Self Improvement

Generasi Serba Salah

Penulis : Nur Fatimah | Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM

Indodian.com – Saat ini, kita hidup di tengah-tengah generasi yang cukup peduli dengan isu kesehatan mental. Banyak istilah psikologis baru yang muncul dan menjadi sebuah refleksi diri. Banyak kampanye yang bertebaran di dinding media sosial. Saking pedulinya, mereka sampai kebablasan.

Generasi saat ini menjadi generasi yang sensitif. Sedikit-sedikit membawa isu kesehatan mental, sedikit-sedikit minta ditoleransi. Mereka tidak sadar, isu kesehatan mental yang mereka pelajari dan pedulikan dijadikan tameng untuk melegalkan segala tindak perilaku yang mereka lakukan.

Misalnya, menanyakan keberadaan seseorang dalam sebuah forum dianggap menyinggung kepribadian seseorang yang introvert. Berusaha memberi semangat, tapi dianggap toxic positivity.

Kalimat orang lain yang kurang nyaman katanya gahslighting dan gulit tripping. Lelah dan bosan sedikit katanya butuh healing. Tidak siap dengan keadaan dan merasa tersakiti dianggap mental illnes. Padahal apabila kita lihat lebih jauh, anggapan-anggapan tersebut sebenarnya tidak cukup pas.

Introvert bukan berarti kita bebas berlindung di balik pagar dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Introvert memang nyaman dengan ruang sendiri, tetapi berbeda dengan antisosial.

Toxic positivity memang sering tidak kita sadari. Banyak juga kampanye yang membeberkan kalimat-kalimat apa saja yang termasuk toxic positivity. Akan tetapi, bukan berati semua kalimat yang diucapkan orang lain dengan tujuan memberi semangat dianggap toxic positivity.

Baca juga :  Berani untuk Percaya Diri?

Kalau kalimat, “semangat ya, jangan menyerah” dianggap toxic positivity, lalu dengan kalimat apa kita bisa memberi dukungan terhadap orang lain?

Belum lama ini beredar di Twitter, sebuah cuitan yang berisikan tangkap layar sebuah konten dari tiktok. Isi konten tersebut adalah seorang wanita yang pergi ke salon untuk mendapatkan perawatan rambut. Kemudian karyawan salon yang sedang mengecek rambut wanita tersebut mengatakan bahwa rambutnya kering.

Si wanita yang merasa rambutnya tidak kering membantah kalimat tersebut. Akan tetapi, si karyawan tetap mengatakan bahwa rambut customer-nya ini memang kering. Si wanita merasa bahwa karyawan salon tersebut telah melakukan gaslighting sehingga dirinya merasa tidak nyaman.

Baca juga :  Menulis Menghidupkan yang Mati

Bila dicermati, karyawan salon kemungkinan memang mengatakan yang sejujurnya bahwa rambut si wanita tersebut memang kering, bukan bermaksud untuk bersikap manipulatif dan membuat si wanita tidak percaya diri. Untuk apa juga karyawan salon berusaha membuat customer-nya tidak percaya diri dengan berkata tidak jujur? Tidak ada tendensi untuk melakukan gashlighting.

Pada awal tahun 2022, sekitar bulan Februari, trending di platform Twitter dipenuhi dengan kata healing. Hal ini ternyata bermula ketika seorang mahasiswa baru angkatan 2021 merasa lelah dengan tugas kuliah sehingga ia tidak bisa menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ia ingin melakukan healing dengan cuti kuliah selama 6 bulan.

Hal tersebut mengudang perhatian netizen. Mereka menganggap mahasiswa tersebut berlebihan dan salah dalam memahami konsep healing. Healing yang sebenarnya merupakan penyembuhan dari sebuah trauma yang disarankan oleh psikolog.

Mental Illness, menjadi istilah yang sering digunakan sebagai pelindung bagi mereka yang tidak siap menghadapi situasi. Mereka tidak ingin diganggu oleh orang lain sehingga mereka mengatakan dirinya terkena mental illnes agar ditoleransi.

Baca juga :  Wajib Tahu! Enam (6)Tahap Penting dalam Menulis

Ngobrol apa pun sekarang jadi serba salah karena kalimat-kalimat yang sebenarnya sederhana, tetapi menurut sebagian orang katanya merusak mental mereka. Bukan maksud untuk meremehkan, tetapi konsep kesehatan mental yang mereka pahami mulai bergeser. Pergeseran ini disebabkan pendiagnosisan yang dilakukan secara mandiri atau self diagnosis.

Padahal untuk mengetahui kondisi kesehatan mental seseorang tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan atas keputusan orang yang ahli atau berpengetahuan terhadap masalah tersebut.

Fenomena pemahaman secara dangkal terhadap masalah kesehatan mental ini disebabkan oleh masyarakat yang secara instan menangkap suatu hal tanpa menelaah hal tersebut secara kritis. Media sosial sebagai media kampanye isu kesehatan mental juga berperan besar.

Banyak dari konten-konten tersebut ternyata bukan berdasar ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Hanya asal mengambil sumber, berkesimpulan, dan membuat judul dengan menyelipkan frasa “Menurut Psikologi”. Generasi saat ini terlihat seram. Interaksi yang sebenarnya bisa menjalin keakraban nyatanya dianggap berlainan dan malah menyebabkan permusuhan. * * *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button