Berani untuk Percaya Diri?

- Admin

Jumat, 28 Mei 2021 - 20:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Indodian.com – Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kata-kata ini memiliki banyak makna tersirat. Karena di balik ‘kesempurnaan’ yang ada, setiap manusia memiliki sisi hitam-putih yang melekat dalam dirinya, yang menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya.

Mungkin ada yang kerap kali iri dengan penampilan fisik teman sebaya yang lebih cantik atau tampan. Iri dengan mereka yang berkaki jenjang, berbadan tinggi dan memiliki senyum dengan deretan gigi yang rapi. Iri dengan mereka yang rajin mengoleksi piala sejak kecil, yang namanya selalu mampir dalam urutan peraih nilai tertinggi. Iri dengan sesuatu yang tidak kita miliki.

Baca Juga : Apa yang Anda Ketahui tentang Kebenaran?
Baca Juga : Reformasi Dikorupsi dan Gerakan Kaum Muda Progresif

Ada juga yang mungkin melewati masa-masa membenci diri sendiri, berusaha menjadi ‘orang lain’ hanya agar memperoleh pengakuan dari lingkungan sekitar. Berusaha dengan begitu kerasnya sehingga melupakan bahwa diri sendiri juga berharga, unik dan berbeda.

Proses untuk menerima hitam-putih dan usaha mempercayai diri sendiri memang tidak mudah. Tidak segampang membalikkan telapak tangan. Namun, melatih kepercayaan diri bisa membantu kamu untuk tidak menyalahkan diri sendiri dan bersusah-payah menjadi orang lain, yang belum tentu memiliki keunikan dan value yang sama dengan kamu.

Kalau kamu berbicara soal kepercayaan diri, tentu objeknya adalah diri kamu, kan? Apakah kamu percaya sama diri kamu sendiri? Sebenarnya banyak sekali orang yang tidak percaya diri alias PD, bukan karena objek yang berkaitan dengan diri mereka sendiri. Lalu tentang siapa? Mengapa kamu cenderung tidak percaya diri? Ada beberapa alasan, di antaranya selalu menghiraukan pendapat orang lain dan suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Atau istilah kerennya social comparison.

Baca Juga : Tak Ada Mimpi Yang Ketinggian
Baca Juga : Cerita Seorang Pembohong

Social comparison ini memang tidak selamanya buruk. Namun sayangnya, bisa berdampak  negatif jika kamu terus-menerus suka membandingkan diri dengan orang yang lebih pintar, lebih kaya, lebih cantik atau tampan, dan sebagainya. Kamu menjadi tidak percaya diri bukan hanya karena lingkungan atau lingkaran yang toxic, tetapi kadang karena terlalu fokus melihat kelebihan orang lain tanpa berusaha mengenal kelebihan dirimu sendiri.

Baca juga :  Emotikon, Krisis Perhatian dan Filsafat Teknologi

Akibatnya kamu mudah insecure, overthinking, pemalu dan ragu. Kamu jadi tidak berani melakukan sesuatu yang baru sekaligus kamu malu untuk berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain. Berbagai gejala ini adalah gejala ketika kamu tidak percaya diri.

Bagaimana caranya menjadi PD? Bagaimana caranya agar tidak terganggu dengan opini dan validasi dari orang lain?

Saya coba menjawab kedua pertanyaan ini berdasarkan pengalaman pribadi. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah kamu perlu belajar mengetahui apa alasan yang membuatmu suka membandingkan diri dengan orang lain. Biasanya bukan hanya karena komentar orang di sekitar, tapi bisa juga karena terobsesi dengan postingan orang lain di media sosial, terutama di Instagram yang dalam konstruksi sosial disebut sebagai couple goals atau punya body goals.

Baca Juga : Bias Urban dan Desa sebagai Subjek Media
Baca Juga : Zen, sebuah Agama Baru?

Kamu merasa bahwa mereka lebih beruntung darimu karena dikaruniai pasangan atau bentuk tubuh yang ideal. Kadang tanpa kamu sadari kamu malah mengutuk dan menjelekan dirimu sendiri, terutama ketika sedang menatap cermin atau melihat hasil swafoto kamu digaleri handphone.

