Kota dan Rindu yang Setia

- Admin

Sabtu, 12 Juni 2021 - 11:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Di kota ini sehabis hujan, Desember yang lalu. Di kota ini dalam ruangan berpenyejuk udara. Kau dan wangimu bersanding dengan riuh angin di luar.

Indodian.com – Saat pertama berjumpa dengan Samwel, Alina tidak pernah membayangkan kalau sebagian besar waktu di masa mudanya akan dihabiskan untuk meratapi masa lalu dan kenangan-kenangan yang bercokol di sana. Saat dia sedang cinta secinta-cintanya, Samwel pergi tanpa pamit, menghilang bagai embun diterpa matahari pagi.

Kenangan tentang dia, lelaki yang pandai bikin nyaman itu, mungkin akan selamanya membekas di kepala, di hati, dan di sekujur tubuh: Alina tidak berniat menghapusnya.

Setelah tiga tahun berlalu, hatinya tetap bergeming, tidak mau mencintai seorang lain, mungkin seorang lelaki lain yang jauh lebih baik, lebih tampan, dan lebih mapan: karena masih berharap Samwel kembali, seperti dalam syair-syair lagu itu, dan juga yang lebih menyedihkan, takut dia sakit hati bila Alina kemudian memberikan hatinya untuk lelaki lain.

Dari sekian banyak kenangan yang tak terlupakan, Alina paling suka, walaupun akan sangat menyakitkan, membayangkan pertemuan terakhir mereka, satu minggu sebelum lelaki itu pergi meninggalkan sekian banyak luka.

Hari itu, hari-hari terakhir di bulan Desember, hari-hari ketika seluruh kota dihiasi ornamen natal dan hujan turun dengan derasnya. Lagu-lagu natal menggema dari seluruh sudut kota berhujan itu dan untuk alasan-alasan yang agak aneh, Alina menghidupkan pendingin udara di dalam kamar kos berukuran tidak lebih dari empat kali empat meter itu.

Baca Juga : Menjadi “Gentleman”?: Silang Pendapat Locke dan Rousseau tentang Pendidikan
Baca Juga : Cerita Pensiunan Guru di Pelosok NTT yang Setia Mendengarkan Siaran Radio

Sambil mendendangkan lagu natal, Alina menyeduh kopi. Senyum di bibirnya merekah indah ketika sereguk kopi hangat itu terasa pas di lidah. Ia mengatup kelopak mata, membiarkan sensasi kenikmatan itu mengalir ke seluruh tubuhnya, lalu tersenyum lagi.

Dituangnya ke dalam dua gelas berbeda dan mereka-reka dalam hati ekspresi wajah Samwel saat ber-ah puas ketika regukan pertama kopi itu membasahi tenggorokannya.

Di luar hujan perlahan membesar dan angin menghantam jendela kaca. Samwel menyeruput kopi itu, perlahan-lahan menikmati setiap detiknya, ber-ah puas dan mengatakan bahwa segelas kopi akan selalu terasa nikmat, apalagi menyeruputnya saat hujan dan angin menderu-deru di luar.

“Kamu memang pandai bikin kopi.”

“Sudah dari dulu.”

Alina tersenyum manja dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang laki-laki itu. Dia suka menghirup harum tubuh Samwel, satu jenis bau yang menenteramkan hati, sangat maskulin dan hanya bisa terkuar dari tubuh lelaki dengan tingkat kematangan kepribadian tertentu. Dia ingin selamanya berada dalam pelukan laki-laki itu, selamanya ingin merasa nyaman dan terlindungi.

“Cium aku,” Alina mengatupkan kedua kelopak matanya dan merasakan jantungnya berdetak makin cepat, “di kening.”

Samwel melingkarkan kedua tangannya yang kuat pada tubuh Alina dan menariknya dengan satu gerakan yang sangat hati-hati, terukur, dan tentu saja, halus, dengan sedikit paksaan yang samar.

Tidak ada lagi jarak di antara mereka dan wangi khas Samwel semakin membuat jantung Alina berdetak tak karuan. Ia merasakan kehangatan yang menenteramkan menjalar di sekujur tubuhnya, terlebih ketika kedua bilah bibir Samwel mendarat tepat di keningnya.

Baca juga :  Teriakan-Teriakan Lia

I love you.

I love you more, Sam.”

***

Udara mana kini yang kau hirup? Hujan di mana kini yang kau peluk? Di mana pun kau kini. Rindu tentangmu tak pernah pergi.

Selain ayah dan saudara-saudaramu, semua laki-laki itu babi. Samwel sering mengulang-ulang kalimat itu saat bersantai-santai berdua dengan Alina, entah untuk berkelakar, entah untuk mengingatkan secara samar-samar.

“Saya percaya, Nana tidak seperti itu.”

Alina selalu percaya, kata-kata adalah doa. Hatinya marah dan terluka setiap kali Samwel membisikkan kalimat itu ke telinganya dan ingin sekali mengatakan bahwa memang semua laki-laki itu babi, tentu saja selain ayah dan keempat kakak laki-lakinya, tapi dia takut kata-katanya berubah menjadi doa, lalu Samwel benar-benar menjadi seperti babi.

Baca Juga : Urgensi Penelitian Sosial terhadap Pembentukan Kebijakan Publik
Baca Juga : Asal-Usul Roh Halus Menurut Kepercayaan Asli Orang Manggarai

Dia sangat mencintai laki-laki itu, dan seperti semua perempuan yang sudah jatuh cinta dan merasa nyaman, dia tidak mau apa-apa yang buruk menimpah pria pujaannya itu.

Dan memang benar, kata-kata adalah doa. Setiap doa memiliki kekuatan untuk mengabulkan permohonan-permohonannya sendiri.

Suatu hari, Samwel benar-benar menjadi seperti babi; dia mengkhianati cinta Alina, pergi dari kota berhujan itu untuk bertunangan dengan seorang perempuan lain yang telah diam-diam dipacarinya sejak tahun pertama berpacaran dengan Alina.

Itu terjadi tiga tahun lalu, menjelang tahun baru. Tidak lama kemudian, mereka, Samwel dan perempuan itu, resmi bertunangan, kedua keluarga besar dikumpulkan, pastor diundang untuk memberkati cincin pertunangan, dan secara adat keduanya diikat menjadi sepasang suami isteri.

Selain suka bercanda tentang laki-laki dan babi, Samwel juga suka bermain-main dengan cincin dan jari manis tangan kiri Alina. Dalam saat-saat kesendirian mereka, keduanya suka saling melingkarkan cincin di jari manis tangan kiri.

“Suatu hari nanti, saya akan melakukannya di hadapan kedua keluarga besar kita.”

“Hahaha gombal.”

Dalam mimpi yang paling buruk sekali pun, tidak pernah Alina bayangkan kalau setelah terlatih memasang cincin di jarinya, Samwel akan menggunakan kemahiran itu untuk memasangnya pada jari perempuan lain, dalam pertunangan yang resmi di hadapan pastor dan kedua keluarga besar.

Baca Juga : Kisah Seorang Difabel di Wodong yang Sukses Jadi Kepala Tukang
Baca Juga : Urgensi Pendidikan Pancasila di Era Milenial

Tapi memang itulah yang terjadi. Samwel melingkarkan cincin pertunangan itu di jari manis kekasih barunya, tepat seperti yang sering ia lakukan berdua dengan Alina.

Saat itu, saat ketika cincin itu telah melekat di jari, saat ketika Samwel membisikkan “Suatu hari nanti, saya akan melakukannya di altar Tuhan kita,” ke telinga tunangannya itu,  Alina bergelung tanpa keinginan untuk hidup di atas kasur di kamar kosnya sambil mengutuk pendingin udara di kamar penuh kenangan itu.

Kini, setelah tiga tahun berlalu, Alina masih suka bergelung dengan cara yang sama, di atas kasur yang sama, dengan pendingin ruangan yang sama, juga di kamar dengan kenangan yang sama pula.

Baca juga :  Sebelah Utara Kota Karang

Hatinya masih enggan berpindah. Tetap bergeming, bertahan pada cinta dan luka yang sama, membiarkan dirinya terkubur di kota itu, dengan hujan dan pendingin ruangan yang sama, sementara di suatu tempat di kota berhujan yang lain, janur kuning siap melengkung.

***

Di jalan ini, menguning langit, berkendara denganmu. Wajah mentari menghembus pelan bening teduh matamu. Kau dan wangimu berpaduh utuh. Tabungan kelak rindu.

Mereka pertama kali bertemu beberapa tahun lalu di taman wisata Wolobobo. Samwel yang saat itu terbius dunia fotografi, mengunjungi Wolobobo untuk mengabadikan keindahan tempat itu dalam kamera barunya.

Gunung Inerie yang diselimuti awan putih bagaikan gumpalan kapas raksasa menjulang tinggi di hadapannya. Udara dingin dan agak basah menghembus kencang disertai rinai gerimis. Jauh di bawah sana, di kaki Inerie, padang rumput membentang luas.

Baca Juga : Jacques Ellul tentang Masyarakat Teknologis
Baca Juga : TWK dan Skenario Pelemahan KPK

Sore itu, seperti pada sore-sore Minggu yang lain, banyak wisatawan lokal mengunjungi tempat itu: untuk bersenang-senang, menikmati keindahan alam, menyegarkan pikiran, mengisi ulang energi untuk pekan yang akan tiba, atau hanya sekadar untuk cuci mata.

Samwel mencurahkan seluruh perhatian pada kamera barunya, membidik sana-sana, melihat-lihat hasilnya dengan serius, menghapus beberapa foto yang kurang bagus, dan tersenyum puas untuk jepretan yang sempurna, lalu kemudian memotret lagi.

Tanpa sengaja, kameranya menangkap satu subjek foto yang tidak bisa dilewati begitu saja. Seorang perempuan—dengan rambut sebahu, kulit kuning langsat, mata sebulat bola pingpong, senyumnya tipis tapi manis dan mengenakan kaos hitam bertuliskan satu kalimat bahasa Manggarai berbunyi “Neka poli kat le lelo, cakar ata mesen” dengan rumus-rumus matematika bertebaran di bawahnya—berdiri anggun membelakangi Gunung Inerie.

Sungguh suatu hasil bidikan kamera yang luar biasa sempurna. Mata laki-laki Samwel langsung bekerja. Perempuan ini cantik, sangat cantik. Kecantikan itu dipertegas oleh cahaya, entah cahaya apa, yang seakan-akan terpancar dari kedalaman bola matanya yang indah. Mata dan hati Samwel tersedot.

Baca Juga : Tuhan dalam Tiga Unsur Rumah Adat Ende Lio
Baca Juga : Berani untuk Percaya Diri?

Sejenak dia tersenyum puas, gambar itu benar-benar luar biasa: hasil dari teknik bidik yang tepat, kamera yang bagus, dan subjek foto yang indah. “Tidak,” kata Samwel pada dirinya sendiri, “gambar ini luar biasa hanya karena satu hal. Kecantikan perempuan ini. Tidak butuh kamera yang bagus dan teknik fotografi mumpuni untuk merekam kecantikan seorang perempuan.”

“Ade, sini dolo” Samwel berlari kecil menghampiri perempuan berkaos hitam itu sambil melambai-lambaikan tangan. Perempuan yang dipanggil itu sedikit kaget lalu menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa dirinyalah yang dipanggil.

“Ada apa Kaka?”

“Lihat ini,” Samwel menunjukkan foto itu. Perempuan itu memiringkan kepala dan tersenyum, masih setipis senyuman dalam foto, wajahnya menunjukkan ekspresi puas, gembira, sedikit malu-malu, dan seolah-olah tidak percaya kalau dia secantik itu.

“Kaka, saya bisa minta foto ini?

Samwel merogoh kantong celana dan mengeluarkan telepon genggamnya. “Minta nomor WA. Sebentar saya kirim.” Perempuan itu menyebutkan dua belas digit nomor.

Baca juga :  Seratus Jam Mencari Sintus

“Ade dari mana?”

“Dari Ruteng, Kaka.”

“Nama siapa?”

“Alina. Kalau Kaka?”

***

Udara mana kini yang kau hirup? Hujan di mana kini yang kau peluk? Di mana pun kau kini. Rindu tentangmu tak pernah pergi.

Foto itu dibingkai dan digantung pada dinding kamar kos Alina, di antara foto ayah dan ibunya yang juga dibingkai dengan bingkai foto yang serupa. Setiap kali merindukan Samwel, Alina suka memandang foto itu berlama-lama, mencopotnya dari dinding dan mendekapnya ke dada.

Kadang foto itu juga menyiksa hatinya dengan sangat. Tidak jarang ia menangis sambil mengutuk foto itu beserta momen dan kenangan yang bercokol di dalamnya. Air matanya menetes, seringkali tanpa disadarinya, ketika ia mengingat lagi bagaimana hatinya berbunga-bunga saat pertama kali melihat foto itu.

Baca Juga : Apa yang Anda Ketahui tentang Kebenaran?
Baca Juga : Reformasi Dikorupsi dan Gerakan Kaum Muda Progresif

Juga saat-saat indah ketika Samwel menyatakan cintanya, dua bulan setelah perjumpaan di Wolobobo. Mereka berpacaran kurang lebih selama tiga tahun, sebelum Samwel menghilang bagai pencuri.

Benar kata orang, cinta pertama sulit dilupakan. Samwel adalah cinta pertama Alina, cinta pertama dalam arti yang sebenarnya. Sebelum Samwel, Alina memang pernah berpacaran dengan satu dua temannya di sekolah menengah, tapi tidak pernah benar-benar merasakan cinta.

Samwel adalah laki-laki pertama yang menaklukkan hati Alina dan membuatnya mengalami betapa indahnya cinta. Dia pulalah yang pertama mematahkan hati perempuan itu dan menorehkan luka yang sedalam-dalamnya.

Tiga tahun telah berlalu dan luka itu tak kunjung sembuh. Hari ini, tepat di tanggal yang sama dengan enam tahun lalu ketika mereka pertama kali berjumpa, Samwel kembali menorehkan luka di hati Alina.

Dia menikah. Dengan perempuan yang tiga tahun lalu membuatnya meninggalkan Alina tanpa pesan dan pelukan perpisahan. Minggu lalu dilayangkannya surat undangan untuk Alina dan sejak itu Alina mengurung diri dalam kamar.

Baca Juga : Tak Ada Mimpi Yang Ketinggian
Baca Juga : Cerita Seorang Pembohong

Tangisnya pecah. Bersamaan dengan itu dipecahkannya bingkai foto penuh kenangan itu kemudian fotonya disobek-sobek sebelum dibakar menjadi abu.

Tepat ketika lembaran foto itu menyala-nyala, di suatu tempat di kota berhujan yang lain, Samwel melingkarkan cincin pernikahan ke jari manis isterinya—di altar, di hadapan pastor, orangtua dan para saksi.

Kemudian, ketika Samwel membuka tudung yang menyelubungi wajah isterinya, mengatupkan kedua kelopak matanya dan mengecup kening perempuan itu, dunia seakan berhenti berputar, detik-detik waktu enggan bergerak.

Ketika kedua bilah bibirnya menempel di kening isterinya, satu bayangan terlintas di kepalanya; bayangan ketika ia pertama kali melingkarkan tangannya di tubuh Alina dan mengecup dengan penuh cinta kening perempuan itu.

Sejenak ia merasa benar-benar telah menjadi seperti babi.

Catatan Penulis:

Cerpen ini sangat kuat terinspirasi oleh “Kota,” lagu gubahan Dere. Saya anjurkan teman-teman mendengarkan lagu itu [untuk mereka yang belum]. Teman-teman bisa menemukannya di Kanal Youtube TigaDuaSatu.

Komentar

Berita Terkait

Lelaki Banyak Masalah
Teriakan-Teriakan Lia
Antara Hujan dan Air Mata
Sunset yang Hilang
Tanpa Tanda Jasa
Seratus Jam Mencari Sintus
Perempuan Tangguh
Kita adalah Sepasang Luka
Berita ini 33 kali dibaca
Tag :

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA