Filsafat itu Jalan Kepada Makna Hidup

- Admin

Kamis, 11 Agustus 2022 - 21:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Filsafat memberikan pertanyaan yang mendalam tentang realitas manusia, Tuhan, dan alam. Filsafat mempertanyakan apa yang diterima dengan tanpa pertanyaan di dalam masyarakat. Filsafat membentuk pikiran kita untuk melihat dua perbedaan ini: the picture of the world dan your picture of the world.


Filsafat itu mesti dialami bukan dikuasai seperti menghafal rumus fisika. Aristoteles mempunyai fisika sendiri bahwa universe dibagi ke dalam dua bagian, terrestrial dan celestial. Namun, untuk memikirkan bagaimana Aristoteles sampai ke dalam pembagian itu dengan yang terrestrial dibentuk dari kombinasi air, tanah, udara dan api, adalah semangat filsafat yang mesti diambil.


Filsafat mesti mendorong setiap pelajarnya untuk bisa tidak setuju dengan Kant dengan melihat situasi di masa sekarang yang cukup berbeda dari spekulasi filsafat dari masa lalu. Kant, misalnya mengatakan siapa yang emit C02 ke atmosphere mesti membayar ganti rugi. Namun, kita bisa mempertimbangkan kembali Kant. Tanggungjawab etis ini tidak bisa diaplikasikan ke emisi C02 di abad 18 karena scientific data belum tersedia untuk menginformasikan bahwa emisi C02 adalah harmful.

Baca juga :  G.W.F. Hegel: Negara dan Sittlichkeit


Karena itu dari sudut pandang teori moral yang umum, seorang individu mungkin kurang terlalu bisa dituntut tanggungjawabnya dalam situasi tidak kompeten secara epistemik. Atau robot yang menolong seorang nenek tua di rumah sakit, itu tidak merendahkan martabatnya. Filsafat bertugas untuk mengkritisi bahwa Lapindo yang menyemburkan lumpur bukan disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di sekitarnya (bogus science), tetapi kegiatan drilling yang melampaui lapisan bumi yang diijinkan dari sudut pandang ilmu pengetahuan (genuine science).
Filsafat melihat bahwa human smuggling tidak harus salah dalam dirinya sendiri jika seorang imigran dari Afrika terpaksa membayar smuggler untuk menjangkau Eropa dan bekerja mencari uang demi menghidupi orangtuanya di kampung.
Setiap generasi sebetulnya melahirkan cara pandang filsafat yang khas. Saya ingat akan kuliah logika (Marian Talbot dari Oxford dan kuliah Otto Gusti Madung tahun 2014), deontic logic mengatakan, menipu adalah salah. Dengan demikian jangan menipu sama sekali, sementara kita juga memiliki yang namanya temporal logic, bahwa formulasi premis dan kesimpulan yang dibangun itu sebetulnya sangat adaptif, tepat di tahun 2000-an, bisa saja kurang terlalu tepat di masa sekarang.

Baca juga :  Apakah Aku Selfi Maka Aku Ada?


Filsafat mesti membuat kita menyadari bahwa belajar filsafat tidak dibesarkan dari menyebut nama filsuf dan sanggup mengungkapkan pikirannya yang persis sama. Filsafat mesti memberikan alasan untuk belajar Kant dan bisa mengoreksi kembali Kant, samen met Kant tegen Kant. Ini sebagai salah satu contoh untuk mengingatkan bahwa filsafat itu sebetulnya ilmu pengetahuan yang bagus untuk sebuah refleksi sejarah hidup individual dan kolektif secara terus-menerus.


Orang bisa saja menghafal dengan sangat baik teori utilitarianisme klasik Jeremy Bentham dan mengetahui dengan baik perkembangan baru utilitarianisme oleh John Stuart Mill, tetapi orang bisa saja tidak mempraktikan Mill di kamar belajarnya. Bentham katakan, kalau kepuasan babi 90 persen dan kepuasan Samuel 50 persen, kepuasan babi mesti jauh lebih baik.


Namun, Mill berpendapat: better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied, lebih baik menjadi Sokrates yang murung dari pada seekor babi yang bahagia (Mill, 1871, p. 14). Mill kemudian membedakan bahwa kepuasan intelektual dengan membaca novel dengan kepuasan jasmani dari makan nasi merah, adalah dua kepuasan yang berbeda. Yang lebih tinggi tentu membaca novel tentang padi. Namun, di dalam konteks Flores, Mill bisa saja menjadi cukup offensive terhadap para peteni kecil yang tak punya waktu membaca.

Baca juga :  Tolong, Dengarkan Suara Hati! (Subjek Cinta dan Seni Mendengarkan)


Atau orang mungkin mengetahui betul secara teoretis teori moral Aristoteles: tahu betul apa yang mau dibuat (hij weet goed wat hij doen moet), lakukan apa yang benar (does what is right), dan lakukan itu dengan alasan yang benar (does it for the right reason), tetapi orang bisa saja tidak melakukan apa yang diterima sebagai benar dengan alasan yang dibuat-buat.
Saya tutup dengan mengambil inspirasi dari Parmenides: “Hanya satu kisah dari perjalanan yang tersisa ini: bahwa sesuatu adalah ada. Di dalam lajur perjalanan ini ada banyak tanda tentang ada itu: yang menyeluruh, unik, sempurna, dan tak akan pernah bisa retak” (Parmenides: The Way of Truth). Filsafat adalah sebuah penziarahan hidup yang hanya bisa mempertahankan diri dengan subjek penziaraan terus-menerus yang tak pernah retak pula dan itu ada. Filsafat itu jalan kepada makna hidup.

Komentar

Berita Terkait

Tolong, Dengarkan Suara Hati! (Subjek Cinta dan Seni Mendengarkan)
Apakah Aku Selfi Maka Aku Ada?
Autoeksploitasi: Siapa yang Membunuh Sang Aku?
Masyarakat yang Terburu-buru
Masyarakat Smombi
Masyarakat Telanjang
G.W.F. Hegel: Negara dan Sittlichkeit
Emotikon, Krisis Perhatian dan Filsafat Teknologi
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 22:46 WITA

Seni Homiletika: Tantangan Berkhotbah di Era Revolusi Sibernetika

Berita Terbaru

Politik

Menanti Keberanian PDI Perjuangan Berada di Luar Pemerintahan

Selasa, 25 Jun 2024 - 08:31 WITA

Berita

SD Notre Dame Puri Indah Wisudakan 86 Anak Kelas VI

Jumat, 21 Jun 2024 - 12:13 WITA

Pendidikan

Menyontek dan Cita-Cita Bangsa

Jumat, 14 Jun 2024 - 10:52 WITA

Berita

SMP Notre Dame Wisudakan 70 anak Kelas IX

Kamis, 13 Jun 2024 - 18:26 WITA

Pendidikan

Sastra Jadi Mata Pelajaran

Rabu, 12 Jun 2024 - 20:39 WITA