Bola

Catatan Pendek Pasca Pekan Berat Real Madrid

Indodian.com, Real Madrid baru saja melewati pekan mahaberat. Dalam kurun waktu delapan hari mereka dua kali bersua Liverpool pada ajang Liga Champions. Di antara kedua laga tersebut, mereka masih harus menjamu Barcelona dalam partai pekan ke 29 Liga Spanyol.

Jadwal padat dan lawan berat itu diperparah oleh badai cedera yang menghantam para pemain penting Los Blancos. Madrid kehilangan tiga bek utama: Sergio Ramos, Raphael Varane, dan Dani Carvajal. Di lini depan, Zinedine Zidane telah terlebih dahulu mencoret nama Eden Hazard.

Baca Juga : Masyarakat Risiko, Terorisme, dan Kemanusiaan Kita
Baca Juga : Colin Crouch tentang Post-Demokrasi

Di tengah hantaman badai cedera, lawan berat, dan jadwal amat padat itu, Real Madrid dituntut untuk menyapu bersih ketiga laga tersebut. Sebab bila tidak, harapan memeluk dua piala akan pupus hanya dalam kurun waktu delapan kali dua puluh empat jam.

Banyak orang memprediksi Madrid akan tumbang pada salah satu, atau dua, atau bahkan pada ketiga laga tersebut. Para pendukung Liverpool, baik yang murni maupun yang dadakan (biasanya Cules) ramai-ramai menulis: Ini laga balas dendam atas malam pahit di Kiev 2018 silam.

Dalam euforia atas kemenangan 3-1 Real Madrid di Alfredo di Stefano melawan Liverpool, saya mengunggah di whatsapp sebuah gambar yang menyerupai gabungan logo Liverpool dan Barcelona. Menyertai gambar itu, saya menulis, “You’ll Never Walk Alone. Keluarga Besar Barcelona Indonesia bersamamu.” 

Liverpool dan Real Madrid akan memperebutkan satu tiket ke semifinal Liga Champions. (AFP/GABRIEL BOUYS)

Seorang teman, dia Cules garis keras, bereaksi. “Tunggu saja hari Minggu.” Saat Messi dan pasukannya pulang dengan baju-celana basah kuyup dan tangan hampa dari Alfredo di Stefano akhir pekan kemarin (11/04/2021), saya membalas pesan provokatif itu, “Ini Minggu pagi. Apa yang harus saya tunggu?” Sampai sekarang pesan whatsapp itu hanya centang biru dua.

Baca Juga : Menikmati Wisata Kopi Detusoko
Baca Juga : Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Dalam rentang waktu empat hari antara Minggu dini hari sampai Rabu malam, para penggemar Madrid, sekurang-kurangnya saya, dihantui kemungkinan melemahnya lini belakang El Real pasca cedera Lucas Vazques (Dia cedera dalam laga El Clasico karena berbenturan dengan Sergio Buzquest).

Baca juga :  Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja

Dalam rentang waktu yang sama, Cules yang terluka dan Liverpooldian yang masih menyimpan sejumput harapan kembali membanjiri media sosial dengan satu ekspresi keyakinan: Liverpool adalah Raja Comeback. Namun sama seperti pada leg pertama dan El Clasico, harapan ini pun tak kunjung menjadi kenyataan.

Akhirnya seorang teman facebook saya,  penggemar berat Real Madrid, balik mengolok-olok: “Jurgen Klopp beralih profesi menjadi dokter di FTV yang selalu bilang, ‘Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.’”

Dan dia benar. Baik Koeman dan Klopp maupun Messi dan Salah “sudah berusaha semaksimal mungkin.” Hanya saja Zidane dan Benzema tak tertaklukkan oleh usaha maksimal itu. Sama seperti para dokter FTV yang hampir selalu gagal menaklukkan kematian yang mendatangi pasien mereka, Koeman dan Klopp gagal menaklukan Zidane dan pasukannya yang datang menghantam tim mereka.

Baca Juga : Ancaman Cerpen Tommy Duang
Baca Juga : Merawat Simpul Empati

Bermain dengan skuad seadanya, Real Madrid memetik dua kemenangan dan satu hasil imbang. Mereka menggeser Barcelona dari posisi kedua klasemen Liga Spanyol dan mendapatkan satu tiket ke empat besar Liga Champions. Apa resep Zidane sehingga bisa melewati pekan mahaberat ini?

Resepnya hanya satu. Adaptasi dengan keadaan.

Baca juga :  Menanti Xavi Hernandez yang Datang Saat Schadenfreude Terlanjur Menjadi Kewajiban Moral

Pada awal muncul Covid-19, orang-orang pintar menasihati kita: yang mampu bertahan hidup bukan dia yang kuat, melainkan dia yang bisa beradaptasi. Kemampuan beradaptasi adalah hal penting yang membuat manusia dapat hidup di mana saja di belahan bumi ini.

Kemampuan itulah yang membuat Zidane dan Madridnya mampu bertahan dan menjadi tim yang paling ditakuti di Liga Champions saat ini.

Sudah cukup lama Zidane menanggalkan keindahan olah bola dalam tubuh dan permainan Madrid. Sebagai gantinya, manajer berpaspor Prancis itu menerapkan taktik sepak bola sederhana dan praktis—banyak analis bola menyebut Zidane sebagai pelatih yang miskin taktik.

Pragmatisme itu bukanlah opsi yang lahir dari situasi keterpaksaan, melainkan sesuatu yang dibidani oleh kesadaran untuk berubah. Permainan indah yang telah bertahun-tahun didapuk sebagai milik Barcelona hanyalah salah satu dari sekian banyak cara memetik kemenangan. Dan Zidane menolak cara itu sejak tahun pertamanya menukangi Madrid. Ada cara lain yang lebih praktis: terapkan sepak bola sederhana, tapi efektif.

Baca Juga : Pengorbanan Melahirkan Kehidupan

Memang permainan Madrid agak membosankan [coba tanya pendapat penonton netral khususnya tentang menit-menit terakhir dalam laga kontra Liverpool dan Barcelona]. Tetapi mereka mampu mengefektifkan setiap peluang yang ada, sekecil apa pun itu. Efektivitas itu telah terbukti menyelamatkan El Real dalam fase-fase yang menentukan.

Zidane, sebagaimana para penggemar bola seantero jagat paham bahwa yang dituntut dari Madrid adalah kemenangan, bukan permainan indah—biarkan keindahan itu tetap menjadi milik para aktor teater dari Camp Nou.

Dalam tiga laga terakhir, permainan Madrid memang sangat jauh dari keindahan. Jangankan bermain indah, bermain bebas, lepas, dan leluasa saja tidak. Mereka hampir selalu terkurung di area pertahanan sendiri. Akan tetapi, dalam situasi semacam inilah efektivitas permainan mereka menemukan sengatannya yang paling berbahaya.

Baca juga :  Menanti Xavi Hernandez yang Datang Saat Schadenfreude Terlanjur Menjadi Kewajiban Moral

Zidane menyadari bahwa timnya tengah compang-camping, medioker, dan apa adanya. Tiga bek pilihan utama Zidane dihantam cedera. Untuk mengisi kekosongan itu, dua bek tengah cadangan diturunkan dan pemain sayap kanan seperti Lucas Vasques dan Fede Valverde terpaksa harus bermain sebagai pemain bertahan.

Jelas trio Nacho-Militao-Vazques/Valverde beda level dengan Ramos-Varane-Carvajal. Menyadari perbedaan itu, tiga pemain tengah Madrid lebih banyak turun membantu pertahanan ketimbang menyokong lini depan. Tidak heran kalau mereka selalu terkunci di area sendiri dalam sebagian besar waktu pertandingan.

Saat menonton pertandingan leg kedua melawan Liverpool, seorang pendukung The Reds yang frustrasi berteriak: “Bodoh, kalian jangan kurung mereka seperti itu.” Saya sependapat dengan pendukung yang frustrasi ini. Pertahanan yang dibangun para pemain Madrid terlalu rapat untuk dibongkar.

Seandainya Salah dkk sedikit bersabar, membiarkan para pemain Madrid memegang bola, dan mengorganisasi serangan, mereka pasti bisa memperoleh peluang yang lebih besar.

Karena dengan sendirinya trio lini tengah naik menyusun serangan, yang kemudian diikuti oleh dua bek sayap—bek kanan Madrid bukan pemain bertahan murni, melainkan winger yang ditarik mundur. Dengan demikian, trio Salah-Mane-Firmino tinggal menghadapi duet semi-amatir Nacho dan Militao.

Akan tetapi sayangnya baik Barcelona maupun Liverpool tidak cukup sabar menarik para pemain Madrid meninggalkan area pertahanan mereka sendiri. Coba tonton ulang kelima gol Real Madrid dalam tiga laga ini. Semuanya berawal dari skema serangan balik cepat. Sedikit membebaskan diri dari tekanan lalu langsung menikam lawan tepat di jantung.

Sederhana dan efektif. Sungguh sebuah adaptasi yang mencengangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button