Review Buku

Kesederhanaan yang Megah dan Niat Baik Menyelamatkan yang Terbuang

Tommy Duang

Judul             : Panggil Pulang yang Terbuang, Kumpulan Esai tentang Keseharian

Penulis          : Reinard L. Meo

Penerbit        : Penerbit Ledalero

Tahun           : Juli 2021

Setelah “Segala Detikmu” (2016), kini Reinard L. Meo hadir lagi dengan “Panggil Pulang yang Terbuang,” (2021) suatu kumpulan esai tentang sejumlah hal sederhana dan penting yang (mungkin) begitu gampang lolos dari perhatian kita.

Dengan teknik penulisan yang megah dan “wah”, Reinard mengemas tema-tema sederhana itu dalam satu kesatuan yang megah. Ada niat baik di balik proyek berentang waktu lima tahun ini: niat menyelamatkan manusia-manusia yang terbuang.

Tapi benarkah, tema-tema Reinard ini sederhana dan terlalu biasa? Bisa Ya, bisa Tidak. Reinard sendiri menganggapnya “sederhana dan biasa-biasa saja.” Anggapan itu saya pertahankan dalam keseluruhan tulisan ini, walaupun sedikit banyak saya menolaknya, karena bagi saya, tema-tema ini sama sekali tidak sederhana dan tidak biasa-biasa saja.

Panggil Pulang yang Terbuang: “Saya” yang Terlempar

Tiga esai pertama dalam buku ini (Saya, Facebook dan “Saya”; Daya Tarik; dan Budak Sosmed) mengangkat tema seputar pertalian antara manusia dan media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, dan sejenisnya.

Reinard menggunakan Saya dan “Saya” untuk membedakan diri saya yang hidup di dunia nyata dengan diri saya yang eksis di dunia maya. Garis batas itu ditarik karena terdapat perbedaan identitas yang tak dapat dibantah antara saya dalam ruang dan waktu riil dengan saya yang sedang berselancar dalam ruang dan waktu maya.

“Saya menemukan,” tulis Reinard (hlm. 5), “di dunia maya terjadi apa yang boleh saya sebut sebagai ketercerabutan diri (self-deprivation). Dalam lain perkataan, saya yang berpindah menuju “saya”, membawa serta diri saya menjadi “diri saya” yang lain. Ada jurang antara saya dan “saya”.

Melalui suatu analisis yang dalam, tajam, dan terukur, Reinard menyimpulkan bahwa arus perpindahan Saya ke “Saya” bermula dari kebiasaan ikut arus. Sejumlah daya tarik yang dimiliki berbagai jenis platform media sosial dan kenyataan bahwa banyak orang menggunakannya untuk berbagai kepentingan, membuat manusia serta merta mencemplungkan diri ke dalamnya tanpa pikir panjang.

“Bermula dari ‘ikut arus’”, demikian Reinard (hlm. 4), “identitas saya juga turut dibentuk/terbentuk.” Identitas, bisa baik, bisa buruk. Saya yang berpindah ke “Saya”, bisa menjadi “Saya” yang lebih baik atau “Saya” yang lebih buruk.

Dalam “Daya Tarik” dan “Budak Sosmed”, Reinard mengangkat dua contoh identitas baru itu, yaitu “saya” yang berdaya juang lemah dan “saya” yang membudakkan diri pada media sosial.

Reinard adalah seorang katolik dan seorang guru. Sebagai seorang beragama yang memiliki tanggung jawab sosial, Reinard mengingatkan kita bahwa “ketergantungan yang berlebihan pada teknologi internet akan melemahkan daya juang, termasuk militansi dalam beriman.” (hlm. 9).

Baca juga :  Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Awasan ini dilatarbelakangi oleh keterpesonaan umat beriman pada kemudahan yang ditawarkan aplikasi-aplikasi digital seperti eKatolik, Alkitab PEDIA, Bible Offline, dan lain-lain.

Sebagai seorang guru, Reinard mengingatkan anak-anak muridnya—kita semua—untuk tidak menjadi budak media sosial. “Bila kalian masih merasa bahwa sosmed adalah segala-galanya, paket data habis rasanya mau mati, ke mana-mana minta hotspot, dan galau berat ketika energi HP hampir habis, kalian adalah Budak Sosmed. Hendaklah kita menjadi tuan atas Sosmed kita masing-masing!”

Pada titik ini saya teringat nasihat Gretchen Rubin, seorang penulis, blogger, dan motivator asal Missouri, USA, “Technology is a good servant, but a bad master.”

Maka kini sampailah kita pada kesimpulan pertama bahwa kaum terbuang pertama yang dipanggil pulang adalah “Saya” yang terlempar dan terasing dalam jagat raya dunia maya. “Saya,” demikian Reinard (hlm. 6), “harus selalu kembali menuju saya.”

Panggil Pulang yang Terbuang: Saya yang Tertidur

“Mengingat Reinard adalah seorang guru (yang diharapkan tak tergoda menggurui),” tulis John Manford Prior dalam pengantar kumpulan esai ini, “tidak mengherankan ada esai yang membahas soal pendidikan.” Ada dua esai yang berbicara tentang pendidikan, yaitu Kaji Ulang Dinamika Pendidikan Kita dan Seandainya Buku Saya Dibajak.

Dalam kedua esai ini, Reinard mencoba membangunkan kita yang sedang tertidur sehingga tidak menyadari bahwa dunia pendidikan dan literasi kita sedang dalam keadaan carut marut dan hampir tak berbentuk. Ajakannya memang berat: mengkaji ulang dinamika pendidikan dan memerangi pembajakan buku.

Dalam proyek besar mengkaji ulang sistem pendidikan, Reinard mengajak kita berpaling pada John Holt (1923-1958) dan Aristoteles. Holt merekomendasikan Home Education sebagai tempat terbaik yang memungkinkan terjadinya proses belajar.

Aristoteles membedakan tiga jenis sains: sains produktif yang berhubungan dengan teknologi; sains praktis yang berhubungan dengan tindakan-tindakan konkret; dan sains teoritis yang berhubungan dengan aktivitas kontemplatif untuk mencari kebenaran.  

Penerapan yang seimbang antara ketiga jenis sains ini dalam dinamika pendidikan kita diharapkan “mampu membentuk kita menjadi manusia yang holistik,” (hlm. 18). Perlu diciptakan keseimbangan antara keahlian teknis dan usaha-usaha mencari makna hidup; antara pencarian ide-ide kebenaran dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Keseimbangan itu, pada gilirannya akan menuntun anak-anak kita menemukan jati diri dan tujuan keberadaan mereka masing-masing. Pada titik ini, nasihat Ki Hadjar Dewantara perlu digemakan kembali.

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidikan hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu” dan “setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

Baca juga :  Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Selain pada sistem pendidikan, permasalahan lain yang sedang kita alami ada pada dunia literasi. Banyak buku dibajak dan fenomena pembanjakan buku merupakan suatu kejahatan terhadap peradapan. Hal-hal seputar kejahatan model ini diatur oleh Undang-undang. Oleh karena itu, yang pertama-tama “dibangunkan” adalah Negara. Negara harus bertindak tegas.

Akan tetapi, pertanyaan pengandaian Reinard, “Seandainya Buku Saya Dibajak”, tidak hanya diperuntukkan bagi Negara, penulis, dan pelaku kejahatan, melainkan juga bagi seluruh lapisan masyarakat. Ayo bangun, mari perangi pembajakan buku!

Panggil Pulang yang Terbuang: Saya yang Berhasrat

Pada bagian ini, Reinard berbicara tentang kekerasan dan perdamaian. Fenomena baku hantam di tempat pesta menjadi objek kajian untuk membongkar akar dan penyebab terjadinya kekerasan pada level dan konteks tertentu.

Di tempat pesta, mengapa manusia suka baku injak? Sekurang-kurangnya ada empat alasan yang diangkat. Pertama, adanya dendam pribadi [Sebentar kalau sa lihat ada dia, asli, sa injak!]; Kedua, efek alkohol (bisa ditekan dengan meningkatkan kontrol diri dan menekan laju distribusi cerek dari dapur).

Ketiga, baku senggol saat goyang dan puntung rokok yang bikin risih; dan Keempat soal salah paham (sa tida tau dansa, Kaka. Aduhh, sumpah demi demi, sa ti tau. A few moments later, Ade nona dansa den orang laen).

Keempat alasan ini adalah sesuatu yang situasional. Perlu ditemukan akar terdalam dari setiap kekerasan yang terjadi. Untuk itu, Reinard mengajak kita berkenalan dengan pemikiran Erich Fromm.

Menurut Fromm, pada manusia, hasrat untuk merusak (insting kematian), sama kuatnya dengan hasrat untuk mencintai (insting kehidupan, seksualitas). Rupanya insting kematian itulah yang mendominasi seluruh kepribadian manusia-manusia yang suka baku injak di tempat pesta.

Panggil Pulang yang Terbuang: Saya yang BerTuhan

Dunia kita tengah dilanda banyak jenis krisis, salah satunya adalah perang dan konflik antaragama. Esai “Quo Vadis Perdamaian” mengajak semua elemen masyarakat, baik komunitas religius maupun non-religius, untuk kembali secara serius memikul tanggung jawab untuk mewujudkan perdamaian.

Reinard memperkenalkan kepada kita Etika Global yang diprakarsai oleh Hans Kung. Rumusan etika ini dihasilkan dari kesepakatan bersama para pemeluk agama-agama dan komunitas non-religius. Salah satu point penting yang diangkat adalah dialog. Perdamaian dunia akan tercipta lewat perdamaian antaragama, dan perdamaian antaragama hanya akan mungkin lewat dialog. 

Ada tiga golongan yang secara khusus “dipanggil pulang” untuk mengupayakan perdamaian melalui dialog.

Pertama, pemimpin agama-agama dan komunitas non-religius. Masing-masing diajak untuk selalu memberikan pencerahan, mengajak semua anggotanya untuk bersama para anggotanya mengusahakan perdamaian, dan membangun dialog dari hati ke hati.

Baca juga :  Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Kedua, para aktivis dialog dan akademisi. Kelompok ini diharapkan dapat menerjemahkan gagasan dialog kritis Hans Kung ke dalam bahasa yang dapat dipahami dengan mudah oleh kelompok awam.

Ketiga, umat agama-agama dan komunitas non-religius. Lapisan inilah yang diharapkan mampu mempraktikkan etika global dengan tujuan menciptakan satu tatanan dunia baru yang sungguh-sungguh damai.

Panggil Pulang yang Terbuang: Saya yang Terbatas

Dua dari empat esai terakhir dalam kumpulan ini berbicara tentang keterbatasan dan kerentanan manusia. Di tengah kenyataan itu, manusia dituntut secara mutlak untuk bertahan hidup.

Kematian, penderitaan, perjuangan, dan kesalahan, kata Karl Jaspers, adalah kenyataan-kenyataan yang inheren pada manusia.  Empat kenyataan itu disebut situasi batas.

Jika ditangani dengan tepat, situasi batas itu dapat membuat manusia makin kuat dan maju. Sebaliknya, jika direspon dengan cara-cara yang tidak bijak, situasi itu akan membuat manusia semakin lemah dan mudah menyerah pada takdir.

Kesadaran akan situasi batas membuat manusia bersolider dengan sesama. Salah satu sumber solidaritas, dalam refleksi teologis John Sobrino, adalah fakta kemalangan dalam hidup yang menuntut tanggung jawab bersama.

Dalam gerakan kemasyarakatan bernama Arisan dan momen iman Kristiani bernama Natal, ada solidaritas yang tak terbantahkan.

Arisan adalah solidaritas antarsesama manusia: secara ekonomis, kita secara bergilir membantu sesama yang membutuhkan. Natal adalah solidaritas Allah terhadap manusia: Tuhan menjadi manusia untuk merasakan pahit dan manisnya hidup ciptaan istimewa itu.

Ketika Reinard Merokok

Reinard merokok sejak masih kecil sampai sekarang. Apa yang dia pikirkan saat merokok? Dia memikirkan banyak orang dan hal.

Dia berpikir tentang Immanuel Kant dan kenyataan bahwa mata kita tidak pernah menangkap suatu objek, melainkan hanya menangkap hal-hal yang ditampakkan oleh objek itu.

Dia memikirkan Karl Jasper eksistensialis Jerman dan fakta bahwa manusia adalah misteri dan tak terselami bahkan oleh dirinya sendiri.

Dia juga berpikir tentang Hannah Arendt Filsuf yang lebih nyaman dipanggil pemikir politik dan keberaniannya yang mencengangkan ketika mengatakan bahwa teori “manusia adalah makhluk politik” Aristoteles keliru.

Reinard merokok sejak dia belum tahu bahwa nama “Fransiskus” itu ditulis dengan ef Floles, bukan ve Veronika. Ketika Reinard merokok, apa yang dia buat?

Dia akan menyeduh kopi, entah itu kopi sachet entah itu kopi asli, mereguknya sebentar, lalu mulai menulis tentang apa saja.

Di tangan Reinard, sebatang rokok tidak hanya mengepulkan asap dan menyebabkan kanker paru-paru, tapi juga ini yang paling penting melahirkan kreativitas bernama “Panggil Pulang yang Terbuang.”

Komentar

  1. Ulasan yang sangat menarik. Resensi ni mendorong niat saya, untuk buku Reinald L. Meo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button