Budaya

Belut Sakti Bergigi Emas di Wolotolo, Ende Lio

Rio Nanto

Indodian.com – Setiap sungai di Flores pada umumnya terdapat belut-belut kecil. Belut biasanya berdiam diri di dalam lubang batu dan sesekali berenang di dasar air untuk mencari makanan. Tubuhnya yang licin dan lincah menimbulkan kesulitan bagi setiap orang yang ingin menangkapnya. Dari segi ukuran, belut-belut yang ada di sungai di Flores relatif kecil dan pendek. Sebagaimana hewan air lainnya, belut pada umumnya tidak memiliki mitologi dan daya magisnya.

Namun, kita pasti akan terperanjat melihat belut sakti bergigi emas di Wolotolo. Wolotolo Ende merupakan salah satu wisata andalan yang terletak di Desa Wolotolo Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pemilihan nama Wolotolo ini berdasarkan keadaan setempat yang memang berada di ketinggian.

Baca juga :  Asal-Usul Roh Halus Menurut Kepercayaan Asli Orang Manggarai

Secara etimologis Wolotolo berasal dari dua kata bahasa Lio yakni wolo yang berarti bukit/gunung, tolo berarti ketinggian. Berdasarkan asal katanya Wolotolo berarti bukit di atas ketinggian. Pada umumnya masyarakat di Lio memilih untuk menetap di tempat yang tinggi untuk memantau keadaan di dataran rendah. Jaraknya dari Ende Ibu kota kabupaten Ende sekitar 20 km dan dapat ditempuh dalam waktu 30 menit perjalanan menggunkaan angkutan darat.

Baca juga :  Merayakan Hari Kasih Sayang

Belut yang terdapat di Wolotolo ini bukan belut sembarangan. Masyarakat adat Wolotolo menghormati belut ini sebagai leluhur mereka. Jika ada masyarakat yang berusaha mengambil, melukai atau mengonsumsinya maka akan menimbulkan kematian dan bencana besar untuk pelaku dan semua kampung. Masyarakat adat sering memberikan makanan kepada belut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Baca juga :  Aku Caci, Maka Aku Ada

Belut sakti ini berdiam di sungai Lowomamo yang mengalir di dusun Ae Kewu,  Wolotolo Tengah. Setiap pengunjung yang ingin melihat langsung belut sakti perlu ditemani pawang yang berpengalaman. Pawang akan membantu menjelaskan cara pemanggilan belut dan beberapa pantangan yang harus dilakukan dalam perjalanan menuju sungai. Biasanya, pengunjung diminta untuk mengurangi pembicaraan atau keributan dalam perjalanan karena akan menggangu ketenangan penghuni sungai.

1 2 3Laman berikutnya

Satu Komentar

  1. Kaka Admin yg terkasih, izin koreksi sedikit. Kali belut itu terletak di Desa Wolotolo Tengah, Dusun Aekuwu bukan di Desa Wolotolo.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button