Tak Ada Mimpi Yang Ketinggian

- Admin

Minggu, 23 Mei 2021 - 18:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sanjaya (Foto/Dokpri)

Sanjaya (Foto/Dokpri)

Indodian.com – Tempat kita berpijak saat ini adalah buah dari susunan kecil. Pencapaian kita di saat ini pula sudah pasti terbentuk dari langkah-langkah yang bertahap. Demikian halnya dengan sosok yang satu ini, yang menempuh berbagai proses, melibas tantangan dan berjuang untuk membuktikan bahwa tak ada mimpi yang ketinggian.

Kulitnya sawo matang, tubuhnya bugar dengan dua lesung pipi yang membuat senyumnya terlihat begitu manis. Sanjaya, begitulah dia disapa. Dia adalah pesebak bola professional Indonesia yang saat ini bermain sebagai bek sayap untuk Persik Kediri di Liga 1 dengan nomor punggung 22.

Baca Juga : Cerita Seorang Pembohong
Baca Juga : Bias Urban dan Desa sebagai Subjek Media

Anak muda asal Waikabubak (Sumba Barat) ini mengawali perjalanan panjangnya di dunia sepak bola tanah air sejak 2012. Mulanya Coach Jackye dari SSB Putra Sumba mengirim Sanjaya ke Akademi Malang Football Club (MFC) yang diasuh oleh coach Timo Scheunemann. Sanjaya tinggal bersama coach Timo hingga menjadi pemain profesional seperti sekarang ini.

“Saya bisa bertahan di dunia sepak bola hingga sekarang ini tentu saja bukan semata usaha saya sendiri. Coach Jackye yang selalu memotivasi saya untuk serius menekuni hobi saya bermain sepak bola”, ujar pria bernama lengkap Ibrahim Sanjaya tersebut.

Awal bergabung dengan MFC, Sanjaya merasa sedikit canggung karena memasuki lingkungan dan suasana yang baru. Syukurnya dia mampu beradaptasi dengan cepat. Putera NTT berusia 23 tahun ini mengaku tertarik dengan dunia sepak bola sejak kecil. Dia termotivasi karena menyaksikan skill dan prestasi tokoh idolanya Bambang Pamungkas dan Christiano Ronaldo dalam berbagai pertandingan yang dia tonton di media massa.

Baca Juga : Zen, sebuah Agama Baru?
Baca Juga : Pernikahan Dini: Pandemik Yang Belum Juga Berakhir

Seusai menyelesaikan studi di bangku SLTA, Sanjaya sempat kepikiran untuk pulang ke kampung halaman. Entah untuk berkuliah atau bekerja. Dia sudah merasa tidak bersemangat untuk menekuni karirnya di klub bola karena selama dua tahun (2014-2015) segala turnamen dibekukan. Mengingat saat itu ada dualisme liga di tubuh sepak bola Indonesia.

Baca juga :  Menyapa Aleksius Dugis, Difabel Penerima Bantuan Kemensos RI

“Untungnya coach mengingatkan saya untuk mempertimbangkan lagi keputusan yang akan saya ambil. Masa iya saya ke luar NTT untuk bermain sepak bola, lantas kembali pulang di tengah jalan?”, cerita Sanjaya saat ditemui di Waikabubak (17/05).

Namanya juga hidup, pasti ada jatuh-bangunnya, termasuk dalam upaya mewujudnyatakan mimpi. Sanjaya memilih untuk bertahan, sesulit apapun tantangan yang ia hadapi. Menariknya, dari sekian angkatan (sejak 2000) di mes sepak bola tempat dia tinggal, hanya Sanjaya bersama salah satu rekannya dari Papua yang mau melanjutkan karir di dunia sepak bola.

Telepon dari salah satu coach dari Klub Persip Pekalongan yang membuat Sanjaya kembali bersemangat. Sanjaya pindah ke klub Liga 2, Persip Pekalongan, selama 4 bulan. Dia sempat dipanggil Timnas U-19 juga untuk ikut bermain dalam piala ASEAN Footbal Federation (AFF). Selepas dari Timnas, Sanjaya diajak bergabung dengan Bhayangkara U-21.

“Di tahun 2017, saya bergabung dengan Liga 1 Persiba Balikpapan. Saya ke sana hanya untuk persiapan turnamen pra musim. Usai dari Persiba, saya rehat untuk sementara waktu”, tutur mantan siswa SMP Negeri 1 Waikabubak tersebut.

Baca juga :  "Utang Budi" Pater Thomas Krump, SVD

Banyak orang (mungkin) yang berasumsi negatif tentang kata ‘rehat’ atau ‘jeda’. Kedua aksi ini dianggap sebagai tanda menyerah atau keputusasaan. Memang perlu untuk kita sejenak beristirahat dari banyak aktivitas dan hiruk-pikuk pikiran agar bisa berlari lebih kencang menuju impian yang ingin dicapai. Itu pula yang dilakukan Sanjaya.

Baca Juga : Cerita Wartawan di NTT Dapat Sinyal 4G di Pohon Jambu
Baca Juga : Media Siber dan Demokrasi di Era Milenial

Setelah rehat beberapa waktu, anak dari pasangan Abdurahman Hamid dan Jaleha Usman ini kemudian bergabung dengan Semen Padang di tahun 2017. Kala itu, Semen Padang masih bermain di Liga 2. Namun berkat Sanjaya dan timnya, klub tersebut kembali naik kasta ke Liga 1. Kemudian di tahun 2019, dia pindah ke Persik Kediri. Dia menjadi salah satu andalan Persik Kediri hingga saat ini.

Selama 9 tahun jauh dari keluarga, merintis karir di tanah rantau tentu bukan hal yang mudah. Selalu ada keinginan untuk bisa berjumpa dengan keluarga. Untungnya Sanjaya selalu memiliki kesempatan untuk pulang libur dua kali setahun, saat hari raya dan juga seusai kompetisi. Hadirnya media sosial juga cukup membantu Sanjaya tetap bisa berkomunikasi dengan keluarganya meski berjauhan. Sesukses apapun kita saat ini, tentu tidak terlepas dari restu dan doa baik keluarga, terutama orang tua. Menyisihkan waktu untuk pulang ke kampung halaman atau menanyakan kabar via telpon adalah wujud terima kasih kita kepada mereka.

Sebagai anak muda NTT yang berani keluar dari zona nyaman dan melampaui keterbatasan, Sanjaya masih tetap memiliki mimpi besar untuk menjadi corong perubahan dunia sepak bola NTT, khususnya di Sumba Barat. Dia berharap jika suatu kelak pensiun dari dunia bola bisa membangun wadah yang menampung dan melatih anak-anak muda dari berbagai jenjang usia untuk mengasah bakat mereka dalam bermain sepak bola.

Baca Juga : Wajib Tahu! Enam (6)Tahap Penting dalam Menulis
Baca Juga : Sore Nanti, Kita ke Pantai

“NTT memiliki banyak potensi pesepak bola unggul. Hanya saja, fasilitas yang kita miliki dan manajemen klub juga belum bagus. Saya juga melihat bahwa kebanyakan di daerah kita baru akan berlatih jika ada pertandingan. Padahal di daerah lain, persiapannya sudah dilakukan secara berjenjang, bahkan sejak usia dini. Jadi semisal ada pertandingan, sudah ada tim yang siap secara fisik dan mental”, jawab Sanjaya ketika ditanya soal potensi dan tantangan pesepak bola di NTT.

Baca juga :  Hindari Pinjaman Online

Sanjaya juga berpesan agar anak muda NTT, khususnya yang mencintai sepak bola tidak berhenti bermimpi. Niat saja tidak cukup. Perlu kerja keras dan kedisiplinan untuk terus mengupgrade diri, sabar menekuni proses dan selalu rendah hati.

Setiap kita pasti memiliki impian dan cita-cita. Namun apalah arti mimpi dan cita tanpa usaha? Mimpi hanya akan tetap menjadi angan belaka jika kita tidak berusaha melakukan hal-hal yang dapat membantu merealisasikan mimpi kita.  Tak ada mimpi yang ketinggian, bangunnya saja yang kesiangan, mungkin! J

Dare to dream and make it happen!

 

Komentar

Berita Terkait

Milenial Promotor Literasi Digital dalam Spirit Keberagaman Agama
Kasus Pasung Baru di NTT Masih Saja Terjadi
Seandainya Misa Tanpa Kotbah
Gosip
Sorgum: Mutiara Darat di Ladang Kering NTT
Tanahikong, Dusun Terpencil dan Terlupakan di Kabupaten Sikka              
Qui Bene Cantat bis Orat (Tanggapan Kritis atas Penggunaan Lagu Pop dalam Perayaan Ekaristi)
Media dan Ilusi Netralitas
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA