Self Improvement

Canggihnya Kamera Smartphone dan Raibnya Nilai Kepahlawanan

Penulis : Jimmy Y. Hyronimus

Indodian.com – Beberapa waktu lalu Facebook Inc. meluncurkan salah satu fitur unggulan yakni Instagram reels. Fitur ini merupakan bagian dari upaya Meta (nama baru Facebook Inc.) menjaga popularitas dan menggaet konsumen pasar smartphone. Inovasi tersebut tentu merupakan sebuah tuntutan mengingat sebelumnya masyarakat media sosial telah lebih dahulu dilanda demam tik-tok. Demi menjaga kepercayaan dan kepuasan konsumen, Meta lantas berinovasi.

Inovasi memang merupakan sebuah progres yang tidak terbantahkan jika kita bekerja sebagai pengembang di bidang teknologi. Tanpa inovasi, grafik peminatan konsumen bisa dipastikan akan terus menukik ke bawah hingga mengalami kemerosotan. Kejatuhan perusahaan teknologi asal Finlandia, Nokia Corporation adalah salah satu contoh dari kelalaian akibat gagap inovasi. “Kita tidak membuat kesalahan, tetapi kita tetap kalah” demikian pernyataan Rajeev Suri, CEO Nokia, pada 2016 lalu ketika perusahaan tersebut diakusisi oleh Microsoft.

Siapa yang tak kenal dengan perusahaan asal Finlandia ini hingga tahun 2010. Pasar smartphone selalu dapat dikuasai dan dimonopoli oleh seri-seri terbaru dari Nokia. Akan tetapi setelah tahun 2010 hingga saat ini kita semua tahu nasib Nokia. Pernyataan Rajeev dalam acara akuisisi oleh Microsoft sebagaimana telah disebut di atas menjadi dasar dari kejatuhan Nokia.

Bagi Rajeev, kesalahan terbesar Nokia Corporation adalah dengan tidak membuat kesalahan. Kenyamanan akan pola dasar yang statis tanpa sebuah upaya melakukan inovasi adalah kesalahan fatal yang telah dibuat perusahaan tersebut.

Belajar dari pengalaman Nokia, hemat saya, membuat banyak perusahaan-perusahaan teknologi terus berlomba-lomba berinovasi agar semakin menarik banyak konsumen. Hal ini dapat kita lihat dalam kebijakan-kebijakan perusahaan-perusahaan smartphone seperti Xiaomi, Pixel milik Google, Samsung, Infinix, hingga Apple yang selalu menghendaki adanya pembaharuan fitur. Setiap tahun, di layar televisi kita, selalu ada tayangan iklan yang mempromosikan tentang peluncuran seri terbaru dari sebuah smartphone dengan segala kelebihannya.

Salah satu inovasi yang kerap dijadikan sebagai “jagoan” dari produk-produk yang diluncurkan adalah fitur kamera yang semakin canggih. Kamera adalah sebuah fitur yang tidak akan pernah terlewatkan dalam proses penyempurnaan mahakarya sebuah smartphone. Kita semua sulit membantah hal ini, sebab hingga sekarang, belum ada satupun smartphone yang melenyapkan fitur ini dari sebuah promosi seri terbaru. Hal yang sebaliknya justru terjadi, fitur kamera mendapat perhatian utama untuk dipromosikan.

Dalam acara peluncuran Iphone 13 dan Pixel 6 beberapa waktu lalu misalnya, kamera (lagi-lagi) dijadikan sebagai bintang utama promosi. Ketika memperkenalkan Iphone 13, dalam waktu 40 menit waktu presentasi, Apple mengalokasikan waktu khusus sekitar 18 menit untuk sekadar mengulas kamera. Sementara Google, dalam 54 menit  acara “Google Presents: Pixel Fall Launch”, memberikan waktu khusus sebanyak 17 menit, jauh lebih lama dibandingkan waktu yang disediakan untuk Tensor, System-on-Chip (SoC) buatan Google yang hanya memperoleh waktu 4 menit.

Padahal tanpa SoC, kamera smartphone hanya akan menjadi bahan cemoohan orang banyak. Hal yang lebih mencengangkan lagi tentang pengagungan kamera ini, dapat kita lihat dalam peluncuran smartphone Sonny Xperia ProI yang mengalokasikan semua waktu 22 menit dari keseluruhan presentasi untuk membahas kamera (Tirto.com). Luar biasa bukan?

Atensi yang Tinggi Terhadap Fotografi

Baca juga :  Pansos Boleh, Tapi Ada Batasnya

Tiga contoh di atas mengantar kita untuk tak lagi memiliki alasan membantah adanya “penganak emasan” fitur kamera. Akan tetapi pertanyaannya, mengapa demikian? Hemat saya, inovasi pixel dan aperture (bukaan lensa) yang lebih besar, fokus yang lebih cepat, hingga sensor yang lebih besar merupakan bagian dari penyesuaian dengan kecenderungan konsumen pasar smartphone yang semakin semakin tergila-gila pada fotografi.

Pada tahun 2000, Kodak memperkirakan terdapat 80 milyar foto dihasilkan oleh manusia di seluruh dunia. Lalu, ketika Apple merevolusi Iphone pada 2007, terjadi pertumbuhan signifikan atas foto yang dihasilkan hingga menyentuh angka 1,4 triliun pada 2020. Dari angka ini, sekitar 85 persen dihasilkan melalui ponsel ketimbang kamera konvesional a la DSLR ataupun mirrorles.

Angka yang juga mencengangkan terdokumentasi dalam dokumen yang dikirim Meta (Facebook) sebagai syarat melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada 2012 lalu. Data yang disuguhkan menyajikan kepada kita bahwa Meta menerima 250 juta foto yang diunggah tiap hari ke server mereka, lalu meningkat menjadi 350 juta per hari setahun kemudian. Tak dapat dibayangkan berapa jumlah foto-foto yang diunggah per hari saat ini dengan kamera smartphone yang semakin canggih.

Jika merujuk pada kajian Carol Moser, dkk. dalam “Parents’ and Children’s Preferences about Parents Sharing About Children on Social Media” (2017), angka-angka di atas merupakan sebuah kewajaran, sebab masyarakat dewasa ini tak ingin terlewat mengabadikan peristiwa apapun dalam hidupnya, termasuk hal-hal yang bersifat privat.

Pandemi juga semakin memperkuat kecenderungan ini, sebab seorang pribadi semakin tak terlepas dari smartphonenya. Kesepian akibat prokes (menjaga jarak dan larangan berkumpul) dianggap hanya bisa teratasi dengan mengutak-atik smartphone. Di masa depan, kecenderungan ini bukan tak mungkin akan membuat seseorang jatuh ke dalam narsisme akut yang pada akhirnya membuatnya menjadi asosial.

Baca juga :  Generasi Serba Salah

Lenyapnya Nilai Kepahlawanan

Setelah membaca ulasan panjang lebar tadi, kita lantas sampai pada pertanyaan “apa hubungan antara canggihnya kamera smartphone dan nilai kepahlawanan?” Kecanggihan kamera di satu sisi memang merupakan sebuah prestasi yang pantas diapresiasi. Akan tetapi ketika konsumerisme menjadi dominan dalam pemanfaatan, bukan tidak mungkin akan lahir narsisme yang membuat terlupakannya nilai kepahlawanan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan merupakan orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Oleh karena itu, hemat saya, setiap orang yang bertindak dengan berpijak pada kebenaran demi kebaikan bersama layak untuk disebut pahlawan.

Mereka yang mampu memberikan tempat tinggal bagi para tunawisma, tidak menebang pohon secara sembarangan demi menjaga iklim yang kondusif, membuang sampah pada tempatnya sehingga mencegah terjadinya banjir serta memberikan pertolongan pertama bagi korban kecelakaan layak mendapat predikat sebagai pahlawan. Redefinisi ini, tidak terlalu naif agar nilai kepahlawanan selalu kontekstual. Kepahlawanan saat ini, tidak lagi mesti ditandai oleh perjuangan berdarah-darah. Tindakan-tindakan sederhana yang bermanfaat bagi orang lain juga memiliki nilai kepahlawanan.

Namun demikian, bagi sebagian orang yang telah jatuh dalam narsisme akut, tindakan-tindakan sederhana sebagaimana telah disebutkan sekadar menjadi tangkapan layar tak bermakna. Pengakuan dari pihak lainlah yang menjadi kebutuhan utama para pengidap patologi ini. Setiap peristiwa, aktivitas, momen pribadi adalah konten yang mesti diabadikan dalam jepretan-jepretan kamera untuk selanjutnya dipamerkan ke khalayak banyak.

Aksi pamer aktivitas pribadi tersebut lalu bertransformasi menjadi gaya hidup mewah yang dipengaruhi oleh gengsi. Gengsi inilah yang lantas dimanfaatkan pemilik modal dan melahirkan konsumerisme. Konten-konten yang diunggahpun senantiasa dipengaruhi oleh tren “pasar media sosial”. Puas dan tidak puasnya seseorang terhadap sesuatu pada akhirnya ditentukan oleh orang lain dan bukannya diri sendiri.

Memang jika dipikir lebih jauh, memamerkan aktivitas-aktivitas tertentu kepada pihak lain bukanlah sebuah masalah. Toh, sebagai mahkluk sosial, pengakuan dari pihak lain merupakan serangkaian relasi sosial yang tidak bisa dielakkan. Akan tetapi dalam situasi narsisme akut, ketika seseorang candu akan pengakuan, maka di sana masalah mulai muncul.

Terfokusnya perhatian pada hasil jepretan dan komentar netizen, menghantar seseorang pada kesalahpahaman akan hal mana yang mesti diutamakan. Pengidap narsisme akut menganggap bahwa ada sesuatu dunia maya yang jauh lebih penting ketimbang situasi kekinian yang sedang kita jalani. Semua itu tertangkap oleh otak dari hasil tangkapan kamera orang lain maupun diri sendiri.

Baca juga :  Menulis Menghidupkan yang Mati

Sikap apatis terhadap relasi kebertubuhan lalu tumbuh oleh karena pengutamaan hasil jepretan demi sebuah pengakuan. Mereka yang jatuh dalam narsisme akut pada kondisi tertentu bakal mengalami kesulitan dalam berempati dengan sesama yang mereka temui di kehidupan sehari-hari. Ekspektasi yang tinggi atas respon orang lain terhadap hasil jepretan membuat mereka yang menderita narsisme akut lupa bagaimana caranya untuk membantu orang-orang yang di hadapan mereka, yang menjalin relasi kebertubuhan.

Ketidakpuasan terhadap komentar orang lain, membuat seseorang yang mengidap narsisme akut ingin mengunggah konten-konten berikutnya lagi, lagi, dan lagi. Konsentrasi berlebih pada komentar netizen, menjadikan seseorang lupa untuk memilih sampah yang ada di sekitarnya, bersikap acuh terhadap tetangga yang sedang mengalami permasalahan keluarga, hingga lebih memilih mengabadikan sebuah momen kecelakaan melalui kamera smartphone ketimbang memberikan pertolongan pertama. Dalam kelalaian itu sejatinya mereka telah melewatkan momen untuk menjadi pahlawan yang berpijak pada kebenaran.

Semangat gotong royong yang dibanggakan sebagai keluhuran dan keadiluhungan budaya dan adab bangsa ini di kemudian waktu sekadar menjadi jepretan tak bermakna yang hanya bisa dinikmati lewat komentar-komentar netizen. Padahal, uluran tangan dan kepekaan terhadap permasalahan yang ada di hadapan mata merupakan salah satu bagian penting penghayatan nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari.

 Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa kepahlawanan dapat ditunjukkan dalam sikap hidup sehari-hari yang mau membantu sesama yang sedang berkesusahan, dan mesti selalu harus kita upayakan serta kampanyekan agar tidak sekadar tertangkap oleh jepretan kamera, lalu lenyap dalam memori internal smartphone yang kapasitasnya terbatas itu.

KEPUSTAKAAN

Willard, Christopher. “The Joy of Missing Out”. https://www.mindful.org/the-joy-of-missing-out/ diakses 9 November 2021.

Nanci, Yonada. “Mengenal Sisi Positif dan Negatif Kepribadian Orang Narsistik”. https://tirto.id/mengenal-sisi-positif-dan-negatif-kepribadian-orang-narsistik-eiu8 diakses 9 November 2021.

Moser, Carol, Tianying Chen, dan Sarita Schoenebeck. “Parent’s and Children’s Preferences. About Parents Sharing About Children on Social Media”. disampaikan dalam Proceedings of the 2017 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems (ACM, 2017).

*Jimmy Y. Hyronimus

Frater TOP  Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur-Flores-NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button