Merawat Keindonesiaan

- Admin

Kamis, 19 Agustus 2021 - 14:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Indonesia sudah menjejaki usia kemerdekaan yang ke-76 tahun. Hari ulang tahun kemerdekaan menjadi momentum emas untuk merawat ingatan historis akan perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari bangsa-bangsa kolonial dan membangkitkan imajinasi kolektif akan prospek Indonesia di masa depan.

Sebagai suatu komunitas terbayang seperti dikatakan Benedict Anderson, Bangsa Indonesia hidup dari imajinasi kolektif akan identitas yang satu dan sama. Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa tentu bukanlah semboyan hampa tanpa makna. Semboyan itu menggambarkan kesatuan identitas kita sebagai satu bangsa yang hidup dari sejarah yang sama kendati terdiri dari beragam suku, ras, budaya, dan agama. Sejarah yang sama itulah yang menjadi basis pembentukan “keindonesiaan” kita.

Baca juga :  Kemerdekaan dan Upaya Jalan Pulang pada Pancasila

Mengingat Sejarah

Sejarah bangsa-bangsa adalah sejarah jatuh bangun. Setiap bangsa sebelum menjadi sebuah komunitas politik yang sah memiliki sejarah yang panjang dan unik. Ada perjuangan melawan bangsa-bangsa kolonial, ada bongkar pasang ideologi, ada perdebatan dan tukar tambah pikiran, dan lain-lain. Tidak ada proses pembentukan suatu bangsa yang berjalan mulus. Selalu ada benturan-benturan sebelum terbentuk sebagai sebuah bangsa.

Baca juga :  Prasyarat Menjadi Superpower : Indonesia Dalam Dunia Multipolar

Baca Juga : Merosotnya Nilai-Nilai Antikorupsi di Tubuh KPK
Baca Juga : Kemerdekaan dan Upaya Jalan Pulang pada Pancasila

Dalam mewujudkan cita-cita sebagai negara modern pun, masing-masing bangsa, termasuk Bangsa Indonesia, secara objektif memiliki karakteristik sendiri-sendiri sesuai dengan latar belakang sejarah, realitas sosial, budaya, etnis, kehidupan keagamaan, dan konstelasi geografis yang dimiliki oleh bangsa tersebut (H. Kaelan, 2013:1).   

Di Inggris misalnya, awal perkembangan negara modern yang demokratis dimulai ketika terjadi pergolakan politik yang dahsyat yang disebut dengan  the Glorius Revolution yang dimenangkan oleh rakyat (H. Kaelan, 2013:1). Dalam perjalanannya, perjuangan terbentuknya negara modern di Inggris sangat dipengaruhi oleh liberalisme John Locke (1632-1704). Kebebasan dalam pandangan Locke berarti bebas dari paksaan negara. Ada batas-batas kekuasan negara. Negara tidak berwenang mencampuri urusan privat warga negara. Negara justru harus menjamin keberadaan hak-hak privat itu. Konsep ini disebut dengan “negara penjaga malam”.

Komentar

Berita Terkait

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari
Paradoks Masyarakat Kita: Antara Kebebasan dan Kelelahan
Pesta Babi: Pembangunan yang Memakan Manusia
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Prabowonomics: Dari Neoliberalisme Menuju State Capitalism
Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi
Demokrasi dan Kritisisme
Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA