Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

- Admin

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Jika kita bertanya, bagaimana kondisi kebudayaan kita saat ini? Jawabannya tunggal: at  death’s door. Mengapa? Jati diri kebudayaan kita yang religius dan humanis serta  memiliki peradaban cukup tinggi di dunia, ternyata mencatat banyak peristiwa “penyimpangan”.  Seperti kita saksikan di layar televisi, di surat kabar, medsos yang menyuguhkan berita-berita, seperti tutur kata,  tingkah laku, moral kita, perangai kita, yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan serta etika peradaban bangsa kita. Dalam kondisi yang demikian “chaos” akan memunculkan    “kebudayaan baru ” yang disebut  “quasi culture”,   yang berdampak pada jati diri kebudayaan kita mengalami kerapuhan.

Baca juga :  Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Demikian  rapuhnya kebudayaan kita, setidaknya berbagai sebab kemungkinan berikut ini. Pertama, munculnya  kesenjangan atau terputusnya hubungan antargenerasi budaya dapat membawa akibat runtuhnya peradaban perkembangan kebudayaan, oleh karena itu kehidupan kita  saat ini dan ke depan  diperkirakan tidak mempunyai akar sejarah dengan peradaban masa lampau yang religius dan humanis.

Kedua, warga bangsa kita saat ini  semakin menipis perasaan kolektif  dan telah mengalami disharmoni.  Kurang menghargai musyawarah atau konsensus dalam mengelola kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menyelesaikan masalah dengan mengabaikan dialog, hal demikian   tidak sesuai dengan jati diri kebudayaan kita yang religius dan  humanis.  “Kekerasan” adalah semacam ideologi baru yang nota bene tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan yang secara sah memiliki monopoli atas perangkat kekerasan  (organized violence), melainkan telah dilakukan pula oleh masyarakat kebanyakan.

Baca juga :  Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Ketiga, tidak dapat dipungkiri bahwa proses dinamisasi dan peningkatan, kreativitas terjadi pula di kalangan masyarakat. Masyarakat  dihadapkan pada tantangan kehidupan sehari-hari yang serba sulit, sehingga mau tidak mau harus berusaha untuk survive, ditambah lagi suatu kemungkinan terjadinya involusi kebudayaan, yaitu kencendrungan sebagian masyarakat semakin eksklusif.

Keempat, dengan perubahan yang begitu cepat dapat menyebabkan timbulnya gejala disorientasi  kultural,  yakni lapisan     dalam  kebudayaan kita “ethico-mythical nucleus” yang merupakan  central point of reference, telah mengalami kematian, seperti: moral, peradaban, etika. Dalam  masyarakat luas telah terjadi  penyimpang etika dan moral yang serius, mulai dari rumah tangga sampai kantor pemerintah, kecenderungan mudah terjadi tindakan balas dendam. Demikian pula halnya di sekolah sebagai lembaga penanaman nilai dan iman telah mengalamai  anomali.

Baca juga :  Cerita Tuna Penjaga Mata Air

Dalam arus kuat   perubahan saat ini kita dihadapkan dengan beberapa pertanyaan yang substansial, sanggupkah kita merevitalisasi  jati diri kebudayaan kita? Ataukah dibiarkan begitu merana? Masihkah  moral bangsa kita mempunyai fungsi dan berperan sebagai “ benteng”  terhadap perubahan yang keliru?

Komentar

Berita Terkait

Ivan Nestorman: Mempertahankan Identitas Musik Flores di Tengah Arus Modernisasi
Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai
Lingko dalam Festival Golo Koe  
Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT
Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai
Merayakan Hari Kasih Sayang
Aku Caci, Maka Aku Ada
Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air
Berita ini 822 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA