Filsafat

Memento Mori: Bisikan Filsafat tentang Kematian

Penulis : Teresa Melysa | Ketua Humas Lingkar Filsafat (Circles) Indonesia

Indodian.com – Kebanyakan orang memang takut mati. Pandangan ini menjadi salah satu alasan Kelas Jumat yang diadakan Lingkar Filsafat “Circles” Indonesia mengangkat tema “Memento Mori” (17/6/2022). Kelas ini merupakan rangkaian empat kelas dalam bulan Juni 2022 yang mengangkat tema besar tentang filsafat penderitaan. “Ketakutan akan kematian memang cukup umum, dan kebanyakan orang takut mati dalam berbagai tingkatan,” ujar Dhimas Anugrah, pengajar sekaligus pendiri Circles Indonesia, via zoom, Jumat malam.

“Memento mori” merupakan frasa Latin yang berarti “ingatlah kematian!”. Dhimas menerangkan, “memento” adalah bentuk imperatif aktif tunggal orang kedua dari frasa “meminī:” “mengingat,” “menjaga dalam pikiran,” yang biasanya berfungsi sebagai peringatan. Sementara “Morī” adalah bentuk present infinitive dari kata kerja deponen morior “meninggal/mati.” Ketua Komunitas Circles Indonesia itu mengutip Tertulianus (abad 2) yang menjelaskan ihwal istilah memento mori dari cerita tentang seorang pelayan yang ditugaskan berdiri di dekat seorang jenderal yang menang perang saat ia diarak masuk ke kota. Saat sang jenderal menikmati sanjungan dari kerumunan yang bersorak-sorai di sekitarnya, pelayan itu akan berbisik di telinga sang jendral, “Respice post te! Hominem te esse! Memento mori!” (Look after you! You’re a man! Remember death!/(Aku) menjagamu! Engkau hanyalah manusia! Ingatlah kematian!).

Baca juga :  Apa yang Anda Ketahui tentang Kebenaran?

Dalam kelas via Zoom terbatas yang diikuti puluhan pecinta kebijaksanaan itu, Dhimas mengatakan ada dua alasan mendekati filsafat penderitaan dengan “memento mori,”. “Pertama, dalam sejarah filsafat sangat awal, kematian dipandang sebagai raison d’etre filsafat.” Kematianlah yang memotivasi manusia mencapai tujuannya, yang membantu seseorang menghargai orang yang ia cintai, imbuhnya. Para filsuf sejati pernah mempelajari kematian, seperti kata Sokrates. Dhimas lantas mencontohkan filsuf Demokritus yang melatih dirinya dengan menyendiri dan mengunjungi makam sebagai gaya berfilsafatnya.

Baca juga :  Zen, sebuah Agama Baru?

Alasan kedua, kata Dhimas, “Karena ketakutan akan kematian menjadi salah satu pemicu penderitaan eksistensial seseorang.” Beberapa ketakutan ini sehat karena membuat seseorang lebih berhati-hati menjaga kesehatan dan tindakan, tetapi beberapa orang mungkin memiliki ketakutan yang tidak sehat akan kematian, tambahnya, terang pria kelahiran Surabaya itu.

Baca juga :  Homo Digitalis Menurut Martin Heidegger dan Hans Jonas

Pemaparan Dhimas ini sejalan dengan “Survey of American Fears” pada tahun 2017 yang dilakukan oleh Universitas Chapman, bahwa 20,3% orang Amerika “takut” atau “sangat takut” akan kematian. Survei ini mencakup respons lain yang melibatkan kematian lebih spesifik, seperti pembunuhan oleh orang tak dikenal (18,3%), termasuk takut dibunuh oleh seseorang yang dikenal (11,6%).

1 2 3 4Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button