Pendidikan Lenting Bencana

- Admin

Jumat, 11 Februari 2022 - 16:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Hampir setiap tahun negara kita dilanda bencana alam. Banjir bandang beberapa kota di  Kalimantan belum surut. Menyusul lagi letusan gunung Semeru, bencana bumi di laut Flores. Tidak sedikit rumah dan infrastruktur mengalamai rusak berat. Ketika sedang mengalami bencana, semua kegiatan publik hampir pasti lumpuh, termasuk kegiatan belajar mengajar. Maka negeri ini pun  berusaha mengerahkan segala sumber dayanya untuk pengembangan kegiatan pendidikan.

Negara kita menyadari betul, bahwa ilmu pengetahuan akan menjadi adikuasa  pertama dan menjadi faktor determinan pada masa depan ketimbang politik.  Seperti halnya sekarang ini, tantangan yang paling besar yang dihadapi bangsa kita ialah ekonomi, tapi pohonnya tetap pada satu hal, everything depends on education.

Negara kita harus belajar banyak dari negara Jepang. Negeri Sakura ini hampir setiap tahun dihantam bencana. Ketika bencana yang paling besar ialah bencana Kobe 1995. Bencana Kobe hampir mirip dengan bom atom Hirosima dan Nagasaki tahun 1945. Banyak infrastruktur pendidikan di Jepang hancur. Kaisar Hirohito pun berujar, “masih berapa guru yang masih hidup?.

Menyadari keadaan itu Negeri Mata hari Terbit ini tidak pernah sedih, apalagi menggantungkan seluruh harapannya  kepada belas kasihan negara lain. Kitapun tidak perlu terlarut dalam suasana sedih, namun kita harus bangkit kembali untuk membangun pendidikan kita. Bukan mustahil berangkat dari kejatuhannya paska bencana alam pendidikan kita pun bangkit dengan jaya.

Baca juga :  Budaya Berpikir Kritis Menangapi Teknologi yang Kian Eksis

Sebab pendidikan diyakini memiliki peran yang sangat strategis, dan oleh karena itu setiap penyelenggara pendidikan selalu berusaha untuk mengembangkannya, agar ia mampu memberdayakan potensi masyarakat menjadi kemampuan aktual yang dapat mendorong berkembangnya berbagai kondisi positif penting bagi kehidupan masyarakat.

Kondisi positif penting tersebut meliputi: tingginya kualitas sumber daya manusia, tingginya produktifitas tenaga kerja, tingginya kesejahteraan sosial, semakin baiknya kapital sosial, semakin baiknya tatanan hidup dan kehidupan masyarakat, semakin baiknya kehidupan berdemokrasi, semakin sejahteralah masyarakat (Prof. Suyanto, 2005).

Pengembangan pendidikan sebagai pranata utama penyiapan tenaga kerja berkualitas menjadi sangat penting, terutama berkaitan dengan dua hal yang harus berjalan seiring dan saling bersinergi:

Pertama, kebijakan pemerintah dalam rangka stabilitas ekonomi, secara selektif akan banyak memanfaatkan faktor-faktor produksi yang berkualitas termasuk tenaga kerja. Kebijakan makro pemerintah tentang pendidikan dan penerimaan keuangan sangat memerlukan dukungan kemampuan teknis produksi yang berkualitas dan kemampuan manajerial yang handal agar dapat menghidupkan kembali roda perekonomian.

Baca juga :  Peluang Pendidikan Tinggi di Era Digital

Kedua, tuntutan dan permasalahan era global. Persaingan global antara negara di dunia semakin ketat dan tajam akan membawa perubahan yang sangat cepat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Lahirnya multinational company juga menjadikan persaingan bisnis berskala regional, internasional, maupun global semakin meningkat, akan berdampak luas pada pergeseran struktur ekonomi dan struktur pasar tenaga kerja di Indonesia.

Restrukturisasi ekonomi global  yang sejalan dengan proses neoliberalisasi telah berdampak terhadap perubahan struktur pasar tenaga kerja di Indonesia. Terkait langsung di dalamnya sistem pendidikan, yang merupakan bagian yang terpenting proses menyiapkan angkatan kerja dengan kualifikasi  tinggi sesuai dengan konteks  restrukturisasi ekonomi. Jika tidak, kualitas SDM kita  akan menurun. Hal ini akan berdampak pada hilangnya  keunggulan kompetitif angkatan kerja yang dimiliki.

Perkembangan ekonomi paska bencana alam yang sejalan dengan proses neoliberalisasi telah mengakibatkan terjadi pergeseran otomatis pada struktur ketenagakerjaan di Indonesia. Perubahan struktur ini berdampak langsung pada  pendidikan, sebagai lembaga yang menyiapkan tenaga kerja (profesional), yang mau tidak mau kita segera melakukan recovery pendidikan.

Baca juga :  Urgensi Literasi Digital di Era Pasca-Kebenaran 

Menyikapi pendidikan paska bencana alam, upaya dini yang dilakukan oleh pemerintah, termasuk pemerintah daerah  adalah promosi pendidikan ke seluruh negeri. Artinya, pemerintah harus meyakinkan masyarakatnya bahwa pendidikan menjadi kunci utama kemajuan Indonesia.  Dengan melakukan promosi secara intensif  akan tidak mengurangi minat calon siswa/mahasiswa   untuk melanjutkan pendidikannya. Maka secara otomatis perekonomian masyarakat dapat tumbuh kembali dengan cepat.

Selain memberi manfaat kepada pendidikan, kehadiran  siswa/mahasiswa akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat suatu daerah. Sebut saja misalnya dampak positif yang ditimbulkan dari banyaknya para siswa/mahasiswa, yang tinggal di kabupaten/kota, misalnya terhadap pertumbuhn jumlah uang beredar baru (fresh money) yang masuk perekonomian kabupaten/kota, yang berasal dari daerah-daerah asal para siswa/mahasiswa tersebut. Uang segar ini akan mengalir ke berbagai usaha masyarakat seperti sewa rumah atau kos-kosan, warung makan/restoran, pasar, pertokoan, pusat perbelanjaan, bengkel motor dan mobil, SPBU, transportase umum, perbankan, foto kopi, dan lain-lain.

Komentar

Berita Terkait

Disrupsi  Teknologi dan Dinamika Pendidikan Kita
Budaya Berpikir Kritis Menangapi Teknologi yang Kian Eksis
Stempel Meritokrasi
Urgensi Literasi Digital di Era Pasca-Kebenaran 
Pembelajaran Agama Bercoral Multikultural
Peluang Pendidikan Tinggi di Era Digital
Krisis Kemampuan Berpikir  Mahasiswa
Calo Ilmu Pengetahuan
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 19:07 WITA

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Minggu, 18 Februari 2024 - 16:18 WITA

Demokrasi dan Kritisisme

Jumat, 9 Februari 2024 - 18:26 WITA

Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?

Senin, 22 Januari 2024 - 20:58 WITA

Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit

Rabu, 3 Januari 2024 - 06:57 WITA

Independensi, Netralitas Media dan Pemilu 2024

Senin, 11 Desember 2023 - 17:44 WITA

Pemimpin: Integritas, bukan Popularitas

Jumat, 8 Desember 2023 - 17:01 WITA

Politik dan Hukum Suatu Keniscayaan

Jumat, 24 November 2023 - 15:03 WITA

Ketua KPK Memimpin Dengan Contoh; Contoh Korupsi

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA