Kedatangan Portugis di kepulauan timur Nusantara pada abad ke-16 membawa perubahan signifikan dalam sejarah Flores dan Timor, terutama melalui perdagangan rempah, penyebaran agama Katolik, dan pembentukan pusat kekuasaan baru. Di Flores, pengaruh Portugis sangat terlihat di wilayah timur seperti Solor, Adonara, Larantuka, Sikka, Paga, Ende, Numba. Di tempat-tempat ini, mereka berhasil mendirikan pusat misi Katolik, jaringan perdagangan, dan hubungan politik. Namun, Flores barat justru relatif tidak terpengaruh secara signifikan oleh kolonialisme Portugis. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan utama: mengapa Portugis gagal memperluas pengaruhnya ke bagian barat Flores? Kajian ini menelaah faktor ekonomi, politik, geografi, agama, dan budaya, serta interaksi antara kekuatan kolonial Portugis, kekuatan lokal, dan persaingan kolonial Belanda, untuk menjelaskan ketimpangan sejarah kolonial di Flores.
Sejak awal, tujuan utama Portugis dalam menjelajahi wilayah timur Nusantara adalah untuk menguasai komoditas bernilai tinggi, terutama kayu cendana di Timor dan rempah-rempah di Maluku. Kayu cendana memiliki nilai tinggi di pasar internasional, sehingga Timor menjadi pusat strategi kolonial mereka. Flores Barat tidak memiliki sumber daya komersial yang signifikan pada abad ke-16 hingga 18. Ketidaktertarikan ini merupakan hasil perhitungan strategis Portugis, karena keterbatasan sumber daya manusia, armada, dan kapasitas logistik.
Ketiadaan komoditas unggulan menyebabkan wilayah ini kurang diprioritaskan sebagai pusat misi atau perdagangan. Sebagai perbandingan, Solor dan Larantuka dipilih karena menawarkan keuntungan ganda: penguatan pengaruh Katolik dan kontrol perdagangan perantara menuju Timor. Dengan sumber daya terbatas, Portugis tidak memiliki kapasitas untuk membangun pos permanen atau mengirim jumlah misionaris yang cukup untuk mempengaruhi masyarakat Manggarai dan sekitarnya.
Selain itu, letak geografis Flores Barat relatif terpencil dibandingkan jalur perdagangan utama yang dilalui Portugis di Laut Banda, Laut Sawu, dan perairan antara Timor dan Solor. Rute-rute ini dipilih karena menawarkan pelabuhan aman, sumber air tawar, dan akses ke jalur perdagangan rempah yang padat. Flores Barat yang berbatasan dengan Laut Sawu bagian barat tidak memiliki pelabuhan alami yang aman dan sulit diakses karena arus laut dan topografi pantai berbatu. Kondisi ini membatasi kemampuan Portugis untuk mengendalikan wilayah barat secara langsung. Armada mereka bergantung pada rute yang efisien, sehingga wilayah yang “off-route” seperti Manggarai tidak menjadi prioritas. Strategi ini menghindarkan mereka dari biaya logistik dan pertahanan yang tinggi tanpa imbalan ekonomi signifikan.
Struktur politik lokal di Flores Barat menjadi penghalang signifikan bagi Portugis. Wilayah ini memiliki hubungan politik erat dengan Kesultanan Bima di Sumbawa, yang sejak lama mengendalikan jaringan tributari, perlindungan politik, dan perdagangan lokal. Penguasa lokal Manggarai memiliki legitimasi politik stabil berkat dukungan Bima, sehingga mereka tidak memiliki kebutuhan untuk membuka diri terhadap Portugis. Kekuasaan Bima membentuk sistem buffer yang melindungi Flores Barat dari penetrasi kolonial. Upaya Portugis untuk membangun hubungan diplomatik atau perdagangan seringkali terbentur loyalitas politik penduduk setempat. Setiap upaya Portugis bisa dianggap sebagai ancaman terhadap struktur kekuasaan lokal, sehingga sulit diterima.
Keterbatasan internal Portugis juga mempersempit ruang gerak mereka. Armada Portugis di Asia Timur relatif kecil dibandingkan Belanda atau Spanyol, dan sebagian besar sumber daya militer digunakan untuk mempertahankan Malaka, Maluku, dan Timor. Portugis mengandalkan misionaris Dominikan dan Jesuit sebagai alat pengaruh politik dan budaya, tetapi jumlah mereka tidak memadai untuk menembus wilayah kompleks secara sosial dan politik. Fokus tetap pada titik strategis yang menjanjikan keuntungan ekonomi dan politik, sedangkan wilayah Barat Flores dianggap “biaya tinggi, hasil rendah.” Keterbatasan ini menyebabkan Portugis lebih memilih mengembangkan pengaruh di Flores timur dan basis mereka di Timor daripada memaksakan dominasi di barat.
Rivalitas kolonial semakin mempersempit peluang Portugis. VOC secara agresif memperluas pengaruhnya di kepulauan timur Nusantara sejak abad ke-17, menjalin hubungan politik dan ekonomi dengan Kesultanan Bima, sehingga Belanda dapat mengontrol wilayah Manggarai secara tidak langsung. Keberadaan VOC sebagai pesaing kolonial utama membuat Portugis kehilangan ruang manuver. Bahkan jika Portugis ingin menembus Flores Barat, mereka harus bersaing dengan Belanda yang memiliki armada lebih besar dan jaringan perdagangan kuat. Persaingan ini membatasi pengaruh Portugis dan memaksa mereka tetap fokus pada wilayah yang lebih aman dan menguntungkan.
Dalam bidang agama, penyebaran Katolik di Flores Timur berhasil karena dukungan politik dan sosial yang memadai, terutama di Larantuka. Namun di Flores Barat, dominasi politik Bima yang beragama Islam serta keberadaan mubalig lokal membatasi penerimaan Katolik. Masyarakat Manggarai memiliki struktur sosial berbasis klan dan adat yang kuat, sehingga identitas budaya tetap terjaga. Tanpa dukungan politik atau militer, Portugis tidak mampu menembus sistem sosial-budaya lokal ini. Struktur sosial yang kohesif dan ritus tradisional menjadi benteng efektif terhadap pengaruh asing.
Seiring melemahnya kekuasaan Portugis pada abad ke-19, Belanda mengambil alih administrasi Flores melalui perjanjian dengan Kesultanan Bima dan elite lokal Manggarai. Belanda menata ulang wilayah Barat Flores dan memperkuat dominasi politiknya, sehingga jejak Portugis semakin tersisih. Proses ini menunjukkan bahwa sejarah Flores barat berkembang berbeda dari Flores timur: wilayah barat lebih dipengaruhi oleh Bima dan Belanda, sementara pengaruh Portugis tetap minimal.
Meskipun Portugis tidak memiliki pengaruh kuat di Flores Barat, warisan agama Katolik yang dibawa melalui ordo Dominikan tetap dipertahankan. Hal ini dimungkinkan karena ketentuan Pasal 10 Perjanjian Lisbon 1859, yang memberikan kebebasan beragama bagi wilayah yang dipertukarkan, sehingga komunitas Katolik lokal dapat terus menjalankan praktik keagamaannya meski administrasi politik berpindah ke Belanda. Dengan demikian, pengaruh budaya dan agama Portugis tetap hidup meskipun kekuasaan politik mereka terbatas.
Perkembangan Misi Katolik di Flores Barat (1910-1961)
Periode Misionaris Yesuit (sebelum 1914):
Tahun 1910-1911, misionaris Yesuit mengunjungi wilayah barat Manggarai beberapa kali. Pastor Engbers, SJ, pada 14-19 Juni 1911, menumpang kapal Kapten de Kock ke Labuan Bajo dari Maumere untuk melayani umat Katolik asal Larantuka yang bekerja sebagai penyelam mutiara. Pastor Engbers juga melakukan baptisan anak-anak di Labuan Bajo dan beberapa kali singgah di Reo, Manggarai Tengah, untuk pastoral.
Pada 17 Mei 1912, Pastor Loojmans, SJ membaptis orang Katolik pertama dewasa di Manggarai: Katarina (Arbero), Henricus, Agnes Mina, Caecilia Weloe, dan Helena Loekoe, sekaligus memberikan Sakramen Pernikahan.
Periode Misionaris SVD (1914-1920):
Tahun 1914 dan November 1915, Mgr. Petrus Noyen, SVD, mengunjungi Reo, Labuan Bajo, dan Ruteng. 1916-1920, P. Wilhem Baack, SVD, selaku Inspektur Sekolah Misi, menjelajahi Manggarai Timur hingga Barat, merayakan Ekaristi, dan membaptis umat.
Pembentukan Struktur Hirarkis Gereja (1920-1961):
23 September 1920, stasi induk Ruteng diresmikan dengan Pastor Bernard Glaneman, SVD sebagai pemimpin.
6 Maret 1921, wilayah Manggarai Timur mendapat pusat misi di Lengko Ajang dipimpin P. Wilhelm Jansen, SVD.
6 April 1924, Pater Franz Eickmann, SVD mulai misi di Manggarai Barat.
1925, tercatat dua paroki dengan 7.036 umat di Manggarai.
29 September 1929, Gereja Katolik Manggarai mendapat status Dekenat, P. Thomas Koning, SVD sebagai deken pertama.
1931, pembangunan Gereja Katedral selesai.
8 Maret 1951, Dekenat Manggarai ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Ruteng, Vikaris Apostolik pertama: P. Wilhelmus van Bekkum, SVD.
3 Januari 1961, Vikariat Apostolik Ruteng menjadi Keuskupan Ruteng, Uskup pertama Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD.
Poin-poin ini menunjukkan bahwa meskipun pengaruh Portugis secara politik lemah, penyebaran agama Katolik di Flores Barat tetap berkembang melalui Yesuit dan SVD, membentuk struktur gereja yang kuat hingga era modern.
Bibliografi:
1. Andaya, L. Y. (1993). The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. University of Hawai‘i Press.
2. Hägerdal, H. (2010). Responding to the West: Christianity and colonialism in the Solor Archipelago, 16th–18th centuries. Journal of Southeast Asian Studies, 41(3), 395–418
3. Hägerdal, H. (2021). Held’s History of Sumbawa. NIAS Press.
4. Fox, J. J. (Ed.). (1980). The Flow of Life: Essays on Eastern Indonesia. Harvard University Press.
5. Barnes, R. H. (1974). Kedang: A Study of the Collective Thought of an Eastern Indonesian People. Clarendon Press.
6. Ardhana, I. K. (2005). Nusa Tenggara Timur dalam Perspektif Sejarah. Pustaka Nusa.
7. Kathirithamby-Wells, J., & Villiers, J. (1990). The Southeast Asian Port and Polity. NUS Press.
8. BiblioAsia. (2023). Portugal’s Linguistic Legacy in Southeast Asia. National Library Board Singapore. Retrieved from https://biblioasia.nlb.gov.sg/vol-19/issue-1/apr-jun-2023/portuguese-legacy-southeast-asia/
9. Wikipedia contributors. (n.d.). Treaty of Lisbon (1859). In Wikipedia. Retrieved December 10, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Treaty_of_Lisbon_(1859)
10. CORE. (n.d.). Colonial expansion and Portuguese influence in Eastern Indonesia. Retrieved from https://core.ac.uk/download/pdf/19884832.pdf
11. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (n.d.). Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Nusa Tenggara Timur. Retrieved from https://repositori.kemendikdasmen.go.id/27523/1/SEJARAH%20PERLAWANAN%20TERHADAP%20IMPERIALISME%20DAN%20KOLONIALISME%20DI%20DAERAH%20NUSA%20TENGGARA%20TIMUR.pdf
12. Victory News. (2025, October 12). Sejarah misionaris Yesuit dan SVD di Flores Barat. Retrieved from https://www.victorynews.com
Penulis : Fransisco Soarez Pati






