Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

- Admin

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Tanggapan terhadap tulisan Ican Pryatno berjudul “Paradoks Masyarakat Kita: Antara Kebebasan dan Kelelahan”)

Indodian.com – Apa sesungguhnya yang dimaksudkan oleh Byung-Chul Han dengan kebebasan, neoliberalisme, auteksploitasi, dan kelelahan? Ican Pryatno sudah menjelaskan begitu singkat terkait term-term itu dalam pandangan Byung-Chul Han, dengan menyebutkan tiga buku Byung-Chul Han tanpa menjelaskan secara detail, dan mengutip bunyi pemikirannya secara teliti. Ini tentu saja dapat membingungkan pembaca yang baru mengenal Byung-Chul Han, filsuf Korea Selatan yang hidup di Jerman, dan sudah terkenal di Eropa, Amerika Latin, Amerika Serikat, dan beberapa tempat lainnya.

Byung-Chul Han dalam bukunya Psicopolítica: Neoliberalismo y nuevas técnicas de poder, Barcelona, Herder Editorial, 2014, (terjemahan bahasa Inggris: Psychopolitics: Neoliberalim and New Tecnologies of Power, London, Verso, 2017), mengawali tesisnya tentang biopolitik dengan melakukan dekonstruksi terhadap analisis kekuasaan Michel Foucault. Han menyatakan bahwa “kebebasan akan terbukti hanyalah sebuah interlude”. Menurut Han, kita sedang berada dalam transisi kritis dari masyarakat disiplin (disciplinary society) Foucault yang ditandai oleh tembok penjara, rumah sakit jiwa, dan barak ─dunia yang diatur oleh negativitas “harus” (should) dan larangan “tidak boleh” (may not)─, menuju masyarakat pencapaian (achievement society) yang digerakkan oleh positivitas “bisa” (can). Perubahan ini bukan sekadar pergantian sistem, struktur, dan strategi, melainkan juga mutasi fundamental dalam cara kekuasaan beroperasi di bawah rezim neoliberalisme.

Dalam kerangka pemikiran Han, neoliberalisme adalah sistem yang sangat efisien karena ia tidak lagi menindas kebebasan, tetapi mengeksploitasinya. Kebebasan yang kita rasakan saat ini hanyalah fase transisi sebelum ia berubah menjadi bentuk paksaan, penindasan, dan larangan baru yang lebih efektif karena bersifat internal.

Rezim neoliberal tidak lagi bekerja melalui penindasan fisik, tetapi melalui “Smart power” (kekuasaan cerdas) yang bersifat afirmatif, merangsang dan menggoda. Han menjelaskan begini: “Sistem pencapaian neoliberal sangat efisien karena ia tidak bekerja melalui penindasan dan pelarangan, tetapi melalui kesenangan dan pemenuhan… Ia tidak membuat orang menjadi patuh, melainkan membuat mereka menjadi dependen” (Byung-Chul Han, Psicopolítica, hlm. 17).

Kekuasaan ini menyusup ke dalam jiwa (psyche) melalui media digital, mengubah subjek menjadi “proyek” yang terus-menerus harus dioptimalkan. Dalam pandangan neoliberal, kebebasan individu menjadi alat bagi modal untuk melipatgandakan dirinya; persis di sinilah bukan manusia yang dibebaskan, melainkan modal yang dibebaskan untuk mengisap nafas (pulse) kehidupan melalui kompetisi total abadi. Inilah proses penciptaan masyarakat eksploitasi.

Pilar utama masyarakat eksploitasi abad ke-21 adalah fenomena autoeksploitasi (eksploitasi diri). Jika dalam kapitalisme industri Marxian terjadi eksploitasi oleh pihak luar, di mana pemilik modal mengisap buruh, maka dalam neoliberalisme, batas antara penindas dan yang tertindas telah runtuh. Han menjelaskan bahwa dalam sistem neoliberal, subjek pencapaian melakukan eksploitasi terhadap dirinya sendiri secara sukarela, bahkan penuh semangat, karena disertai perasaan bebas. Bagaimana bisa demikian? Han berpendapat bahwa “Saat ini, setiap orang adalah buruh yang mengeksploitasi dirinya sendiri di dalam perusahaannya sendiri. Setiap orang adalah tuan dan budak dalam satu pribadi” (Byung-Chul Han, Psicopolítica, hlm. 10).

Keunikan autoeksploitasi adalah ia disertai dengan perasaan bebas. Seseorang merasa sedang merealisasikan dirinya, padahal ia sedang menguras habis sumber daya mentalnya. Han merujuk pada metafora kafkian (dijelaskan oleh Franz Kafka dalam La metamorfosis) tentang hewan yang merebut pecut dari tuannya untuk mencambuk dirinya sendiri agar menjadi “tuan” bagi dirinya sendiri. Apa kaitan antara metafora kafkian dan perjuangan kelas dan kebebasan? Perjuangan kelas yang dahulu bersifat eksternal, kini menjadi perjuangan melawan diri sendiri. Subjek pencapaian terus-menerus berupaya “mengoptimalkan dirinya sendiri sampai mati” demi mencapai citra ideal yang didiktekan oleh sistem neoliberalisme. Di sini, akibatnya, tidak ada lagi “Liyan” (the Other) yang bisa dipersalahkan; kegagalan dianggap sepenuhnya sebagai kesalahan pribadi, yang memicu rasa malu, cemas berlebihan dan kebencian pada diri sendiri, yang kemudian berujung pada ledakan penyakit neuronal. Lalu, apa dampak dari kegiatan autoeksploitasi ini?

Dampak dari autoeksploitasi tanpa kendali ini adalah ledakan penyakit neuronal seperti depresi dan burnout. Han mendefinisikan depresi sebagai “kelelahan kreatif dan kelelahan kemampuan” (creative fatigue and exhausted ability) (Byung-Chul Han, The Burnout Society¸ Standford, Stadford University Press, 2015, hlm. 11). Kecemasan berlebihan dan depresi akut muncul ketika subjek “can not be able to be able” di tengah dunia yang meneriakkan bahwa “tidak ada yang tidak mungkin” dan kompetisi total.

Baca juga :  Seni Memahami Menurut Schleiermacher

Masyarakat autoeksploitasi neoliberal menciptakan “zombie pencapaian” yang hanya mengejar kelangsungan hidup biologis atau “bare life”. Akibatnya, narasi besar dan nilai-nilai transenden hilang. Karena hilangnya narasi besar dan nilai-nilai transenden, maka kesehatan fisik menjadi tuhan baru yang harus disembah. Seseorang terobsesi dengan self-tracking dan kebugaran, namun hal ini, secara paradoks, menghancurkan vitalitas jiwanya. Atas kondisi paradoks ini, Han menyimpulkan secara puitis “we are too alive to die, and too dead to live.” (Byung-Chul Han, Capitalism and the Death Drive, Cambridge, Polity Press, 2021, hlm. 14).

Rezim neoliberalisme dan digitalisasi juga menyebabkan fragmentasi perhatian. Han membedakan antara hiper-perhatian (hyperattention) dan perhatian mendalam (deep attention) (Byung-Chul Han, The Burnout Society, hlm. 13). Hiper-perhatian dicirikan oleh perubahan fokus yang cepat antara berbagai tugas dan stimulasi informasi, yang menurut Han merupakan bentuk regresi menuju perilaku hewan di alam liar yang harus selalu waspada terhadap predator (Byung-Chul Han, The Burnout Society, hlm. 12). Tanpa perhatian mendalam, pencapaian budaya manusia, di sini termasuk filsafat dan seni, menjadi mustahil. Kita hidup di dalam “neraka kesamaan” (inferno of the same), di mana komunikasi digital hanya mempercepat sirkulasi informasi tanpa memberikan makna atau narasi yang mendalam (Byung-Chul Han, The Agony of Eros, Cambridge, MA: MIT Press, 2017, hlm. 1-2. 51-52). Di sinilah kebosanan yang mendalam, yang seharusnya menjadi “burung pemimpi yang menetaskan telur pengalaman”, kini dianggap sebagai hambatan produktivitas yang harus segera dihilangkan dengan stimulasi instan (Byung-Chul Han, The Burnout Society, hlm. 13).

Jika abad ke-19 ditandai dengan biopolitik (pengaturan tubuh dan populasi), maka pada era neoliberal ditandai dengan psikopolitik digital. Psikopolitik adalah teknik kekuasaan yang jauh lebih cerdas karena ia tidak bekerja melawan kehendak individu, tetapi mengarahkan kehendak tersebut. Han menjelaskan, “psikopolitik, dengan bantuan pengawasan digital, mampu membaca sekaligus mengendalikan pikiran. Pengawasan digital melepaskan diri dari optik Big Brother yang dinilai tidak andal, tidak efisien, dan bersifat perspektivistis. Pengawasan ini menjadi sangat efisien justru karena sifatnya yang nirperspektif. Kalau biopolitik tidak memungkinkan adanya intervensi halus dalam dimensi psikis manusia. Sebaliknya, psikokuasa memiliki kapabilitas untuk mengintervensi proses-proses psikologis tersebut” (Byung-Chul Han, En el enjambre, Barcelona: Editorial Herder, 2024, hlm. 104).

Psikopolitik neoliberal mengeksploitasi segala hal yang berkaitan dengan ekspresi kebebasan, termasuk emosi dan permainan. Emosi kini dianggap sebagai sumber daya produksi karena ia bersifat performatif dan dapat memicu tindakan tingkat pra-reflektif. Manajemen emosional jauh lebih efektif daripada manajemen rasional karena ia masuk lebih dalam ke dalam jiwa manusia (Byung-Chul Han, La desaparición de los rituales. Una topología del presente, Barcelona: Editorial Herder, 2020, hlm. 11-12). Dengan cara ini, kekuasaan neoliberal tidak lagi memaksa kita untuk patuh, tetapi membuat kita “menyukainya” melalui tombol “Like” di media sosial (Byung-Chul Han, Psicopolítica, hlm. 29).

Dalam sistem neoliberal, segala sesuatu yang berbeda atau asing sering dieliminasi untuk mempercepat sirkulasi modal. Komunikasi digital melalui Big Data tidak menciptakan dialog, tetapi hanya memuat akumulasi informasi yang dangkal. Hubungan antara psikopolitik dan teknologi termanifestasi dalam bentuk pengawasan total yang difasilitasi oleh Big Data. Han menyebut fenomena ini sebagai panoptikon digital (Byung-Chul Han, Psicopolítica, hlm. 20).

Berbeda dengan panoptikon tradisional Jermy Bentham di mana para narapidana diisolasi dan dipaksa bungkam, penghuni panoptikon digital justru berkomunikasi secara intensif dan menelanjangi dirinya sendiri secara sukarela. Dalam panoptikon digital, pengawasan tidak lagi bersifat negatif seperti melalui larangan dan pengawasan ketat dari luar, tetapi positif yakni dengan komunikasi dan tranparansi. Han menjelaskannya begini: “Transparansi adalah ideogi; ia adalah dispositif neoliberal. Secara paksa ia menyeret segala sesuatu ke luar untuk mengubahnya menjadi informasi” (Byung-Chul Han, Psicopolítica, hlm. 29). Transparansi telah menjadi ideologi neoliberal yang memaksa segala sesuatu untuk diubah menjadi informasi demi mempercepat sirkulasi modal (Byung-Chul Han, Psicopolítica, hlm. 21). Kita, lalu, membangun penjara kita sendiri dengan terus-menerus berbagi data, keinginan, dan preferensi kita di internet (Byung-Chul Han, Capitalism and the Death Drive, hlm. 25. 29.40).

Big Data dalam panoptikon digital bertindak sebagai instrumen psikopolitik yang memungkinkan prediksi perilaku manusia secara massal. Dengan cukup data, angka-angka dianggap “berbicara sendiri”, sehingga teori dan kehendak bebas manusia di sini tidak relevan lagi (Byung-Chul Han, En el enjambre, hlm. 105). Inilah bentuk pengawasan total yang sesungguhnya, di mana kekuasaan yang mampu membaca pikiran dan mengarahkan masa depan bahkan sebelum individu itu sendiri menyadarinya. Tidak hanya tidak menyadari masa depannya, individu juga kehilangan relasi dengan “the Other”, sebagai pilar ko-eksistensinya.

Baca juga :  Neoliberalisme dan Korosi Ekologi

Hilangnya “Sang Lyan” (the Other) berarti hilangnya Eros, karena Eros hanya mungkin ada jika terdapat pengakuan misteri dan alteritas orang lain. Tanpa Eros, jiwa terjebak dalam narsisme yang mematikan, di mana di dunia hanya dianggap sebagai cermin dari ego yang kesepian, dan subjek yang dikepung kecemasan berlebihan. Barangkali kita bertanya, kira-kira bagaimana kita mengatasi paradoks ini?

Sebagai solusi atas paradoks ini, Han memperingatkan agar masyarakat auteksploitasi menghidupi “Vita Contemplativa” (kehidupan kontemplatif). Han merujuk pada peringatan Nietsche bahwa tanpa elemen kontemplatif, peradaban akan berubah menjadi “barbarisme baru” (Byung-Chul Han, Vita contemplativa. Eligio de la inactividad, Barcelona: Taurus, 2023, hlm. 11-13). Vita contemplativa bukan sekadar kepasifan, melainkan bentuk aktivitas yang lebih tinggi karena ia melibatkan kemampuan untuk mengatakan “tidak” terhadap impuls-impuls luar. Han menyebut ini sebagai “potensi negatif” (negative potency). Tanpa potensi negatif ini, subjek akan mudah terjatuh ke dalam hiperaktivitas yang fatal, di mana ia hanya bisa bereaksi tanpa benar-benar bertindak secara berdaulat, bebas, dan bertanggung jawab.

Perlu disampaikan di sini beberapa unsur penting dalam vita contemplativa yang diusulkan Han yaitu (a) pedagogi melihat, bagaimana seseorang belajar untuk menahan diri dari reaksi instan terhadap rangsangan digital); (b) keheningan dan jeda (ini berseberangan dengan kapitalisme yang “tidak menyukai keheningan” karena keheningan tidak menghasilkan apa-apa” (Byung-Chul Han, Capitalism and the Death Drive, hlm. 104), namun keheningan adalah medium roh; (c) ketidakbergunaan yang berguna (keberanian subjek untuk melakukan hal-hal yang tidak memiliki tujuan ekonomi atau efisiensi neoliberal; dan (d) perhatian mendalam (di sini berbeda dengan hiper-perhatian digital, perhatian mendalam memungkinkan manusia untuk “berlama-lama secara kontemplatif” (contemplative lingering).

Han, dalam konteks ini, menulis: “Seseorang yang lelah dapat dilihat sebagai figur Orpheus baru; binatang-binatang liar berkumpul di sekelilingnya dan akhirnya mampu bergabung dalam kelelahannya. Kelelahan memberikan prinsip dasar yang menyatukan bagi individu-individu yang tercerai-berai… Jika ‘komunitas Pentekosta’ menawarkan sinonim bagi masyarakat masa depan, maka masyarakat yang akan datang dapat pula disebut sebagai masyarakat keletihan.” (Byung-Chul Han, Ther Burnout Society, hlm. 34).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dilihat hubungan antara kebebasan, neoliberalisme, digitalisasi, dan autoeksploitasi, telah menciptakan penjara digital tanpa dinding di mana individu merasa bebas padahal sedang menghancurkan dirinya sendiri. Han memperingatkan bahwa kita sedang menghadapi krisis kebebasan yang sangat dalam. Kebebasan telah berubah menjadi paksaan, dan subjek pencapaian telah menjadi “homo sacer” (Giorgio Agamben) bagi dirinya sendiri, seorang yang “suci” namun sekaligus dikorbankan demi efisiensi sistem (Byung-Chul Han, Capitalism and the Death Drive, hlm. 39).

Dalam bukunya Vita contemplativa. Eligio de la inactividad, Han menawarkan jalan keluar melalui revolusi waktu; sebuah waktu yang tidak dapat dieksploitasi oleh modal. Han menyarankan kita untuk menjadi sedikir “idiot”, dalam arti heretik atau orang yang berani memutus hubungan dengan konsensus digital. Menjadi idiot di sini berarti berani “diam”, berani tidak berpartisipasi dalam sirkulasi informasi yang berlimpah ruah, dan berani untuk tidak memiliki tujuan selain kehagiaan hidup itu sendiri.

Namun demikian, kita tidak serta-merta menerima dan menelan begitu saja pemikiran Han. Karena itu, kita perlu mengidentifikasi potensi titik lemah pemikiran Han dengan pisau analisis pemikir lain seperti Michel Foucault, Giorgio Agamben, dan Antonio Negri dalam diagnosisnya mengenai masyarakat modern.

Pertama, Han mengabaikan keberlangsungan kekuasaan disiplin. Menurut Han, kita telah sepenuhnya meninggalkan “masyarakat disiplin” Foucault menuju “masyarakat pencapaian”. Han hanya memusatkan perhatian pada subjek kelas menengah di negara maju (Barat/Eropa), dan tidak membaca di belahan dunia lain atau dalam institusi tertentu seperti penjara, pusat detensi imigrasi, tukang-tukang bangunan, parah buruh kasar, pabrik-pabrik buruh, dll., kekuasaan disipilin, pembangunan tembok fisik, dan penindasan tubuh masih sangat dominan.

Kedua, Han mengklaim bahwa revolusi tidak mungkin terjadi hari ini karena setiap orang adalah, menurut Han, “tuan dan budak” bagi dirinya sendiri; tidak ada musuh eksternal (Lyan) yang bisa dilawan. Kritikus seperti Antonio Negri berpendapat bahwa Han mengabaikan kekuatan “multitude” (massa yang terjerjaring). Meskipun individu merasa terisolasi, teknologi digital juga menyediakan sarana untuk mobilisasi kolektif yang masif (seperti yang terjadi di Indonesia saat ini, Amerika Serikat, Iran, Israel dan protes global lainnya). Pandangan Han ini terkesan terlalu deterministik dan mengabaikan agensi manusia untuk membentuk perlawanan baru di dalam sistem itu sendiri. Foucault bilang: “di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan”.

Baca juga :  Apa yang Anda Ketahui tentang Kebenaran?

Ketiga, sebagai solusi atas kelelahan masyarakat, Han mengusulkan kembalinya vita vontemplativa, kemampuan untuk diam, hening, dan menjadi sedikit “idiot” (dalam arti heretik yang tidak berpartisipasi). Strategi perlawanan berupa “diam”, “hening”, atau “tidak berbuat apa-apa” (inactivity) dapat dianggap sebagai posisi yang elitis, lebih tepatnya sangat kaku terhadap agresivitas dan kompetisi ekonomi-politik. Bagi masyarakat atau pekerja yang sudah telanjur terjebak dalam kemiskinan sistemik dan struktural, berhenti beraktivitas, mengambil posisi “kontemplatif” atau “tidak berbuat apa-apa”, bukanlah pilihan yang tepat bagi keberlangsungan hidupnya. Di sini kita dapat melihat Han sebagai seorang “diagnostik” yang hebat namun menawarkan “obat” yang kurang mujarab dan praktis bagi perubahan sistem dan struktur sosial-ekonomi, dan sosio-kultural yang nyata. Masalah di Papua, Iran, Libanon, Ukraina, dan belahan dunia lain, tidak bisa diselesaikan dengan “inactivity”.

Keempat, Han berpendapat bahwa Big Data dan psikopolitik digital telah mengakhiri kehendak bebas karena perilaku manusia sekarang ini bisa diprediksi secara total oleh teknologi. Pandangan ini dapat dikritik sebagai bentuk determinisme teknologi. Mengapa? Karena Han mengasumsikan bahwa algoritma memiliki kekuatan absolut atas jiwa manusia. Namun, sejarah menunjukkan bahwa manusia selalu menemukan cara baru untuk memanipulasi, meretas atau keluar dari sistem pengawasan, dalam hal ini, pengawasan digital dan politik kekerasan. Han mungkin meremehkan resilience subjetivitas manusia yang tidak selalu bisa dikuantifikasi oleh data.

Keempat, meskipun Han membahas sistem neoliberalisme, fokus utamanya adalah dimensi psikis, atau dalam istilahnya, psikopolitik. Kritikus ekonomi-politik lain  bisa saja berargumen bahwa Han terlalu banyak berfokus pada keheningan “jiwa” dan kurang memberikan perhatian pada strukur material modal seperti kepemilikan tanah, sumber daya alam, dan ketimpangan distribusi kekayaan, yang tetapi menjadi dasar ketidakadilan dan penyimpangan global, bahkan menimbulkan peperangan dan kematian tak terkendali. Dengan memusatkan perhatian pada “autoeksploitasi” mental, tentu saja ada risiko kita akan mengabaikan bagaimana struktur ekonomi makro secara aktif memaksa individu ke dalam kondisi tersebut. Selain itu, pemikiran Foucault dan Agamben yang mengaitkan neoliberalisme dengan eksploitasi atas tubuh masih selalu aktual sepanjang sejarah umat manusia. Silvia Federici, dalam “Caliban and the Witch” juga menekankan bahwa sistema kapitalisme tidak akan bisa hidup atau mendapatkan keuntungan tanpa adanya kerja reproduksi tak berbayar (unpaid reproductif labor) yang pada umumnya dibebankan kepada perempuan. Neoliberalisme tidak hanya merampas tanah, kebebasan, keadilan, dan kebenaran, tetapi juga merampas dan mendisiplinkan tubuh perempuan. Sampai kapan pun, bisnis perbudakan seksual (tubuh) di bawah rezim neoliberalisme tidak akan mati, dan justru karena itu, ia hidup. Han tidak paham hal ini.

Keenam, Han mengatakan bahwa dalam sistem neoliberalisme, “kebebasan dan paksaan menjadi satu” (Byung-Chul Han, Psicopolítica, hlm. 43-48; dalam terjemahan bahasa Inggris, ini dijelaskan di bagian 6 “Healing as Killing”). Secara filosofis, ini merupakan klaim provokatif, namun tentu saja dapat diperdebatkan. Jika kebebasan didefinisikan sebagai ketiadaan hambatan eksternal, maka subjek neoliberal memang “bebas”. Namun, di sini, Han mengubah definisi kebebasan menjadi sesuatu yang negatif secara inheren, sehingga hampir tidak ada ruang bagi konsep “kebebasan yang positif” atau emansipatif dalam teorinya. Selain itu, kekerasan fisik, pembunuhan, pembantaian, dan pengecualian hukum masih nyata terjadi di banyak tempat, tidak semua orang memiliki “kemewahan” untuk hanya mengalami autoeksploitasi mental, dan tidak semua rakyat bisa kebal terhadap kekerasan negara lewat aparatusnya, serta tidak semua orang kebal terhadap hukum.

Akhirnya, saya perlu berterima kasih kepada Ican Pryatno atas keberaniannya mengkritisi “masyarakat kita” dari pandangan Byung-Chul Han. “Masyarakat kita” di sini terkesan ada jarak (realitas berseberangan) antara Ican Pryatno dan objek yang ditulis. Apakah Ican Pryatno bukan “masyarakat kita”, yang dalam term Byung-Chul Han, “masyarakat autoeksploitasi” di era panotikon digital dan biopolitik neoliberal?

Komentar

Penulis : Melki Deni, S. Fil. Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol

Berita Terkait

Masyarakat yang Terburu-buru
Masyarakat Smombi
Masyarakat Telanjang
G.W.F. Hegel: Negara dan Sittlichkeit
Emotikon, Krisis Perhatian dan Filsafat Teknologi
ChatGPT dan Tugas Filsafat Teknologi
Neoliberalisme, Krisis Multidimensi dan Transformasi Paradigma Pembangunan
Masyarakat Informasi dan Problem Ketidakpastian
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 05:05 WITA

Paradoks Masyarakat Kita: Antara Kebebasan dan Kelelahan

Rabu, 27 Mei 2026 - 14:16 WITA

Pesta Babi: Pembangunan yang Memakan Manusia

Rabu, 27 Mei 2026 - 14:00 WITA

Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB

Rabu, 21 Februari 2024 - 19:07 WITA

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Minggu, 18 Februari 2024 - 16:18 WITA

Demokrasi dan Kritisisme

Jumat, 9 Februari 2024 - 18:26 WITA

Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?

Selasa, 6 Februari 2024 - 19:06 WITA

Dari Ledalero untuk Indonesia: Menyelamatkan Demokrasi dari Jerat Kuasa?

Senin, 22 Januari 2024 - 20:58 WITA

Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit

Berita Terbaru

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA

Politik

Paradoks Masyarakat Kita: Antara Kebebasan dan Kelelahan

Senin, 1 Jun 2026 - 05:05 WITA

Politik

Pesta Babi: Pembangunan yang Memakan Manusia

Rabu, 27 Mei 2026 - 14:16 WITA