Features

“Utang Budi” Pater Thomas Krump, SVD

Timoteus Rosario Marten

Indodian.com – Siapapun yang mengenalnya, hampir pasti tidak asing dengan akhiran “hemm” di setiap pembicaraan. Rambutnya yang putih dengan guratan-guratan halus, membuat mata saya ketika masih kecil, seperti disilaukan oleh pijar-pijar kebijaksanaan dari seorang bapak dan gembala. Namanya Pater Thomas Krump, SVD (87). Umat paroki yang digembalanya mengenal dengan sebutan Tuang Thomas atau Pater Thomas.

Usianya Tidak Muda Lagi

Buah cinta pasangan Doktor Yosep Krump dan Gisela Krump ini lahir di Budapest, ibu kota Hongaria, 14 Agustus 1934. Dia merupakan anak kedua dari enam bersaudara (tiga laki-laki, tiga perempuan). Pater Thomas mengenyam pendidikan dasar tahun 1939-1944 di Budapest, lalu mengungsi ke Austria. Ketika dia berusia 16 tahun, Hongaria sedang menghadapi revolusi yang dikenal dengan Revolusi Hongaria 1956, sebuah perlawanan terhadap intervensi kebijakan Uni Soviet.

Baca juga :  Kisah Yohanes Rongga, Kaum Difabel yang Mendapat Bantuan dari Kemensos RI

Revolusi berlangsung 23 Oktober sampai 10 November 1956. Tanggal 4 November, pasukan Uni Soviet berhasil menginvasi Budapest, dan perlawanan Hongaria berlanjut hingga 10 November 1956. Wikipedia mencatat 2.500-an warga Hongaria dan 700 serdadu Soviet tewas dalam konflik ini, dan 200 ribu warga Hongaria mengungsi.

Baca Juga : Kain Songke dan Kenangan tentang Ibu
Baca Juga : Kisah Yuliana Mijul, Gali Pasir dan Menenun Demi Menyambung Hidup Keluarga

Dalam catatan Misjonarz (pdf).nr 11/2009. hlm.23 (www.misjonars.pl) pemerintah komunis Hongaria menutup semua seminari, sehingga lulusan sekolah menengah melarikan diri ke Austria. Mereka bergabung dengan seminari Verbist di St. Gabriel dekat Wina. Dalam catatan “Kenangan 50 Tahun Pater Thomas Krump berkarya di Paroki Rejeng (2014, hlm.11) disebutkan bahwa Pater Thomas mulai studi di Seminari Menengah St. Rupertus Bisehofaholen pada tahun 1946-1954.

Baca juga :  Kisah Jurnalis di Manggarai Timur yang Setia Melayani ODGJ

Pada tahun 1954-1956, beliau melanjutkan formasi di Novisiat St. Gabriel Modling Wina dan selama lima tahun (1956-1961) menempuh studi filsafat dan teologi di Seminari St. Gabriel Wiena hingga ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Doktor Frans Yachym, 18 Maret 1961. Setelah ditahbiskan, dia tidak langsung ke Indonesia, tetapi menjadi Pastor Pembantu di Paroki Othenhofen dan Pastor Pembantu di Paroki Gerberau pada Maret hingga Agustus 1961.

Setahun kemudian, tepatnya Maret 1962, sang Misionaris menuju Indonesia dan tiba di Indonesia pada 4 April 1962. Sebagai misionaris, tentu dia tidak langsung ke tanah misi, sehingga pada Mei-September 1962, dia belajar bahasa Indonesia di Mataloko, Flores. Setelah kursus bahasa Indonesia di Mataloko, Pater Thomas tiba di Ruteng pada 17 September 1962. Pater Thomas ke Manggarai bersama seorang misionaris lainnya, Pater Frans Meszaros, SVD.

Baca Juga : Berkomunikasi dalam Masyarakat Pasca-Kebenaran
Baca Juga : Kota dan Rindu yang Setia

Baca juga :  Belajar dari Ketajaman Pendengaran Kaum Difabel

Perlu diketahui bahwa pada tahun 1962, Pater Thomas masuk Manggarai bertepatan dengan pesta Kristus Raja Semesta Alam. Kala itu Pater ditempatkan di Wewo Satar Mese lalu ditugaskan di Paroki Todo sampai menjelang Paskah Tahun 1963. Pada tahun yang sama, Pater Thomas pindah ke Paroki Pacar. Tidak sampai satu tahun di Paroki Pacar, tahun 1964 pindah ke Paroki Rejeng hingga hari ini.  

1 2 3Laman berikutnya

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Artikel Terkait

Back to top button