Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

- Admin

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Kita Akarkan

Pertanyaan yang paling mendasar menuju masyarakat Indonesia baru,  dari serangkaian fenomena di atas adalah bentuk budaya yang bagaimana masyarakat Indonesia baru itu akan kita akarkan, karena pengakaran budaya baru itu akan menandai jati diri dan ketahanan budaya Indonesia masa depan. Karena itulah masalah ini sangat kritis dan perlu sikap kehati-hatian. Pada hematnya jati diri kebudayaan Indonesia, harus ditumbuhkembangkan di atas nilai-nilai moralitas kebudayaan Indonesia, yang diaktualisasikan dengan perkembangan zaman. Ini tidak lain mengisyaratkan agar pembinaan kebudayaan sebagai proses yang berlanjut memang harus secara sadar dan penuh kesadaran dikerjakan.

Sebab masyarakat Indonesia baru itu haruslah hasil “ciptaan” budaya Indonesia sedangkan dikerjakannya harus dengan penuh kesadaran, artinya tidak bisa dipaksakan, melainkan disesuaikan dengan derap perkembangan masyarakat itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan hal ini tidaklah dapat diingkari bahwa modernisasi telah menumbuhkan momentum perubahan dan pergeseran masyarakat ke arah masyarakat Indonesia baru itu.

Baca juga :  Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Adanya modernisasi telah membuka cakrawala yang lebih lebar lagi atas pilihan-pilihan yang bisa diambil terhadap hampir semua hal.

Memilih inilah yang telah ikut mengambil bahagian dalam meningkatkan rasionalitas masyarakat Indonesia, sebab masyarakat Indonesia telah dihadapkan pada alternatif pilihan yang semakin kompleks yang tidak hanya ini atau itu saja.

Dalam menyongsong terbentuknya masyarakat Indonesia yang  sangat rasional itu maka sudahlah sewajarnya apabila kita pertanyakan: apakah kemampuan rasional yang semakin tinggi akan berakibat menipisnya kemampuan emosional kebudayaan yang menjadi penopang hidup kita?

Pada hematnya pembinaan kemampuan emosional kebudayaan untuk menumbuhkan kebudayaan harus ditempuh melalui lembaga keluarga, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga media (cetak dan elektronik) dan jangan dibiarkan menentukan  arahnya sendiri. Pendidikan budaya yang dilaksanakan secara sadar itu diperlukan untuk menahan dampak negatif dari arus modenisasi. Bahkan kebudayaan diungkap pula dalam bentuk proteksionisme yang pada dasarnya mengandung unsur survival bangsa, namun  kalau tidak terkendali akan menumbuhkan chauvinisme yang sangat berlebihan.

Baca juga :  Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Sehingga apabila di Barat terjadi gerakan kembali ke arah keagamaan yang awalnya dipacu oleh kepahaman harkat manusia, maka di Indonesia hal itu tidak akan dirasakan karena suasana keagamaan nampak jelas tetap menjadi landasan pada semua stratum kehidupan.

Sejalan dengan hal itu, kita merasa yakin bahwa jati diri kebudayaan kita mendatang akan tetap nampak jelas walaupun dengan kadar rasionalitas yang tinggi, melalui upaya-upaya pembinaan kebudayaan yang terencana.

Dengan demikian maka  kebudayaan kita saat ini maupun masa depan harus dibangun di atas komitmen nilai-nilai imanen kebudayaan Indonesia, penciptaan masyarakat mandiri (civil society), demokrasi, penanaman kesadaran tentang perlunya iptek yang humanis dan ramah terhadap lingkungan budaya, pengembangan etos kerja. Pokoknya membangun ketahanan budaya Indonesia secara arif dan kreatif serta menempatkan martabat manusia sebagai rohnya, maka mustahil  kebudayan kita akan mati.

Baca juga :  Lingko dalam Festival Golo Koe  

Pada hematnya pembinaan kemampuan emosional untuk menumbuhkan kebudayaan baru tadi secara terus menerus ditempuh melalui keluarga, pendidikan di sekolah, lembaga politik, lembaga pers, lembaga keagamaan, dan seterusnya dan  jangan dibiarkan menentukan arahnya sendiri. Pembentukan melalui lembaga tadi harus dilaksanakan secara sadar  dan terus menerus  untuk menahan dampak negatif dari pengaruh kebudayaan Barat. Maka ketahanan budaya dan jati diri kebudayaan kita   akan menjadi kuat dan tak terkoyak oleh kontamininasi budaya Barat.


* Ben Senang Galus,  penulis buku, “Kosmopolitanisme, Satu Jiwa Satu Negeri, tinggal di Yogyakarta.

Komentar

Berita Terkait

Ivan Nestorman: Mempertahankan Identitas Musik Flores di Tengah Arus Modernisasi
Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai
Lingko dalam Festival Golo Koe  
Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT
Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai
Merayakan Hari Kasih Sayang
Aku Caci, Maka Aku Ada
Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air
Berita ini 822 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA