

Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?

Selasa, 6 Februari 2024 - 19:06 WITA

Dari Ledalero untuk Indonesia: Menyelamatkan Demokrasi dari Jerat Kuasa?

Senin, 22 Januari 2024 - 20:58 WITA

Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit

Rabu, 3 Januari 2024 - 06:57 WITA

Independensi, Netralitas Media dan Pemilu 2024

Senin, 11 Desember 2023 - 17:44 WITA

Pemimpin: Integritas, bukan Popularitas

Jumat, 8 Desember 2023 - 17:01 WITA

Politik dan Hukum Suatu Keniscayaan

Jumat, 24 November 2023 - 15:03 WITA

Ketua KPK Memimpin Dengan Contoh; Contoh Korupsi

Berita Terbaru

Cerpen

Suami Kekasihku

Kamis, 18 Apr 2024 - 23:46 WITA

Pendidikan

Kaum Muda dan Budaya Lokal

Jumat, 15 Mar 2024 - 19:27 WITA

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA