Ponsel, Phubbing dan Membaca Etika Tanggung Jawab Emmanuel Levinas  

- Admin

Senin, 12 September 2022 - 18:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekelumit Tentang Phubbing   

Barangkali segelintir orang tidak mengetahui arti term “phubbing” secara literer, padahal kalau dalam praktiknya, sebagian besar orang telah melakukan phubbing dalam kehidupannya sehari-hari. Tanpa disadari bahwa kita adalah phubbingers sejati. Phubbing merupakan kosa kata baru, kependekan dari ‘phone snubbing’, untuk tindakan acuh seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gawai ketimbang berinteraksi atau melakukan percakapan (Media Indonesia.com/29/05/2018).

Istilah phubbing tercipta dari kata phone, artinya telpon, dan snubbing, yang berarti menghina. Terminologi ini pertama kali tercetus pada Mei 2012 lalu di Australia. Kala itu, sebuah biro iklan negara tersebut menggunakan istilah phubbing untuk menggambarkan fenomena yang berkembang di eral digital ini. Banyak orang mengabaikan teman dan keluarga yang berada tepat di depannya karena malah lebih asyik dengan ponselnya (Kompas.com/22/11/2021).

Teman yang ada di sampingnya tidak lagi dipandang sebagai individu yang tampak, tetapi hanya sebatas obyek bayangan semata. Yang tampak pada pandangannya hanyalah gadget yang ia pegang. Ia tidak mau memerhatikan teman di samping, tetapi lebih fokus pada gadgetnya sehingga tindakan semacam ini serentak disebut sebagai tindakan anti sosial.

Baca juga :  Memento Mori: Bisikan Filsafat tentang Kematian

Manusia sebagai makhluk sosial (homo socius) semestinya ia tidak terlalu monoton. Artinya, manusia tidak terlalu berpihak pada diri sendiri, sebab manusia berada di tengah realitas sosial yang pada hakekatnya mesti hidup bersama dan berelasi dengan yang lain tanpa syarat.

Tanpa relasi dengan yang lain, manusia menjadi mahkluk individualis yang pandai menyelipkan diri dari faktum sosial. Dalam hal ini, ia lebih introvert mengabaikan yang lain dengan tidak sadar bahwa ternyata apa yang dilakukannya merupakan tindakan anti sosial. Terlepas dari itu juga dapat dikatakan bahwa tindakan semacam itu akhirnya dapat menciptakan polemik baru terutama dalam hubungan sosial, keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar.

Tindakan mengabaikan orang lain dapat merusak hubungan, baik dengan pasangan keluarga, teman, teman kerja, atau orang-orang di sekitar. Sebab, orang yang diabaikan akan merasa marah, kecewa, dan tidak suka dengan “si phubber“ yakni orang yang melakukan phone snubbing (Liputan6.com  09/05/2022). Berawal dari situasi ini, maka terciptanya kesenjangan baru dalam relasi sosial yakni berujung pada keterpisahan. Untuk itu, penulis coba membaca dan sekaligus mengadopsi pandangan filosofis dari seorang pemikir Prancis, Emmanuel Levinas yang juga persis dalam filsafatnya membicarakan tentang yang lain.

Membaca etika tanggung jawab Emmanuel Levinas

Baca juga :  Homo Digitalis Menurut Martin Heidegger dan Hans Jonas

Secara umum, corak filsafat Levinas lebih berbicara tentang Yang Lain. Kehadiran Yang Lain menurutnya tidak hanya sampai pada konsep atau abstrak saja, tetapi sebagai individu yang tampak dan riil di mana keberadaannya sebagai cerminan dari subyek Sang Aku. Untuk itu, kehadirannya kita mesti bertanggung jawab secara etis sebagai pengakuan akan ada Yang Lain. Kejadian etis ini menjadi lebih nyata dalam setiap respons.

Suatu perbuatan etis tertentu lahir karena suatu respons yang diberikan terhadap suatu kehadiran. Respons tidak lahir begitu saja dari dalam diri tanpa suatu sebab dari Yang Lain. Saya menyapa seseorang, karena ia berada di depanku. Saya menampung dan memberi makan kepada tamu, karena tamu itu hadir di hadapanku. Menurut Levinas, respons muncul karena kehadiran Yang Lain di hadapanku (Baghi; 2012).

Lebih lanjut, Respons dalam pandangan Levinas bersentuhan dengan tindakan responsabilité, karena wujud konkret dari respons adalah tanggung jawab. Lebih tepat, respons dapat dilihat sebagai sikap etis seseorang yang telah siap untuk menanggung suatu jawaban dalan tindakan bertanggung jawab (Baghi; 2012).

Baca juga :  Mengapa harus ada Negara?

Dalam hal ini, ternyata yang paling penting dan utama adalah respons terhadap kehadiran Yang Lain. Levinas tekankan bahwa respons mesti berlandaskan pada sikap siap sedia, yang dalam bahasanya disebut sikap seorang hamba yang merendah dan selalu menjawab: Ini aku!, me voi co!  dan aku siap untuk menanggung konsekuensi atas panggilan dari Yang Lain (Baghi: 2012). Dengan itu, menunjukan bahwa apa yang hadir di hadapan aku merupakan bukan sebatas obyek bayangan, melainkan subjek yang benar-benar tampak. Untuk itu, patut kita hargai kehadirannya.

Kehadiran Yang Lain di hadapanku adalah cerminan dari subjek aku. Ia bukan objek yang boleh kita permainkan sama seperti boneka yang sama sekali tidak berkodrat. Dengan kata lain, ia tidak sekedar ada begitu saja tanpa identitas, tetapi sebagai subjek yang berada dan bernilai di mana selalu membutuhkan respons dari sang aku. Keresponan sang aku terhadapnya merupakan bentuk tanggung jawab etis.

Komentar

Berita Terkait

Masyarakat yang Terburu-buru
Masyarakat Smombi
Masyarakat Telanjang
G.W.F. Hegel: Negara dan Sittlichkeit
Emotikon, Krisis Perhatian dan Filsafat Teknologi
ChatGPT dan Tugas Filsafat Teknologi
Neoliberalisme, Krisis Multidimensi dan Transformasi Paradigma Pembangunan
Masyarakat Informasi dan Problem Ketidakpastian
Berita ini 131 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Oktober 2022 - 18:26 WITA

Perlawanan Tanpa Titik dalam Novel “Perempuan di Titik Nol”

Jumat, 3 Desember 2021 - 00:22 WITA

Kesederhanaan yang Megah dan Niat Baik Menyelamatkan yang Terbuang

Rabu, 14 April 2021 - 13:54 WITA

Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Berita Terbaru

Sastra

Pantun Berlawanan dengan Puisi

Sabtu, 25 Okt 2025 - 16:31 WITA

Pendidikan

Kaum Muda dan Budaya Lokal

Jumat, 15 Mar 2024 - 19:27 WITA