Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

- Admin

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Pemikiran Michel Foucault tidak ditujukan untuk membangun sebuah sistem metafisika yang statis, tetapi sebuah “ontologi sejarah tentang diri kita sendiri” (Edgardo Castro, La verdad del poder y el poder de la verdad en los cursos de Michel Foucault. hlm, 61). Proyek intelektual Foucault menelusuri bagaimana manusia dibentuk menjadi subjek melalui tiga sumbu utama yang saling konstitutif: “pengetahuan yang dikaji dalam spesifitas verifikasinya;  relasi-relasi kekuasaan, yang dikaji bukan sebagai emanasi dari suatu kekuasaan dan invasi, melainkan dalam prosedur-prosedur yang mengatur perilaku manusia, dan, pada akhirnya, modus-modus konstitusi subjek melalui praktik-praktik sendiri” (Michel Foucault, El coraje de la verdad. El gobierno de sí y de los otros II. Curso en el Collège de France (1983-1984), Buenos Aires: Fondo de Cultura Económica, 2010. 27).  Dalam kerangka ini, kekuasaan tidak dipahami sebagai institusi yang menindas dari atas, melainkan sebagai jaringan hubungan strategis yang produktif, dan omnipresen.

Foucault melakukan revolusi metodologis dengan menolak “model yurdis-diskursif” yang melihat kekuasaan sebagai hukum, perintah, atau kedaulatan yang terpusat pada negara. Foucault mengatakan, “Apa yang kita butuhkan adalah sebuah filsafat politik yang tidak dikonstruksikan di seputar problem kedaulatan, dan oleh karena itu, di seputar hukum, dan oleh karena itu pula, di seputar larangan. Kita harus “memenggal kepala raja” terlebih dahulu, agar dalam teori politik modern berhenti menganalisis kekuasaan seolah-olah kekuasaan itu mengalir dari satu pusat tunggal yang berdaulat seperti negara atau raja (Michel Foucault, Microfísica del poder, Buenos Aires: Siglo Veintiuno Editores, 2019, hlm. 32).

Namun demikian, teori politik modern masih harus bergelut dengan problem yang sama pada abad ke-17 dan ke-18, karena “kepala raja belum dipenggal dan orang-orang justru berusaha memberikan kepala kepada disiplin-disiplin, yaitu kepada sistem pengawasan, kontrol, normalisasi yang luas, dan selanjutnya, penghukuman, koreksi serta edukasi yang diinstitusikan… Dan saat ini, terdapat kecenderungan untuk memberikan sebuah subjek kepadanya, sebuah subjek molar yang besar dan totalitarian yaitu Negara modern yang terbentuk pada abad ke-16 dan ke-17, yang memiliki tentara profesional dan, menurut teori klasik, kepolisian serta badan fungsionaris” (Michel Foucault, Microfísica del poder, hlm. 32). Bagi Foucault, apabila problem ini dideskripsikan dari sudut pandang Negara, maka “seluruh fenomena kekuasaan tersebut berdasarkan fungsi aparatus Negara adalah mengajukannya dalam terminologi fungsi represif: tentara, yang merupakan kekuasaan maut, polisi dan peradilan, yang merupakan instansi penalitas” (Michel Foucault, Microfísica del poder, hlm. 32). Analisis Foucaultian ini dikenal sebagai mikrofisika kekuasaan.

Kekuasaan, bagi Foucault, adalah “nama yang harus diberikan bagi situasi strategis yang kompleks dalam masyarakat tertentu” (Michel Foucault, Historia de la sexualidad I. La voluntad de saber, Buenos Aires: Siglo Veintiuno Editores, 2005, hlm. 113). Kekuasaan tidak dimiliki seperti properti, tetapi dipraktikkan sebagai strategi (Miguel Morey dalam pengantar buku Michel Foucault: Un diálogo sobre el poder y otras conversiones, Madrid: Alianza Editorial, 2000, hlm. V; dan juga dalam Edgardo Castro, Analítica del poder y de la sexualidad, Buenos Aires: Utopía y Praxis Latinoamericana, 2021. hlm. 13-29). Sifat kekuasaan yang kapiler memungkinkan kekuasaan menyusup ke dalam tekstur tubuh, gestur, dan perilaku individu sehari-hari (Michel Foucault, Estrategias de Poder, Obras esenciales, Volumen II, Barcelona: Paidós, 1999. hlm. 299).

Bagi Foucault, kekuasaan bersifat produktif, bukan sekadar represif, karena itu “kita harus berhenti menggambarkan efek kekuasaan dalam istilah negatif: ‘mengecualikan’, ‘menekan’, ‘menyensor’… Faktanya, kekuasaan itu produktif; ia menghasilkan realitas; ia menghasilkan domain objek dan ritual kebenaran” (Michel Foucault, Vigilar y castigar. Nacimiento de la prisión, Buenos Aires: Siglo Veintiuno Editores, 2008, hlm. 196). Dalam kerangka mikrofisika kekuasaan ini, tubuh menjadi target utama melalui “teknologi disipliner”. Melalui pengawasan dan normalisasi, individu dibentuk menjadi tubuh yang patuh sekaligus berguna secara ekonomi, untuk mendisiplinkannya (Michel Foucault, Defender la sociedad. Curso en el Collège de France (1975-1976), Buenos Aires: Fondo de Cultura Económica, 2000. hlm. 220).

Baca juga :  Mengapa harus ada Negara?

Foucault memperluas analisis kekuasaan ke ranah pemerintahan melalui konsep “gouvernementalité” (governmentality), yang ia artikan secara luas sebagai “seni memerintah” atau “mengarahkan perilaku” (Edgardo Castro, Gubernamentalidad pedagógica. Una lectura de Michel Foucault, Buenos Aires: Prometeo Libros, 2022, hlm. 11). Dan dalam kuliahnya “Nacimiento de la biopolítica” (Lahirnya Biopolitik: Kuliah di Collège de France (1978-1979)), Foucault menganalisis neoliberalisme bukan sebagai ekonomi belaka, melainkan sebagai teknologi pemerintahan yang baru: “dengan munculnya ekonomi politik dan diintroduksikannya prinsip pembatasan di dalam praktik pemerintahan itu sendiri, terjadi sebuah substitusi penting atau, lebih tepatnya, sebuah duplikasi; sebab subjek hukum yang di atasnya kedaulatan politik dijalankan, kini muncul sebuah populasi yang harus dikelola oleh sebuah pemerintahan” (Michel Foucault, Seguridad, territorio, población. Curso en el Collège de France (1977-1978), Buenos Aires: Fondo de Cultura Económica, 2006, hlm. 441).

Neoliberalisme tentu saja berbeda dari liberalisme klasik; jika liberalisme klasik menuntut negara untuk membiarkan pasar bekerja (laisses-faire), neoliberalisme justru mendesak negara agar aktif menciptakan kondisi yang memungkinkan kompetisi pasar menjadi prinsip pengatur bagi seluruh masyarakat (Edgardo Castro, Gubernamentalidad pedagógica. Una lectura de Michel Foucault, hlm. 13). “Mempelajari liberalisme sebagai kerangka umum biopolitik”, tegas Foucault, “adalah kunci untuk memahami cara hidup dan populasi diperintah” (Michel Foucault, Nacimiento de la biopolítica. Curso en el Collège de France (1978-1979), Buenos Aires: Fondo de Cultura Económica, 2007, hal. 24). Akan tetapi, berbeda dengan teori liberalisme klasik, neoliberalisme melihat manusia sebagai “wirausahawan bagi dirinya sendiri” (Edgardo Castro, Gubernamentalidad pedagógica. Una lectura de Michel Foucault, hlm. 12).

Pasar neoliberalisme berfungsi sebagai rezim veridiksi, sebuah tempat di mana kebenaran atas tindakan pemerintah diuji berdasarkan efisiensi ekonomi (Edgardo Castro, Derecho y vida. Un contrapunto entre Michel Foucault y Giorgio Agamben, Buenos Aires: Zenodo, 2021, hlm. 36). Di sini subjek dalam rasionalitas neoliberal dibentuk kembali sebagai “homo oeconomicus”: “homo oeconomicus bukanlah dia yang merepresentasikan kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri beserta objek-objek yang mampu memuaskannya; dia adalah dia yang menghabiskan, menggunakan, dan kehilangan hidupnya demi berupaya meloloskan diri dari kedekatan kematian” (Michel Foucault, Las Palabras y las Cosas. Una arqueología de las ciencias humanas, Buenos Aires: Siglo Veintiuno Editores, 2008, hlm. 252).

Dalam sistem neoliberalisme, individu bertanggung jawab penuh untuk mengelola “modal manusia”-nya sendiri, termasuk kesehatan, pendidikan, dan perilaku, sebagai investasi masa depan demi produktivitas pasar. Pendidikan dan kesehatan di sini tidak lagi dilihat hanya sebagai hak, tetapi sebagai elemen manajemen biologis yang harus dioptimalkan dalam persaingan pasar (Michel Foucault, Historia política de la verdad. Una genealogía de la moral, Madrid: Biblioteca Nueva, 2016, hlm. 205-218). Bagaimana mungkin individu dapat belajar, sehat, dan bersaing, kalau tidak mampu memanajemen atau menginvestasi modal dirinya?

Neoliberalisme juga sering menggunakan mekanisme pengakuan (confesión) dan transparansi diri sebagai instrumen kontrol. Individu di sini didorong untuk terus-menerus mengevaluasi diri, melaporkan pencapaian, dan mengekspos hasratnya demi optimalisasi performa. Teknik diri Foucaoultian menolak subjektivasi semacam ini dengan mempromosikan “praktik-praktik diri” yang bersifat tertutup dan reflektif. Inilah sisi gelap biopolitik. Meskipun biopolitik berfokus pada “membuat hidup”, ia juga menciptakan paradoks ketika negara justru harus menjalankan fungsi mematikan atau membunuh.

Foucault mempersoalkan paradoks ini, bahwa “dalam teknologi kekuasaan yang memiliki kehidupan sebagai objek dan tujuannya… Bagaimana kekuasaan yang memiliki tujuan esensial untuk ‘membuat hidup’ dapat ‘membiarkan mati’? Bagaimana menjalankan kekuasaan atas maut, bagaimana menjalankan fungsi kematian, dalam sebuah sistem politik yang berpusat pada biokekuasaan?” (Michel Foucault, Defender la sociedad. Curso en el Collège de France (1975-1976), Buenos Aires: Fondo de Cultura Económica, 2000, hlm. 230). Menurut Focault, “kemunculan biokekuasaan itulah yang menginspkripsikan rasisme ke dalam mekanisme Negara”, dan “oleh karena itu, ini adalah relasi yang bukan bersifat militer, perang atau politik, melainkan biologis”. Bagi Foucault, “rasisme biologis” merupakan instrumen yang memungkinkan pemutusan dalam kontinum biologis untuk membedakan antara ras yang layak hidup dan yang dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan populasi. Rasisme melegalkan pembunuhan dalam sistem yang tujuannya adalah menjamin kehidupan spesies (Edgardo Castro, Analítica del poder y de la sexualidad, Buenos Aires: Utopía y Praxis Latinoamericana, 2021, hlm. 23-24).

Baca juga :  Zen, sebuah Agama Baru?

Bentuk paroksismal dari ini adalah Nazi Jerman, di mana pendisiplinan absolut digabungkan dengan regulasi biopolitik yang ekstrem untuk memusnahkan kehidupan yang dianggap tidak berharga: “ras, rasisme adalah kondisi yang membuat tindakan mencabut nyawa menjadi dapat diterima di dalam masyarakat normalisasi. Di mana terdapat masyarakat normalisasi, di mana eksis sebuah kekuasaan yang setidaknya di seluruh permukaannnya dan pada instansi pertama, di garis depan, merupakan sebuah biokekuasaan, maka rasisme sangatlah tidak terpikirkan sebagai kondisi untuk dapat mencabut menyawa seseorang, untuk membunuh orang lain. Sejauh Negara berfungsi dalam modalitas biokekuasaan, fungsi mematikannya hanya dapat dijamin oleh rasisme.” (Michel Foucault, Defender la sociedad, hlm. 231-232).

Dalam situsi ini, biopolitik berubah menjadi tanapolitik (thanatopolitique) atau politik kematian: “…bahwa Negara harus pertama-tama mengawasi manusia dalam kapasitasnya sebagai populasi. Ia menjalankan kekuasaannya atas makhluk hidup sejauh mereka adalah makhluk hidup, dan konsekuensinya, politiknya secara niscaya merupakan sebuah biopolitik. Karena populasi, tentu saja, tidak pernah berupa apa pun selain dari apa yang diawasi oleh Negara demi kepentingannya sendiri, maka Negara dapat, jika dapat diperlukan, membantainya. Tanapolitik dengan demikian merupakan kebalikan dari biopolitik. (Michel Foucault, La inquietud por la verdad. Escritos sobre la sexualidad y el sujeto, Buenos Aires: Siglo Veintiuno Editores, 2013, hlm. 254-255).

Jika biopolitik dan neoliberalisme berusaha mengarahkan perilaku individu melalui normalisasi, Foucault menemukan ruang perlawanan dalam etika subjek melalui konsep parrhesia (Michel Foucault, El coraje de la verdad. Curso di Collège de France (1983-1984), Buenos Aires: Fondo de Cultura Económica, 2010, hlm. 17-38). Secara etimologis parrhesia berarti “mengatakan segalanya”, tindakan di mana seseorang mengambil risiko pribadi (bahkan risiko kematian) untuk menyatakan kebenaran yang menantang kekuasaan politik (Michel Foucault, El gobierno de sí y de los otros. Curso di Collège de France (1982-1983), Buenos Aires: Fondo de Cultura Económica, 2009, hlm. 61-75, 327-328).

Foucault membedakan antara parrhesia politik (hak bicara dalam demokrasi) dan parrhesia etis (yang berkaitan dengan perawatan diri atau epimeleia heaoutou) sebagai strategi perlawanan terhadap normalisasi biopolitik. Melalui parrhesia dan pembentukan “estetika eksistensi”, individu dapat menciptakan cara-cara baru dalam menjalani hidup yang tidak sepenuhnya terserap ke dalam kalkulasi biopolitik modern (Michel Foucault, Estética, ética y hermenéutica, Obras esenciales, Volumen III, Barcelona: Paidós, 1999, hlm. 196, 247, 351). Perlawanan sejati dimulai dari kemampuan subjek untuk menggunakan kebenaran secara kritis guna mentransformasi dirinya sendiri. Foucault menjelaskan bahwa parrhesia bukan sekadar teknik bicara, melainkan “praktik kebebasan” yang bertujuan menciptakan “estetika eksistensi”: “Keberanian akan kebenaran pada orang yang berbicara dan menanggung risiko untuk mengatakan, seluruh kebenaran yang ia pahami” (Michel Foucault, El coraje de la verdad. El gobierno de sí y de los otros II, hal. 32).

Baca juga :  Pesan di Hari Pahlawan

Oleh karena itu, perlawanan terhadap neoliberalisme bagi Foucault tidak dapat dilakukan hanya melalaui revolusi institusional, melainkan harus melibatkan transformasi mendalam pada level subjektivitas melalui apa yang dia sebut sebagai “teknik diri”. Teknik diri didefinisikan sebagai serangkaian praktik yang memungkinkan individu melakukan sejumlah operasi pada tubuh, jiwa, dan pikiran mereka sendiri guna mencapai transformasi etis. Foucault mengeksplorasi tradisi Yunani kuno mengenai epimeleia heautou atau “perawatan diri” sebagai landasan bagi politik (Michel Foucault, El coraje de la verdad. El gobierno de sí y de los otros II, hal. 22-23). Ia menegaskan bahwa seseornag tidak dapat memerintah orang lain secara adil jika ia belum mempu memerintah dirinya sendri secara etis. Foucault menulis begini: “parrhesia, selama waktu yang lama, merupakan tautan penghubung antara perawatan diri dan perawatan orang lain, antara pemerintahan diri dan pemerintahan orang lain” (Michel Foucault, Discurso y verdad en la antigua Grecia, hlm, 23). Dalam konteks neoliberal, teknik diri ini menjadi krusial karena ia menawawarkan cara untuk melepaskan diri dari subjeksi yang memaksakan identitas “pengusaha diri” yang kompetitif dan individualistik.

Perlawanan melalui teknik diri ini terwujud dalam apa yang disebut Foucault sebagai “kontra-konduksi” (Michel Foucault, Seguridad, territorio, población. Curso en el Collège de France (1977-1978), hlm. 269-270)). Kontra-londuksi merupakan seni untuk “tidak diperintah sedemikian rupa” atau menolak bentuk-bentuk kepemimpinan yang memaksakan normatif tertentu. Neoliberalisme menggunakan pasar sebagai “rezim veridiksi” untuk menentukan apa yang dianggap benar atau salah dalam tindakan pemerintahan. Sebagai tandingan neoliberalisme yang mendewakan produktivitas ekonomi, teknik diri seperti askesis (latihan etis) berfungsi sebagai sarana untuk membangun otonomi subjek (Michel Foucault, Historia de la sexualidad II. El uso de los placeres, Buenos Aires: Siglo Veintiuno Editores, 2008, hlm. 50).

Berbeda dengan disiplin yang bersifat memaksa kepatuhan dari luar, askesis adalah penguasaan diri yang bertujuan untuk menciptakan “estetika eksistensi”. Dengan merawat diri secara mandiri, individu belajar untuk membatasi keinginan yang dimanipulasi oleh pasar dan mengembangkan bentuk-bentuk relasi sosial yang tidak didasarkan pada logika pertukaran ekonomi semata. Foucault mencatat bahwa “manusia modern adalah binatang yang di dalam politiknya, kehidupannya sebagai makhluk hidup menjadi taruhan” (Michel Foucault, Historia de la sexualidad I. La voluntad de saber, Buenos Aires: Siglo Veintiuno Editores, 2005, hlm, 188). Oleh karena itu, menjadikan hidup sebagai sebuah “karya seni” merupakan tindakan politik yang radikal untuk menolak standarisasi biopolitik. Melalui pembentukan ethos yang kuat, individu dapat menciptakan komunitas-komunitas perlawanan yang didasarkan pada kejujuran intelektual dan saling memperhatikan sesama.

Perlawanan terhadap neoliberalisme, dengan demikian, dimulai dari level mikrofisika, di mana individu menolak untuk menjadi tubuh yang patuh buta dan memilih untuk menjadi subjek bebas melalui latihan etis yang terus-menerus. Foucault menegaskan bahwa “di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan”, dan perlawanan ini tercatat sebagai elemen yang tidak dapat direduksi dalam hubungan kekuatan. Strategi perlawanan terhadap rasionalitas neoliberal terletak pada kemampuan individu untuk melakukan “des-invidualisasi” terhadap identitas yang dipaksakan oleh kekuasaan. Teknik diri, parrhesia dan estetika eksistensi merupakan instrumen utama untuk mempraktikkan kebebasan di tengah jaringan biopolitik modern. Tujuan utama perjuangan ini bukan hanya untuk membebaskan individu dari negara, melainkan membebaskan diri kita dari tipe subjektivitas neoliberal yang telah mereduksi manusia menjadi sekadar komoditas ekonomi. Di si lain, keberanian untuk mengatakan kebenaran dan membentuk hidup secara otonom merupakan langkah pertama menuju seni untuk “tidak diperintah sedemikian rupa” pada era biokuasa kontemporer ini.

Komentar

Penulis : Melki Deni, S. Fil. Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol

Berita Terkait

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han
Masyarakat yang Terburu-buru
Masyarakat Smombi
Masyarakat Telanjang
G.W.F. Hegel: Negara dan Sittlichkeit
Emotikon, Krisis Perhatian dan Filsafat Teknologi
ChatGPT dan Tugas Filsafat Teknologi
Neoliberalisme, Krisis Multidimensi dan Transformasi Paradigma Pembangunan
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 05:05 WITA

Paradoks Masyarakat Kita: Antara Kebebasan dan Kelelahan

Rabu, 27 Mei 2026 - 14:00 WITA

Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB

Senin, 25 Mei 2026 - 20:43 WITA

Prabowonomics: Dari Neoliberalisme Menuju State Capitalism

Rabu, 21 Februari 2024 - 19:07 WITA

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Minggu, 18 Februari 2024 - 16:18 WITA

Demokrasi dan Kritisisme

Jumat, 9 Februari 2024 - 18:26 WITA

Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?

Selasa, 6 Februari 2024 - 19:06 WITA

Dari Ledalero untuk Indonesia: Menyelamatkan Demokrasi dari Jerat Kuasa?

Senin, 22 Januari 2024 - 20:58 WITA

Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit

Berita Terbaru

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA

Politik

Paradoks Masyarakat Kita: Antara Kebebasan dan Kelelahan

Senin, 1 Jun 2026 - 05:05 WITA