Belut Sakti Bergigi Emas di Wolotolo, Ende Lio

- Admin

Kamis, 23 September 2021 - 20:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Sumber : Foto Mongabay)

(Sumber : Foto Mongabay)

Belut sakti berdiam di dalam lubang batu di bawah beringan tua yang besar. Belut ini tidak sembarangan keluar dari huniannya. Belut akan keluar dari lubang  jika dipanggil oleh tetua adat dan diikuti dengan penyembelihan ayam. Pengunjung yang ingin melihat belut sakti perlu mempersiapkan seekor ayam. Ayam tersebut akan dibunuh oleh pawang. Darah ayam tersebut diteteskan pada lubang tempat tinggal belut sakti. Setelah itu, pawang akan mencabik-cabik daging ayam dan diberikan kepada belut sakti.

Baca juga :  Merayakan Hari Kasih Sayang

Konon, jika ada pengunjung yang berniat jahat, belut tidak akan keluar dari lubang batu walaupun ayam sudah disembelih. Tetapi jika ada niat yang baik, belum sakti akan keluar dari lubang untuk memakan daging ayam.  Orang yang berniat baik pasti akan melihat belut. Warga meyakini bahwa jika belut datang dalam jumlah yang banyak maka peluang besar pengunjung akan mendapat rejeki.

Masyarakat adat Lio mempercayakan Mosalaki (tetua adat) menjadi pawang. Pawang memanggil belut sakti dengan bahasa adat “Mai mamo, mai mamo” yang secara harafiah berarti “Mari leluhur datang makan”.

Baca juga :  Sepak Bola dan Flores

Ukuran belut sakti itu seperti tangan orang dewasa dengan diameter sekitar 10 sentimeter dan panjang sekitar 45 sentimeter. Belut tersebut memiliki gigi emas di ujung mulut bagian atas. Pawang kesulitan menghitung jumlah belut di dalam lubang. Hal ini karena belut biasanya keluar hanya 2 atau tiga ekor. Selama bertahun-tahun warga tidak pernah melihat belut mati terkapar di pinggir sungai. Masyarakat percaya bahwa jika belut sudah tua dan mati, belut tersebut akan lenyap dengan sendirinya

Belut dengan sepasang gigi emas. Tampak belut sedang berenang mengejar daging ayam yang disimpan di ujung kayu (sumber: foto Ebed de Rosary)

Berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat, belum sakti ini memiliki keterkaitan langsung dengan seorang leluhur kampung adat wolotolo bernama Sare Ngole. Sare Ngole menderita penyakit kulit yang agak aneh karena kulit bersisik seperti ikan. Melihat keadaan yang menggenaskan itu, warga kampung mengasingkan dia dari masyarakat.

Komentar

Berita Terkait

Ivan Nestorman: Mempertahankan Identitas Musik Flores di Tengah Arus Modernisasi
Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai
Lingko dalam Festival Golo Koe  
Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT
Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai
Merayakan Hari Kasih Sayang
Aku Caci, Maka Aku Ada
Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air
Berita ini 244 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA