Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

- Admin

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pardigma Perubahan

Indonesia tengah mengalami paradigma perubahan dalam rangka membangun Indonesia baru, di atas komitmen religius dan humanis, keadilan,  etika, demokrasi, HAM, setidak-tidaknya itulah yang saat ini kita perjuangkan. Pertanyaannya, akankah   paradigma perubahan    sekaligus membawa pergeseran nilai budaya pada warga bangsa kita? Jawabannya dilematis.

Perubahan  tidak berarti ada mall,  ada jalan toll, banyak hotel berbintang, mahasiswa menenteng hand phone baru, ada baju dan sepatu baru, jalan diaspal, banyak koruptor di tangkap, banyak kendaraan mewah berseliweran di jalan. Namun perubahan itu bisa juga diterjemahkan lain yakni seluruh sistem budaya mengalami kematian alias mandeg.

Kita boleh membangun mall, hotel mewah,  jalan tol, namun sedikit diantara kita yang  merasa prihatin dengan kemiskinan, stunting, kelaparan, keadilan, perdagangan perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, ini sama  hal dengan kematian  alias mandeg alias tidak maju. Atau lebih berdosa lagi, kita dengan gigih menyusun program anggaran pembangunan demi  melegitimasi kebudayaan, tapi mutu kebudayaan tetap merosot, dengan kata lain menyusun program demi melegitimasi kebudayaan, tapi tetap tidak memelihara, sama dengan tidak maju alias mandeg. 

Baca juga :  Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Kendati kita sadar bahwa anggaran pembangunan yang kita terima dibiayai dari pinjaman luar negeri (hutang) yang pada akhirnya secara langsung  atau tidak, terarah pada penciptaan dan pengekalan ketergantungan (dependecy of perpetuate ). Manifestasi  dari kondisi seperti ini  pembangunan cenderung tidak  menjamah kepentingan kebudayaan dan bahkan menciptakan core area  dan peripheral area di masing-masing daerah, serta tidak mendidik bangsa sendiri untuk mandiri.

Sadar atau tidak sebagai dampak pembangunan, warga bangsa  kita saat ini telah terpisah menjadi tiga komunitas kasta baru (new caste community) yang berbeda tajam. Komunitas pertama adalah core society atau kasta inti (core caste ) dengan ciri-ciri: stabil/kuat ekonominya, terjamin masa depannya, memiliki akses kekuasaan cukup tinggi. Mareka yang masuk dalam kasta ini sebut saja  komunitas sisa-sisa feodal (pejabat negara) dan mereka tetap haus akan kekuasaan, wanita, dan harta. Makanannya kebanyakan dari produk kapitalis.

Baca juga :  Menjaga Warisan Nenek Moyang dengan Cara Kekinian

Kedua, middle society atau kasta setengah pinggiran (semi peripheral  caste) yakni, lahir dari masyarakat campuran antara sisa-sia feodal dan masyarakat idealis, dengan ciri-ciri   menggantungkan diri pada idealisme,  masyarakat rasional, mereka tidak membutuhkan penghargaan yang tinggi. Yang termasuk dalam kasta ini adalah para cendekiawan, kaum profesional, seniman, budayawan, rohaniawan, wartawan, penulis, jauh dari kekuasaan atau pengaruh, kesadaran politiknya tinggi, akses ke masyarakat cukup tinggi. Komunitas ini adalah  orang-orang yang “berumah di atas angin“, (WS. Rendra, 1976),  tidak mau terikat oleh suatu sistem yang menghalangi kebebasannya.

Baca juga :  Cerita Tuna Penjaga Mata Air

Ketiga, peripheral society atau kasta pinggiran (peripheral caste), yakni tidak stabil, mudah bergeser dari satu sektor ke sektor lain, cepat berpindah pekerjaan, tidak mempunyai idealisme, hidupnya sederhana, berani hidup sengsara, kehidupannya berlangsung dari tangan ke mulut, makanannya  dari produk lima jarinya. Namun mempunyai andil besar terhadap politik dan kekuasaan (contohnya pada waktu pemilu atau pilkada). Komunitas ini kita namakan saja    “masyarakat  apung”. Mereka adalah kelompok yang besar jumlahnya.  Mereka ini sebenarnya adalah sasaran pembangunan. Sebagian dalam komunitas ini adalah petani yang menyiapkan makanan bagi negara ini. Namun mereka tidak pernah diperhatikan oleh negara. Tidak mendapat subsidi sedikitpun. Mereka mempunyai tanggungjawab besar terhadap bangsa dan negara ini. 

Komentar

Berita Terkait

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai
Lingko dalam Festival Golo Koe  
Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT
Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai
Merayakan Hari Kasih Sayang
Aku Caci, Maka Aku Ada
Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air
Nakeng Sabi, Tradisi Masyarakat Manggarai yang Mulai Hilang
Berita ini 811 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 31 Oktober 2022 - 18:26 WITA

Perlawanan Tanpa Titik dalam Novel “Perempuan di Titik Nol”

Jumat, 3 Desember 2021 - 00:22 WITA

Kesederhanaan yang Megah dan Niat Baik Menyelamatkan yang Terbuang

Rabu, 14 April 2021 - 13:54 WITA

Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Berita Terbaru

Sastra

Pantun Berlawanan dengan Puisi

Sabtu, 25 Okt 2025 - 16:31 WITA

Pendidikan

Kaum Muda dan Budaya Lokal

Jumat, 15 Mar 2024 - 19:27 WITA