Baca juga :  Menulis Menghidupkan yang Mati

Kalau setiap kali melihat postingan orang-orang yang ada di lingkar pertemananmu di media sosial kamu merasa minder dan makin membandingkan diri dengan mereka, sepertinya kamu perlu untuk mute postingan orang-orang ini dulu. Jika tidak mempan, coba unfollow saja. Solusi lain yang bisa saya tawarkan, coba cari akun media sosial yang bias memberikan insight positif agar kamu semakin mencintai diri sendiri.

Yang kedua, dari pada kamu membandingkan diri sendiri dengan orang lain, mendingan kamu membandingkan diri kamu sendiri, antara kamu yang dulu dengan yang sekarang, terutama mengenai hal-hal positif tentang kamu. Ini sekaligus bisa menjadi refleksi pribadi untuk mengingat lagi progress kamu sudah sejauh mana,  hal-hal apa yang sudah kamu capai dan perlu kamu syukuri.

Baca Juga : Pernikahan Dini: Pandemik Yang Belum Juga Berakhir
Baca Juga : Cerita Wartawan di NTT Dapat Sinyal 4G di Pohon Jambu

Cara paling  sederhana, coba buat gratitude journal, semacam catatan kecil atas hal-hal yang  kamu syukuri setiap hari. Sering sekali kamu membandingkan diri dengan orang lain, tapi ketika ditanya tentang progress, hal yang kamu sendiri sudah peroleh atau hal yang disyukuri, malah tidak tahu. Ini karena kamu terlalu fokus ke orang lain.

Begini, jika kekurangan manusia bagaikan helaian rambut di kepala, berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk menghitung totalnya? Mungkin sampai mulut kelu dan kita hanya mem buang-buang waktu. Begitu mudah kita menyebut kekurangan dalam diri, berbanding terbalik dengan kelebihan-kelebihan yang kita miliki.

Baca juga :  Mengapa harus ada Negara?

Solusi ketiga, cobalah untuk bercerita dan minta feedback  ke orang lain, baik ke orang terdekat atau ke profesional. Kadang kamu juga butuh masukan dari orang lain. Sebagai manusia, kamu juga butuh tempat untuk menceritakan keluh kesah. Kalau misalnya selama ini kamu kesulitan membuka diri sama orang, sulit berbagi cerita dan minta feedback, yuk mulai sekarang coba terbuka dengan orang lain untuk mendapatkan perspektif  baru. Masukan dari orang terdekat yang kamu percaya bisa saja membantu kamu untuk memahami diri sendiri lebih baik.

Baca Juga : Media Siber dan Demokrasi di Era Milenial
Baca Juga : Wajib Tahu! Enam (6)Tahap Penting dalam Menulis

Solusi terakhir, mari kembali fokus pada diri sendiri. Tanyakan pada diri kamu “apa yang bisa kamu lakukan untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik?”. Dengan kamu menanyakan ini, kamu jadi lebih fokus dengan dirimu, terpacu untuk menggali dan memaksimalkan potensi dirimu dan tidak akan membandingkan diri dengan orang.

Jika kamu terus terpenjara dan terjajah oleh standar orang lain, selamanya kamu tidak akan merdeka dan bahagia menjadi dirimu sendiri. Salah satu tanda kamu bahagia dengan diri sendiri adalah ketika kamu tahu bahwa kamu unik dan berbeda. Jika kamu bisa mencintai seseorang dengan sepenuh hati, mengapa kamu tidak bisa mencintai diri sendiri dengan seluruh?

When you come to a point where you no need to impress anybody, your freedom will begin!!

Komentar

Berita Terkait

Generasi Serba Salah
Canggihnya Kamera Smartphone dan Raibnya Nilai Kepahlawanan
Menulis Menghidupkan yang Mati
Pansos Boleh, Tapi Ada Batasnya
Wajib Tahu! Enam (6)Tahap Penting dalam Menulis
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 19:07 WITA

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Minggu, 18 Februari 2024 - 16:18 WITA

Demokrasi dan Kritisisme

Jumat, 9 Februari 2024 - 18:26 WITA

Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?

Senin, 22 Januari 2024 - 20:58 WITA

Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit

Rabu, 3 Januari 2024 - 06:57 WITA

Independensi, Netralitas Media dan Pemilu 2024

Senin, 11 Desember 2023 - 17:44 WITA

Pemimpin: Integritas, bukan Popularitas

Jumat, 8 Desember 2023 - 17:01 WITA

Politik dan Hukum Suatu Keniscayaan

Jumat, 24 November 2023 - 15:03 WITA

Ketua KPK Memimpin Dengan Contoh; Contoh Korupsi

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA