Pendidikan

Pembelajaran Agama Bercoral Multikultural

Penulis : Ben Senang Galus

Indodian.com – Seorang teman Muslim melalui Whatsapp kepada saya, 9 November 2021, mengatakan “Paus Fransiskus barangkali pemimpin modern umat Katolik yang mencurahkan banyak energinya untuk memberi semangat kepada semua orang dari kalangan agama apa pun untuk membangun dunia dalam perdamaian. Visi perdamaian  Paus Fransiskus  yang selalu memperjuangkan kehidupan yang berkesataran, berkeadilan, hospitalitas, dan bebas konflik.

Visi Paus Fransiskus memiliki relevansi yang kuat dengan situasi dunia saat ini yang tidak pernah sepi dari penindasan dan konflik. Yang memprihatinkan konflik bersumber salah satunya dari agama, yang justru sering dijadikan sebagai sumber dan bahan dialog oleh Paus Fransiskus”.

Baca juga :  Calo Ilmu Pengetahuan

Dialog antaragama atau antariman sebagai salah satu jalan menciptakan perdamaian di dunia yang tidak henti-hentinya digagas oleh  Paus Fransikus, hendaknya menjadi bagian dari praksis iman kaum beragama di tengah-tengah kemajemukan yang berpotensi menimbulkan konflik. Salah satu ruang sosial sebagai praksis iman untuk mengelola kemajemukan adalah pendidikan sebab beragam konflik sering muncul antara lain yang dipicu oleh perbedaan agama.

Dalam tataran teoritik selalu dikatakan agama sebagai unsur sosial dengan tingkat sensitivitas yang tinggi. A Mukti Ali (1976), mengatakan, “tidak ada tema pembicaraan yang paling menggugah emosional selain tema agama.  Ranah pembicaraan agama dapat melampaui ranah budaya, etnis, bahasa, dan lain sebagainya. Apabila, misalnya, etnis, bahasa, dan budaya, memiliki keterbatasan hanya dalam konteks kelompok tertentu yang secara kebetulan disatukan dengan latar belakang etnis, budaya, dan bahasa tertentu.

Baca juga :  Urgensi Pendidikan Pancasila di Era Milenial

Tetapi tidak dengan agama. Agama bisa merangkul perbedaan budaya, bahasa, dan etnis. Sehingga jika ada persoalan sosial seperti konflik yang dipicu oleh agama, maka dengan begitu cepatnya mendatangkan respons dari pihak yang memiliki kesamaan agama dengan pihak yang terlibat dalam konflik secara langsung, meskipun dari sisi budaya berbeda”.

Sebagai bagian dari pembentuk identitas manusia sebagaimana halnya etnis, budaya, dan bahasa, agama menempati posisi yang paling sublim dalam kehidupan manusia. Agama patut ditempatkan dalam posisi yang demikian karena salah satu bagian fundamental dalam cara mengada (mode of existence) manusia adalah, pencarian terhadap agama. Bahwa agama menjadi bagian penting dalam cara manusia mengada, bisa dibuktikan dari objek yang paling banyak dicari oleh manusia sepanjang hayatnya.

Baca juga :  Menjadi "Gentleman"?: Silang Pendapat Locke dan Rousseau tentang Pendidikan

Agamalah yang paling banyak dicari. Proses pencarian manusia terhadap agama adalah kelanjutan belaka dari karakter manusia yang sejatinya merupakan makhluk religius. Dari sudut pandang kajian keislaman, agama pertama-tama diposisikan sebagai fitrah majbulah. Maksudnya, dalam diri manusia terdapat potensi beragama, sehingga manusia dalam pandangan Islam mudah menerima agama.

1 2Laman berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button