Merawat Keindonesiaan

- Admin

Kamis, 19 Agustus 2021 - 14:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konsep “negara penjaga malam” yang diusung oleh John Locke didesain untuk menjamin keteraturan dan hukum dalam rumah (home), pertahanan melawan kekuasaan asing, dan keamanan hak milik (property). Tiga prinsip Locke dapat diringkas dalam tiga kata: kehidupan (life), kebebasan (liberty), dan hak milik (property) (Maurice Cranston, 1967:458).

Di Amerika Serikat tercapainya konsensus negara demokratis diwarnai perang sipil. Dinamika itu mencapai titik puncaknya dalam deklarasi Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli 1776. Sedangkan di Perancis perjuangan terbentuknya negara modern yang demokratis dimulai sejak J. J. Rousseau. Perjuangan itu mencapai puncaknya dalam revolusi Perancis pada tahun 1789. Demikian juga di Rusia, perjuangan terbentuknya negara komunis mencapai puncaknya dalam revolusi yang terjadi pada tahun 1917 (H. Kaelan, 2013:2).

Baca Juga : Aku dan Kisahku
Baca Juga : Mabuk Kuasa

Berbeda dengan latar belakang perkembangan negara modern di Inggris, Amerika, Perancis, dan Rusia, perjuangan terbentuknya negara modern di Indonesia diwarnai dengan penjajahan oleh bangsa asing selama 3,5 abad. Pengalaman getir sebagai orang-orang terjajah mendorong pemuda-pemudi nusantara untuk bersatu padu memperjuangkan kemerdekaan. Mereka menyadari bahwa perjuangan dan perlawanan yang dilakukan secara sporadis yang mengedepankan ego wilayah, suku, ras, dan agama tidak akan mampu membawa Indonesia ke gerbang pintu kemerdekaan. Di hadapan penjajah mereka secara spontan menyadari identitas mereka yang satu dan sama sebagai orang terjajah. Setelah menyadari identitas sebagai orang-orang terjajah, mereka kemudian secara bersama menghadapi musuh bersama mereka (common enemy) yakni bangsa-bangsa kolonial. Perjuangan itu pun membuahkan hasil.

Baca juga :  Merawat Simpul Empati

Setelah bangsa-bangsa kolonial berhasil diusir, masih ada tugas berat yang harus diselesaikan yakni merumuskan konsep negara macam mana yang hendak dibangun agar keberagaman di nusantara tetap terjaga. Para pendiri bangsa kemudian mulai menggali kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal (local wisdom) di berbagai wilayah di nusantara. Kebijaksanaan-kebijaksanaan lokal itu selanjutnya menjadi causa materialis pembentukan dasar Negara Indonesia yang hendak dibangun.

Baca juga :  Mabuk Kuasa

Kendati demikian, secara jujur mesti diakui bahwa pembentukan negara Indonesia modern yang demokratis tidak mungkin dilakukan dengan menolak sama sekali pemikiran-pemikiran kenegaraan yang berasal dari Barat. Namun demikian, para pendiri bangsa menyadari praksis demokrasi liberal Barat yang berpegang teguh pada prinsip individualisme menghadirkan penderitaan pada bangsa lain termasuk Bangsa Indonesia sendiri. Atas dasar itulah, para tokoh pergerakan seperti Soekarno, Hatta, Yamin, Soepomo, Tan Malaka, Syahrir, dan tokoh lainnya menolak dengan keras paham Liberalisme-Individualisme (H. Kaelan, 2013:2).

Baca Juga : Menyapa Aleksius Dugis, Difabel Penerima Bantuan Kemensos RI
Baca Juga : Kisah Jurnalis di Manggarai Timur yang Setia Melayani ODGJ

Meskipun inti filsafat liberalisme-individualisme ditolak, pemikiran Barat tentang negara modern tetap menjadi referensi para pendiri Negara Indonesia. Menurut H. Kaelan, di sini kejeniusan para pendiri bangsa ditunjukkan. Mereka mengolah pemikiran mereka tentang Negara Indonesia secara “eklektis”, yakni memadukan berbagai elemen pemikiran untuk menghasilkan suatu konsep baru. Notonegoro menyebunya dengan istilah “eklektis inkorporatif”.

Baca juga :  Tata Kelola Pandemi: Zombinasi dan Politik Ketakutan

Terkait hal ini, Kahin (1970) dan Dahm (1987) mengemukakan: “Perumusan Pancasila yang dikemukakan Soekarno misalnya merupakan konsepsi yang khas yang tidak ada pada pemikiran filsafat negara yang lain di dunia. Pemikiran Soekarno itu merupakan suatu sintesis dari demokrasi Barat, Islamisme, Marxisme, nasionalisme Sun Yat Sen, dan humanisme Gandhi. Namun demikian, pemikiran Soekarno juga mendasarkan pada causa materialis yang ada pada Bangsa Indonesia sendiri, yaitu tentang nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai kemanusiaan serta semangat kekeluargaan dan gotong-royong, realitas etnis serta nilai kebudayaan lainnya.” Nilai-nilai ini merupakan basis yang kuat bagi pembentukan identitas atau jati diri Bangsa Indonesia.

Komentar

Berita Terkait

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari
Paradoks Masyarakat Kita: Antara Kebebasan dan Kelelahan
Pesta Babi: Pembangunan yang Memakan Manusia
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Prabowonomics: Dari Neoliberalisme Menuju State Capitalism
Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi
Demokrasi dan Kritisisme
Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?
Berita ini 54 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA