Tujuh Cara Bergembira dalam Politik ala Relawan Pendekar Indonesia

- Admin

Rabu, 16 November 2022 - 00:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Politik diciptakan dan dimanifestasikan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk menyediakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia, tapi yang terjadi adalah sama sekali kebalikannya,” ujar Emha Ainun Najib suatu waktu.

Atas dasar keyakinan semacam itulah relawan Pendekar Indonesia mengajak segenap anak bangsa berpartisipasi dalam politik secara elok dan gembira. “Saya tetap yakin berpolitik tidak hanya bermanfaat, tapi juga pantas dilakukan dengan gembira dan indah,” ujar Ketua Pendekar Indonesia Dr. Hendrawan Saragi di Jakarta, Selasa (15/11/ 2022). Menurutnya ada tujuh prinsip yang diikhtiarkan Pendekar Indonesia agar politk dilakukan secara gembira.

Pertama, menjaga dan bertanggungjawab atas martabat manusia. “Martabat bukan diberikan oleh politisi, tapi oleh Sang Khalik. Martabat merupakan harga diri setiap orang yang layak dihormati,” kata Saragi. Tidak ada program pemerintah yang akan memberikan secara otomatis memberi martabat, maka seseorang harus berusaha, mengeluarkan keringat, dan berjuang untuk mendapatkannya.

“Kita akan frustasi bila berpikir dan berharap bahwa martabat kita akan diberikan dan ditingkatkan oleh program yang ditawarkan oleh politisi,” imbuhnya. Jadi, bagi Saragi, politik yang gembira perlu dilandasi dengan semangat menghormati martabat orang lain.

Baca juga :  Mabuk Kuasa

Kedua, bekerja keras dan cerdas. Hasil kerja keras nan cerdas dapat membuka banyak kesempatan dan kebahagiaan. Saragi mengatakan, “Bekerja adalah salah satu natur yang dimiliki manusia. Kita perlu mencintai pekerjaan kita dan mengingat bahwa uang dapat membuka banyak kesempatan dan potensi kebahagiaan.” Uang yang diperoleh setiap orang hendaknya dapat dipakai secara bijak dan meraih kebahagiaan dalam standar minimal, ujar Ketua Pendekar Indonesia.

Ketiga, “Jangan merusak kegembiraan orang lain,” tegas Saragi. Setiap orang hendaknya memiliki hobi dan kesenangan yang wajar serta tidak menganggu orang lain. “Main catur, main gitar, main ular tangga, nonton pertandingan olahraga dan konser, hendaknya semua dilakukan dengan tertib, tidak mengganggu yang lain,” imbuh alumni ITB itu.

Ia juga berharap ke depan pemerintah dapat menggembirakan masyarakat dengan penurunan pajak, penurunan bunga kredit, penurunan biaya utilitas (listrik, air, dll), dan penurunan harga bahan pangan.

Baca juga :  Masyarakat Sipil Dairi Mendesak Menteri LHK Cabut Izin Persetujuan Lingkungan PT. DPM  

Keempat, tidak takut tertawa. Di dalam hidup setiap orang bisa beruntung maupun mengalami kerugian. “Dalam percakapan dengan orang lain bisa saja kita bertemu dengan orang-orang yang tidak tertarik pada pencarian kebenaran. Mereka menggunakan permainan kata dan ambiguitas untuk sampai pada kesimpulan yang tidak logis.

Mereka bisa bermain-main dengan bahasa. Kita perlu menertawai diri kita, mengungkapkan hal-hal lucu atau kelemahan diri sendiri, sehingga dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan orang lain,” kata Saragi.

Kelima, “Belajarlah dari siapa pun!” ujar Saragi. “Bekerjasamalah, jangan menjelekkan orang lain karena mereka berbeda dari kita. Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan belajar dengan cepat. Mau menerima umpan balik dari orang lain, sehingga menjadi lebih mengetahui kebutuhan orang banyak dan permintaan pasar, imbuhnya.

Keenam, menyempatkan diri merenung setiap pagi. Waktu luang untuk merenung adalah bagian penting dari kehidupan yang baik. Duduk saat sarapan sambil merenung, minum minuman yang disukai, tidak terburu-buru, ini merupakan hal yang diperlukan untuk membebaskan pikiran.

Baca juga :  Reformasi Dikorupsi dan Gerakan Kaum Muda Progresif

Tidak terjatuh dalam keadaan terhipnotis dengan selalu terburu-buru, sehingga para perenung pagi ini akan tidak menganggap hidup atau dirinya terlalu serius, dan tidak menggerutu tanpa henti tentang masalah-masalah yang abstrak.

Ketujuh, “Beritahu sahabat kita bahwa kita menghargainya,” kata Saragi. Persahabatan adalah kebajikan, dan menyangkut emosi serta tindakan mulia yang bertujuan untuk hidup bersama dengan baik. Saragi mendorong agar setiap orang memperlakukan sahabatnya dengan hormat. “Memiliki seorang sahabat yang dekat membutuhkan kesabaran, toleransi, kejujuran, kerendah-hatian, dan perhatian.

Ini bukan kualitas yang otomatis diperoleh melainkan membutuhkan usaha yang berkesinambungan. Dengan berlatih bersahabat, kita akan mudah bersahabat dalam politik,” pungkas Saragi membeberkan tujuh prinsip relawan Pendekar Indonesia dalam berpartisipasi politik dengan gembira (Editor: Rio Nanto)

Komentar

Berita Terkait

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar
Fakultas Filsafat Unwira Adakan Seminar Internasional sebagai Bentuk Tanggapan terhadap Krisis Global    
Tujuan Politik adalah Keadilan bagi Seluruh Rakyat
Komunitas Circles Indonesia: Pendidikan Bermutu bagi Semua
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa melalui Kelas Belajar Bersama
Mahasiswa Pascasarjana IFTK Ledalero Mengadakan PKM di Paroki Uwa, Palue   
Masyarakat Sipil Dairi Mendesak Menteri LHK Cabut Izin Persetujuan Lingkungan PT. DPM  
Pendekar Indonesia Menggelar Simulasi Pasangan Calon Pimpinan Nasional 2024
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA