Kita adalah Sepasang Luka

- Admin

Sabtu, 25 September 2021 - 18:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Sejenak pula aku terlena untuk beberapa detik, bahwa mungkin ini akan menjadi sebuah kesalahan yang tak pernah kumaafkan. Tapi, aku memiliki tujuan yang tak boleh aku kesampingkan.

Apalagi, tentang tujuan tersebut, boleh dikatakan aku sudah menuju jalan puncak.  Rasa tanggung jawab yang harus aku pikul, studi dan tanggung jawabku. Pergilah dengan sejuta mimpi, dan pulanglah dengan rentetan mimpi yang sudah kau raih. Demikianlah pesan bapa. Takkala aku melangkahkan kaki di awal perjuangan. Empat tahun silam.

Lantas, mengapa imajinasi masih saja menggebu? Barangkali kopinya tak cukup tuk membahas ide dalam benak. Lantaran otak kiri masih saja kaku karena terobsesi janji manis sang tuan muda negeri seberang.

Kaki kanan masih saja membeku lantaran sentuhan manis sang kekasih di kala perempatan Golo Welu, Ranggu, Lewur dan kempat menuju Pateng tempat aku dibesarkan  menjadi saksi sejarah bahwa kita memang pernah ada dan berawal dari ketiadaan. Dasar, sialan!

Baca juga :  Kota dan Rindu yang Setia

Aku tahu, mungkin orang akan menganggap ini alasan yang terlalu dangkal. Bahkan, mungkin ada yang mengatakan aku terlalu bodoh.  Tapi, dalam kamuflase hidupku, itu bagian yang harus aku prioritaskan.

Aku tahu, hubunganku dengannya tak mengganggu sedikit pun prestasi belajarku. Ada lagi alasan yang lain, bahwa aku tak ingin menyakiti laki- laki yang terlalu baik dan pengertian, yang sering kali aku sakiti takkala ada sebagian ide yang malah kita tumpahkan lalu berujung pada sebuah obsesi.

Aku bukan pernah mengatakan, aku terlalu mencintaimu. Pergimu adalah awal luka. Bukan karena rasa yang sudah kucumbui dengan rasa sayang, tapi karena aku sudah tidak rela jika kau akan bersama orang yang bukan aku. Itu!

Lantas, belum kuhabiskan secangkir kopi. Sebuah kabar malah mendarat. Kau memilih untuk mengakhiri semuanya. Bukan tanpa alasan. Sebab, jauh sebelum engkau mengatakan itu, sudah ada isyarat sebenarnya datang padaku.

Baca juga :  Perempuan Tangguh

Tetapi aku coba untuk mengabaikan. Karena, kita hadir bukan karena kebetulan tapi ada komitmen yang kau ciptakan sendiri. Lantas, konspirasi apa lagi yang meski aku tak percaya?

Tak berujung pada perihal kata tersebut, keputusan itu sudah benar adanya. Terserahlah, kita akan tetap mengakhirinya, kau dan aku terlalu baik untuk disakiti. Terlalu nyaman untuk kutinggalkan sejak dini. Terlalu menarik untuk mundur secara teratur.

Terlalu tak cukup untuk kuceritakan kepada semesta jika pada saat sekarang kita yang salah satunya adalah aku akan menjadi seperti ini.  

Samsung J1 Ace yang masih berusia belia sebagai konspirasi bahwa sudah ada yang pantas dibicarakan, sekarang.  Detak tooch penunjuk huruf yang akan membentuk kata terlihat siap membantu segala kepenatan nalar, ketika itu.

Barangkali perlu diwaraskan sekali lagi oleh secangkir kopi. Sudahlah, konspirasi memang benar sedang bercanda. Silahkan saja menertawakan itu. Tak bisa kupungkiri lagi. Hehehe. Bahkan, ketika besok kita sama-sama bertamu di atas media sosial, akan ada tertulis, “Kenangan anda satu tahun lalu.”

Baca juga :  Ancaman Cerpen Tommy Duang

Aku menenangkan diriku, menarik napas sejenak dan kuketikan pesan singkat yang sangat jelas bahwa hubungan kami memang harus benar- benar berakhir. Bukan karena sudah tidak suka dan sudah tidak mencintainya.

Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Bahkan aku tidak pernah ingin untuk segera menyelesaikan semua perasaanku itu kepadamu. Itulah sebabnya, aku memilih untuk mencintaimu dengan tidak harus memilikimu.

Barangkali, perasaanku akan berbeda dengan yang kau rasakan. Aku tak peduli. Sebab, waktu hari ini tidak selamanya sama dengan hari esok dan seterusnya. Itulah yang aku percaya. Bila sekarang berpisah, maka besok tak mengapik kita akan bertemu.

Tuhan pun mengamini segala semoga. Akhirnya kita berakhir dalam suatu amin yang sama.

Cukup lama kutunggu balasnya, hingga kutinggalkan handphoneku dan pergi beranjak, menepi di perpustakaan, surga duniaku.

Komentar

Berita Terkait

Lelaki Banyak Masalah
Teriakan-Teriakan Lia
Antara Hujan dan Air Mata
Sunset yang Hilang
Tanpa Tanda Jasa
Seratus Jam Mencari Sintus
Perempuan Tangguh
Surat yang Takkan Pernah Sampai
Berita ini 97 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 31 Oktober 2022 - 18:26 WITA

Perlawanan Tanpa Titik dalam Novel “Perempuan di Titik Nol”

Jumat, 3 Desember 2021 - 00:22 WITA

Kesederhanaan yang Megah dan Niat Baik Menyelamatkan yang Terbuang

Rabu, 14 April 2021 - 13:54 WITA

Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Berita Terbaru

Sastra

Pantun Berlawanan dengan Puisi

Sabtu, 25 Okt 2025 - 16:31 WITA

Pendidikan

Kaum Muda dan Budaya Lokal

Jumat, 15 Mar 2024 - 19:27 WITA