Merawat Simpul Empati

- Admin

Rabu, 14 April 2021 - 11:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber: Media Polesye Rusia, (2015)

Sumber: Media Polesye Rusia, (2015)

Launching Media Indodian.com
Rio Nanto
(Pemimpin Redaksi Indodian.com)

Indodian.com, Publik Indonesia dibikin heboh dengan acara pernikahan youtuber kondang, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah beberapa waktu lalu. Bayangkan, Jokowi dan beberapa menteri negara turut hadir dalam pesta tersebut. Media-media baik yang offline maupun online secara serampak memberitakan momen istimewa itu. Tak ketinggalan jutaan netizen Indonesia menyaksikan acara pernikahan tersebut melalui youtube.

Usai pernikahan, hampir 5 jutaan netizen Indonesia menonton siaran langsung persiapan bulan madu kedua pasangan di pulau Dewata Bali. Beruntung karena etiket jurnalistik netizen tidak sempat menyaksikan siaran langsung “pergerakan” di kamar pengantin.

Sebagai konten kreator dan artis, Atta Halilintar menjadi salah satu youtuber besar Indonesia bahkan untuk kawasan Asia. Penghasilannya dari youtube sudah mencapai ratusan juta. Secara keseluruhan konten youtubenya menampilkan video prank, koleksi mobil mewah, deretan perhiasan mahal, interior rumah yang menakjuban dan barang-barang mewah dengan harga miliaran rupiah lainnya. Bukan hanya Atta, sejumlah artis seperti Raffi Ahmad, Nikita Mirzani, keluarga Anang Hermansyiah serta artis-artis lain seringkali mempertontonkan barang-barang mewah melalui akun media sosial.  

Sajian konten dalam youtube mereka dinilai kurang edukatif bagi netizen. Netizen hanya digiring untuk melihat seisi rumah dengan pelbagai perabot mahal, menu makan harian, atau koleksi pakaian berkelas di dalam lemari. Tetapi anehnya netizen berbondong-bondong melepaskan pekerjaan di rumah masing-masing dan menyiapkan waktu menikmati tontonan itu. Setelah menonton, netizen akan mendapati kuota internet kian menipis dan imajinasi kecil tentang indahnya hidup dalam kemewahan di tengah kemiskinan.

Tulisan ini tidak sedang menggiring Anda untuk membenci mereka karena toh mereka menikmati hasil jerih payah dalam menekuni karier. Mereka telah banyak berjuang dengan menginvestasikan tenaga, pikiran dan waktu untuk mengembangkan modal. Mereka lebih bermartabat dari pada koruptor yang memaling uang rakyat. Di negeri ini, koruptor tidak seperti di RRC dipotong kepalanya atau di Arab Saudi dipotong tangannya. Koruptor di Indonesia dipotong masa tahanannya.  

Walaupun demikian, catatan ini berikhtiar membaca jejak gaya hidup artis dan orang-orang kaya seperti Atta Halilintar yang tidak berprestasi tetapi mampu menarik netizen untuk masuk dalam jebakan pola pikir yang mengukur status sosial dan pertemanan dari kepemilikan materi. Video pertunjukan barang-barang mewah di hadapan publik memberikan sebuah trend pemujaan terhadap materi dan serentak mencuat akan sebuah kedangkalan akan empati dan belarasa.

Baca juga :  Prasyarat Menjadi Superpower : Indonesia Dalam Dunia Multipolar

Di tengah pandemi ini ada begitu banyak orang kecil yang bekerja siang dan malam untuk mendapatkan makanan. Dan di media sosial orang-orang kecil yang malang ini menyaksikan artis yang memamerkan kekayaan, menghamburkan uang dan mendonasikan barang-barang mewah kepada sesama artis.

Tontonan tersebut menggambarkan lenyapnya dimensi moral sebagai akibat dari tenggelamnya mereka ke dalam kondisi ekstasi masyarakat konsumer. Ekstasi itu mengarah pada keterpesonaan, kekayaan dan libido ekonomi yang dipupuk di tengah-tengah rimba kehidupan yang dikitari dengan benda-benda, tanda-tanda dan makna semu; di tengah-tengah kehampaan hidup dan kekosongan jiwa akan makna spiritual dan kemanusiaan; di tengah-tengah dibangunkan kerajaan kegerlapan hidup dan kekayaan ketimbang kedalaman, substansi dan transendensi.

Ekstasi melalui hasrat kebendaan, kesenangan, kesementaraan hanya menyisahkan sedikit ruang bagi penajaman hati, penumbuhan kebijaksanaan, peningkatan kesalehan dan pencerahan spiritual. Seseorang yang terjebak dalam ekstasi ini menurut Jean Baudrilard (1990:187)  akan tenggelam dalam siklus hasratnya dan pada titik ekstrim menjadi hampa akan makna dan nilai-nilai moral.

Ekstasi ini menjadi karpet merah dalam memasuki sebuah ruang gaya hidup konsumerisme. Yasraf Amir Piliang (2011:91) mempertegas kesadaran ini bahwa kebudayaan konsumerisme dikendalikan sepenuhya oleh hukum komoditi yang menjadikan konsumer sebagai raja; yang menghormati setinggi-tingginya nilai-nilai individu; yang memenuhi selengkap dan sebaik mungkin kebutuhan-kebutuhan, keinginan, hasrat, telah memberi peluang bagi setiap orang untuk asyik dengan dirinya sendiri.

Di dalam perubahan gaya hidup tersebut, konsumsi tidak lagi dilihat sebagai sebuah kebutuhan dasar manusiawi, akan tetapi menjadi tanda kelas sosial, status atau simbol sosial tertentu. Konsumsi mengekspresikan posisi sosial dan identitas kultural seseorang dalam masyarakat.

Lebih lanjut, Jean Boudrilard (1988:29) melihat bahwa yang dicari oleh pemuja konsumerisme ini bukan lagi makna-makna ideologis melalui tindakan sublasi, melainkan kegairahan dan ekstasi dalam pergantian objek-objek konsumsi; yang dicari dalam komunikasi bukan lagi pesan-pesan dan informasi, melainkan kegairahan dalam berkomunikasi itu sendiri, dalam bermain tanda, citraan dan medianya.  

Baca juga :  Mengemohi Zombi Kapitalisme di Manggarai

Dalam konsumsi yang dilandasi dengan citraan dan tanda itu, logika yang mendasarinya bukan logika kebutuhan melainkan logika pemuasaan hasrat. Dalam diri manusiawi hasrat ini tidak akan pernah mengalami kepuasan. Hasrat melahirkan kecenderungan untuk selalu merasa miskin di tengah kegelimangan kekayaan, merasa diri tidak trend jika tidak memiliki handphone atau mobil terbaru atau merasa harga diri membumbung tinggi ketika membeli barang-barang dengan harga miliaran rupiah.

Gaya hidup konsumerisme yang dipertontonkan para artis menggiring netizen untuk menciptakan ruang persaingan yang tidak sehat dan melihat sesama manusia sejauh memiliki produk-produk yang baru dan mahal. Produk-produk konsumsi menjadi satu medium untuk membentuk citra, harga diri, gaya hidup dan prestise. Alhasil, relasi sosial sehari-hari tidak lagi bertumpu pada relasi sebagai sesama manusia melainkan sebagai fungsi dari kepemilikan barang-barang dan gaya hidup. Benih-benih konsumerisme ini bertumbuh subur melalui perkembangan media. Media menjadi pintu masuk bagi netizen untuk menikmati sebuah rekayasa-rekayasa realitas yang melahirkan ekstasi. Konten-konten media menciptakan ekstasi kekayaan di tengah realitas

masyarakat Indonesia yang tidak sedikit masih susah mencari sesuap nasi, tingginya angka putus sekolah karena tidak mampu membiayai pendidikan yang mahal,  atau memilih bunuh diri karena persaingan yang tidak sehat dan ketiadaan modal untuk membeli barang-barang konsumsi.

Kondisi ini memberikan sebuah impresi bahwa kehadiran media berpengaruh besar dalam menciptakan pola pikir dan pola perilaku masyarakat. Melalui media, informasi, pandangan, gagasan dan wacana saling dipertukarkan dan kemajuan serta kemunduran masyarakat tercermin di dalamnya. Konten media yang saat ini mereproduksi gaya hidup yang glamour turut berpengaruh terhadap pola konsumsi yang tidak sehat dari masyarakat kelas bawah yang sebenarnya tidak mampu, tetapi berusaha kaya agar diterima dalam situasi sosial kemasyarakatan.

Logo Indodian.com

Kesadaran ini menginspirasi kami untuk membentuk sebuah media online Indodian.com. Spiritualitas Indodian.com lahir dari semangat jurnalisme humanistis yang selalu digelorakan oleh pendiri Kompas, Jacob Utama untuk menegur yang kaya dan menyapa yang papa. Indodian.com berusaha untuk menulis narasi-narasi yang mempunyai nilai perjuangan keadilan sosial dan mendorong kemajuan akan penghargaan terhadap budaya kehidupan.

Baca juga :  Urgensi Literasi Digital di Era Pasca-Kebenaran 

Dalam hal ini, Indodian.com memproposalkan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan, kebermakaan hidup melalui empati sosial dan penciptaan atmosfer hidup dalam kesederhanaan dan kedermawanan. Idealisme media ini berusaha mengembalikan masyarakat kontemporer pada kedalaman spiritual, kehalusan nurani dan ketajaman hati di tengah kemabukan ekstasi dan kedangkalan pegangan hidup.

Lebih dari itu, Media Indodian.com ini juga menjadi sebuah alternatif terhadap media yang lebih mengejar kecepatan daripada ketepatan. Berita-berita media saat ini diproduksi di dalam kondisi perlombaan di antara media untuk  dapat menghasilkan pengetahuan dan opini yang segera. Kini di dalam berbagai media berkembang apa yang dikatakan Gleick (1999:6) sebagai perenungan instan, yaitu bagaimana peristiwa-peristiwa direnungkan, dianalisis, dinilai dan diberikan keputusan secara instan. Ekstasi kecepatan di satu pihak meningkatkan durasi kesenangan, tetapi di pihak lain mempersempit durasi spiritual.

Sebagaimana “Dian” yang berarti cahaya, media Indodian.com berusaha menyalakan api humanisme dengan tagline kritis dan humanis. Indodian.com berusaha menyalakan cahaya inspirasi melalui konten-konten berkualitas agar pembaca menyaring data menjadi informasi, informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi sebuah kebijaksanaan  hidup.

Nilai humanisme menginspirasi Indodian.com untuk terbuka terhadap orang lain dan dunia dan berusaha membantu orang lain memperoleh kemanusiaanya. Indodian.com mengajak pembaca untuk menciptakan masyarakat yang adil, peduli dan menghargai budaya kehidupan. Senafas dengan Jacob Utama, humanisme Indodian.com berjuang menjaga menghormati manusia lebih dari keadilan, kesejahteraan dan kebenaran.

Semoga Indodian.com mendapat tempat di ruang pembaca dan membantu manusia Indonesia untuk semakin humanis.  

Rio Nanto

Sumber Rujukan

Baudrillard, Jean.  “Fatal Strategy”, dalam Mark Poster, Jean Baudrillard: Selected Writing, Politity Press: London, 1990.

Gleick, James. Faster: The Accleration of Just About Everything. London: Pantheon Books, 1999

Piliang, Yasraf Amir. Dunia yang Dilipat – Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung: Matahari, 2011.

Komentar

Berita Terkait

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi
Demokrasi dan Kritisisme
Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?
Dari Ledalero untuk Indonesia: Menyelamatkan Demokrasi dari Jerat Kuasa?
Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit
Independensi, Netralitas Media dan Pemilu 2024
Pemimpin: Integritas, bukan Popularitas
Politik dan Hukum Suatu Keniscayaan
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Juni 2024 - 18:26 WITA

SMP Notre Dame Wisudakan 70 anak Kelas IX

Kamis, 25 April 2024 - 00:16 WITA

Sejumlah Catatan Kritis Pers dan Warganet terhadap Amicus Curiae dan Dissenting Opinion dalam Putusan MK

Selasa, 23 April 2024 - 22:42 WITA

Prodi Ilmu Pemerintahan Unwira Selenggarakan Seminar Hari Kartini

Selasa, 13 Februari 2024 - 13:56 WITA

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 28 November 2023 - 23:35 WITA

Fakultas Filsafat Unwira Adakan Seminar Internasional sebagai Bentuk Tanggapan terhadap Krisis Global    

Sabtu, 11 November 2023 - 11:33 WITA

Tujuan Politik adalah Keadilan bagi Seluruh Rakyat

Jumat, 23 Juni 2023 - 07:01 WITA

Komunitas Circles Indonesia: Pendidikan Bermutu bagi Semua

Rabu, 17 Mei 2023 - 11:05 WITA

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa melalui Kelas Belajar Bersama

Berita Terbaru

Pendidikan

Menyontek dan Cita-Cita Bangsa

Jumat, 14 Jun 2024 - 10:52 WITA

Berita

SMP Notre Dame Wisudakan 70 anak Kelas IX

Kamis, 13 Jun 2024 - 18:26 WITA

Pendidikan

Sastra Jadi Mata Pelajaran

Rabu, 12 Jun 2024 - 20:39 WITA