Pesan Ibu

- Admin

Sabtu, 31 Juli 2021 - 17:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Dua puluh enam tahun berlalu. Semenjak dihadirkan ke dunia ini, ibu masih tetap menjadi wanita terbaik dan tercantik yang pernah dia kenal.

Kelembutan, kesabaran, dan ketulusannya dalam merajut kehidupan untuk diri dan anak-anaknya mengalahkan apapun. Beliau adalah batu karang, sandaran terkokoh setelah Tuhan.

Baginya, kebahagiaan anak-anak ada di atas segalanya. Kecintaannya kepada mereka menembus segala batas. Itulah kenapa ibu sangat bertekad untuk mendidik anak-anaknya agar benar-benar menjadi orang.

Keinginannya adalah suatu saat nanti kedua anaknya tidak lagi merasakan penderitaan hidup sebagaimana yang ia rasakan. Karena itu, ia selalu mendorong anak-anaknya supaya menamatkan pendidikan hingga meraih gelar sarjana.

Memang menjadi sarjana bukanlah satu-satunya jalan menjadi orang sukses Namun bagi ibu, hal tersebut adalah salah satu usaha yang harus dia lakukan sebagai bentuk pertanggungjawabannya sebagai orangtua.

Selain itu, sebagaimana kebiasaan di kampung, tolok ukur kesuksesan orangtua adalah seberapa mampu mereka menyekolahkan anak-anaknya.

Petrus adalah salah satu dari sebagian anak yang merasa cukup beruntung. Ibunya sukses menyekolahkan dia sampai menyelesaikan pendidikan sarjana.

Dua tahun setelahnya dia berhasil lolos seleksi PNS, yang merupakan profesi langka di kampung kelahirannya. Capaian ini menambah kebahagiaan dan kebanggaan ibunya.

Namun kebahagiaan dan kebanggaan itu belum lengkap. Adiknya sebentar lagi menjejakkan kakinya ke perguruan tinggi. Katanya, masih ada yang mengganjal hati sebelum semua anaknya selesai.

Baca Juga : Penyakit Era Digital Menurut Jürgen Habermas
Baca Juga : Optimalisasi Layanan Pelabuhan Podor dalam Meningkatkan PADes Desa Lewohedo

Jalanan masih basah. Gerimis sore itu membuat udara semakin dingin. Bebatuan jalan menjadi semakin licin.

Baca juga :  Tanpa Tanda Jasa

Seorang ibu paruh baya dengan badan setengah basah tergopoh-gopoh memikul keranjang pakan babi. Umbi-umbian yang tak layak dikonsumsi manusia itu, ia kumpulkan menjadi satu.

Sesampainya di rumah, diletakkannya keranjang itu di sudut dapur. Ditumpukkannya umbi-umbian itu dengan beberapa buah labu siam yang ia kumpulkan beberapa hari terakhir ini.

“Lumayan untuk beberapa hari ke depan,” gumamnya sambil mengatur tumpukan makanan untuk tiga ekor babinya itu.

Di perkampungan yang terletak di dataran tinggi tersebut masih belum banyak warga yang memelihara babi. Selain karena pemasarannya yang lumayan susah, orang-orang kampung hanya membutuhkan babi pada saat acara-acara adat tertentu saja. Atau saat menjelang akhir tahun.

Namun peluang-peluang tersebut yang dimanfaatkan oleh Natalia. Perempuan tengah baya yang memiliki dua anak laki-laki itu dengan setia merawat tiga ekor babinya.

Meskipun bukan satu-satunya sumber penghasilan, memelihara dan menjual babi membantu Natalia membiayai kebutuhan kuliah kedua anaknya. Anak sulungnya, Petrus telah selesai kuliah dan bahkan sudah menjadi seorang PNS.

Baca Juga : Berpisah Dengan Pacar Toxic Bukanlah Dosa
Baca Juga : Membangun Taman Baca, Membangun Harapan Bangsa

Suatu suatu sore, rumah Natalia terlihat ramai. Kerabat dan sanak keluarga berkumpul. Suasana hiruk pikuk terlihat jelas di rumah yang terletak di pinggir jalan raya itu.

Rumah yang hampir menyerupai gubuk itu diterangi sinar lampu genset yang kemarin dipinjam dari kampung tetangga. Maklum, perkampungan tersebut belum mendapat pasokan listrik dari pemerintah.

Sanak keluarga itu hingga larut malam setia duduk berlipat kaki di atas tikar pandan, bercengkerama ria penuh kekeluargaan. Suasana bertajuk wuat wa’i itu berlangsung penuh kehangatan.

Baca juga :  Ancaman Cerpen Tommy Duang

Saulus, pria tampan yang menjadi rebutan anak-anak sekampung itu adalah sosok di balik acara tersebut. Saulus memang dua kali lebih tampan dibanding kakaknya, Petrus. Ia tengah bersimpuh mendengarkan nasihat dari pamannya sambil sesekali menanggukkan kepala.

Malam itu adalah malam terakhir Saulus berada di tengah-tengah keluarganya. Esok harinya ia akan mulai bertualang menjejali suasana dan tempat yang berbeda. Ini adalah kali pertama ia meninggalkan rumah, dengan tujuan yang tak dekat.

Sebelumnya ia tak pernah pergi sejauh dan selama untuk kali ini. Hal ini membuat ibunya cemas. Apalagi Saulus adalah anak bungsu yang terkenal paling dekat dengan ibunya.

Baca Juga : Belajar dari Ketajaman Pendengaran Kaum Difabel
Baca Juga : Bagaimana Peran Media Dalam Melawan dan Menghapuskan Kekerasan Terhadap Anak?

Tidak ada lagi yang mempunyai waktu banyak untuk membantu sang ibu. Mengingat Petrus, kakak Saulus satu-satunya baru saja memulai kehidupan berumah tangga.

“Nak, jangan pernah sekali-kali kau mengecewakan usaha ibu,” suara lirih Natalia keluar di sela-sela tangisnya.

“Contohi kakakmu, Petrus. Semasa kuliah ia tak pernah membuat ibu kecewa apalagi sampai sakit hati. Ibu sudah berjuang menyekolahkan kalian semampu ibu. Ibu harap, kalian bisa menghargai niat baik ibu.”

“Iya, bu”

“Ada satu hal yang harus kamu ingat. Ibu menyekolahkan kalian bukan kerena ibu mampu. Tapi karena suatu hari di masa depanmu nanti, perubahan zaman menuntutmu banyak hal. Salah satunya pendidikan. Karena itu, ibu akan terus berusaha di tengah keterbatasan keluarga kita.”

Baca juga :  Sepucuk Surat untuk Pengantin Perempuan

Saulus menelan ludah. Ia tak mampu membendung air mata. Tangisnya pecah di hadapan sang ibunda. Kata-kata ibunya melesat ke sanubari yang paling dalam. Dalam hatinya ia berjanji untuk selalu mengingat pesan itu.

“Meskipun hasil bumi kita pas-pasan, ibu akan mencari cara untuk tetap memenuhi kebutuhan kalian. Terutama yang sangat mendesak.”

“Dulu, semasa Petrus kakakmu kuliah, ibu dapat mengandalkan beberapa ekor babi yang kita pelihara untuk menghasilkan uang. Semoga saat kamu kuliah juga akan sama. Yang penting, jangan karena ibu sudah menjual babi untuk membiayai kalian, lantas kalian akan bertingkah layaknya seekor babi.”

“Apa bedanya jika ibu menyuruh babi-babi yang di kandang itu untuk sekolah? Lihat kakakmu. Dia mampu membayar usaha ibu. Ibu harap kamu juga akan demikian. Bahkan melebihinya. Pesan ibu, sekali lagi, jangan pernah mengecewakan niat baik ibu.”

Saulus tertegun. Tidak mengeluarkan sepatah kata. Ia meresapi pesan ibunya kata demi kata, kalimat demi kalimat, lalu merenung dalam hati.

Pesan-pesan tersebut selalu ia jadikan motivasi agar sebisa mungkin membuat ibunya bangga. Hingga pada suatu hari nanti, ketika ia pulang, ia mampu membuat ibunya tersenyum.

Senyuman yang tak bisa dibeli dengan apapun. Senyuman tulus seorang ibu melihat kesuksesan dan kebahagiaan anak-anknya. Kelak.

Tentang penulis: Wandro Julio Haman lahir dan besar di Golo Ngawan, Congkar, Manggarai Timur. Seorang penyuka puisi dan cerpen dan juga gemar mencintai mantan orang lain. Beberapa puisi dan cerpennya bisa ditemukan di beberapa media online

Komentar

Berita Terkait

Lelaki Banyak Masalah
Teriakan-Teriakan Lia
Antara Hujan dan Air Mata
Sunset yang Hilang
Tanpa Tanda Jasa
Seratus Jam Mencari Sintus
Perempuan Tangguh
Kita adalah Sepasang Luka
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA