Jejak Pelayanan Transpuan di Gereja Maumere

- Admin

Jumat, 16 Juli 2021 - 16:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak Kecil Merasa Dirinya Perempuan

Inang Novi merasa dirinya seperti perempuan sejak kecil. Hal itu sudah dirasakan sejak bapak dan mamanya masih hidup.

“Saat sekolah dasar (SD), saya sudah rasa betul. Dari hati, saya mau seperti itu. Namun, hal itu tidak ada pengaruh dari kakak perempuan saya,” kata Inang Novi.

Yang berkomentar pertama kali tentang dirinya secara langsung ialah seorang biarawati. Itu terjadi setelah ia kerja di biara susteran Ordo Santo Fransiskus (OSF) Bali selama tiga setengah tahun.

Baca Juga : Sepucuk Surat untuk Pengantin Perempuan
Baca Juga : Musisi Difabel Mata ini Ingin Memiliki Keyboard dan Membuka Kursus Musik

Suster itu berkomentar, “Kamu punya cara jalan itu berbeda dengan laki-laki pada umumnya”. Saya jawab, “Saya rasa cara jalan saya itu biasa saja suster. Jadi, suster tidak perlu sibuk dengan cara jalan saya”, imbuh Inang Novi.

Baca juga :  Apa Kabar Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga?

Sejak saat itu, ia merasa biasa-biasa saja dengan tubuh dan ekspresi transpuannya. Ia mulai membuka salon di Bali setelah memutuskan untuk berhenti kerja di biara susteran OSF.

“Waktu itulah saya berdandan untuk pertama kalinya. Saya kan mau tunjukkan dan yakinkan pelanggan bahwa saya bisa dandan. Makanya saya dandanin diri sendiri dulu,” kisah Inang Novi.

Sepulang dari Bali, pada tahun 2000-an, Inang Novi membuka kios di rumahnya. Dia juga jual roti goreng dari kampung ke kampung dengan jalan kaki. Bermodalkan Rp50.000,- akhirnya Inang Novi bisa membeli motor untuk melancarkan usaha-usahanya, termasuk menjalani pekerjaan-pekerjaan berikutnya.

Kemudian dia dipanggil untuk bekerja di rumah sakit. Selama setahun di sana, ia bertugas untuk bersih-bersih, kadang-kadang menerima pasien yang sakit.

Baca juga :  Perempuan, Iklan dan Logika Properti

Kerja bersih-bersih kemudian ia geluti di sekolah St. Thomas dan St. Mathilda Maumere. Setelah sekian tahun berprofesi bersih-bersih, Inang Novi kembali ke rumah. Ia jualan roti goreng lagi. Baru tahun 2010 dia mulai buka salon di rumahnya.

Baca Juga : Perempuan, Iklan dan Logika Properti
Baca Juga : “Utang Budi” Pater Thomas Krump, SVD

Tak disangka, pada tahun 2015, ia dipilih dan dipercaya menjadi penyuluh pertanian di Desa Koting D, kecamatan Koting, Kabupaten Sikka sebagai bendahara. Ia dipercaya memegang dan mengelola dana Rp100.000.000. Dana sebanyak itu akhirnya berkembang di tangan Inang Novi.

“Awalnya saya minder karena orang lain punya pendidikan, sedangkan saya tidak. Saya juga minder karena status saya sebagai transpuan,” ujarnya

Ia merasa ada beban dan rasa tidak percaya diri mendapat tanggung jawab tersebut. Inang Novi bahkan minder untuk terima gaji. Namun, semua itu berlalu bersama dengan waktu yang menyibukkannya dalam beraktivitas.

Baca juga :  Misoginis Si “Pembunuh” Wanita

Inang Novi terlibat aktif dengan para petani setiap hari. Mulai dari situ ia mendapatkan banyak teman dari berbagai daerah di Flores dan daerah-daerah lainnya.

Bahkan Inang Novi mengikuti banyak pelatihan, termasuk pelatihan yang dilakukan oleh Politeknik Kupang. Seperti pepatah yang mengatakan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian dilakukan secara bersamaan dengan usaha salon, kios, jualan bakso, dan tempe.

Sekarang ia tinggal sendiri di rumah yang dibangun oleh jerih payahnya. Tanah untuk rumah itu juga dibeli sendiri dengan uang tabungan sejak bekerja di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, Maumere. Rumah setengah tembok yang berdinding bambu itu memiliki ukuran 6×4 meter.

Komentar

Berita Terkait

Apa Kabar Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga?
Menalar Sikap Gereja terhadap Kaum Homosekual
Misoginis Si “Pembunuh” Wanita
Memahami Term ‘Pelacur’
Perempuan Korban Pelecehan Seksual Cenderung Bungkam, Mengapa?
Berpisah Dengan Pacar Toxic Bukanlah Dosa
Bagaimana Peran Media Dalam Melawan dan Menghapuskan Kekerasan Terhadap Anak?
Perempuan, Iklan dan Logika Properti
Berita ini 100 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 19:07 WITA

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Jumat, 9 Februari 2024 - 18:26 WITA

Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?

Selasa, 6 Februari 2024 - 19:06 WITA

Dari Ledalero untuk Indonesia: Menyelamatkan Demokrasi dari Jerat Kuasa?

Senin, 22 Januari 2024 - 20:58 WITA

Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit

Rabu, 3 Januari 2024 - 06:57 WITA

Independensi, Netralitas Media dan Pemilu 2024

Senin, 11 Desember 2023 - 17:44 WITA

Pemimpin: Integritas, bukan Popularitas

Jumat, 8 Desember 2023 - 17:01 WITA

Politik dan Hukum Suatu Keniscayaan

Jumat, 24 November 2023 - 15:03 WITA

Ketua KPK Memimpin Dengan Contoh; Contoh Korupsi

Berita Terbaru

Sastra

Pantun Berlawanan dengan Puisi

Sabtu, 25 Okt 2025 - 16:31 WITA

Pendidikan

Kaum Muda dan Budaya Lokal

Jumat, 15 Mar 2024 - 19:27 WITA

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA