Pelangi di Mataku

- Admin

Sabtu, 17 Juli 2021 - 20:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dia kemudian menitipkan dua buah rosario dan kitab suci. Satu untuk saya, dan satu lagi untuk Pelangi.

Keluarga besar saya sudah menunggu di halaman rumah. Mereka menatap kami dengan sinis. Bak menunggu musuh yang akan dipenggal kepalanya. Bapak dan kakak mengamuk. Marah-marah tak karuan.

“Dasar anak biadab!!” Teriak mereka.

“Ada apa ini?”

“Kau diam atau kepalamu hilang?” Mereka bersorak lagi.

Saya melihat Pelangi gemetar. Anak yang akrab dengan sengsara ini tidak biasa takut dengan maut. Kali ini dia tak kuasa menahan kenyataan, bahwa dunia malam dipandang samar-samar.

Baca juga :  Kota dan Rindu yang Setia

Baca Juga : Cerita Pensiunan Guru di Pelosok NTT yang Setia Mendengarkan Siaran Radio
Baca Juga : Urgensi Penelitian Sosial terhadap Pembentukan Kebijakan Publik


Urgensi Penelitian Sosial terhadap Pembentukan Kebijakan Publik

Saya juga tak bisa berpaling selain bersedia memikul salib-salib kecil perjalanan kepada ribuan tahun esok.

“Tenang dulu kakak-kakak dan bapak. Saya ini darah daging kalian.”

“Sudah! Stop dengan omong kosong ini.” Jawab kakak saya, Filipus.

Kami pun memasuki rumah. Emosi mereka berhasil dipadamkan. Saya luput dari penggalan parang sepanjang satu meter.

Baca juga :  Cerita Seorang Pembohong

Semua diam begitu saya mengeluarkan tuak dan rokok. Saat ini dua barang ini adalah simbol permohonan maaf dan komitmen. Dalam budaya kami tuak dan rokok adalah simbol perdamaian.

Saya menjelaskan masa lalu, kini, dan komitmen kami untuk membangun keluarga bersama “si anak malam”. Semua tertunduk dan meneteskan air mata.

Baca Juga : Asal-Usul Roh Halus Menurut Kepercayaan Asli Orang Manggarai
Baca Juga : Kisah Seorang Difabel di Wodong yang Sukses Jadi Kepala Tukang

Mereka menyetujui hubungan kami dan siap menggelar upacara pembaptisan sebagai pertobatan, serta pemberian sakramen pernikahan oleh Pastor Rikardo. Saya awalnya masih ragu karena takut perempuan ini terjangkit virus HIV-AIDS. Ketakutan itu akhirnya sirna setelah dokter Paskaliana Naura memastikan bahwa Pelangi aman-aman saja.

Baca juga :  Seratus Jam Mencari Sintus

Saya akhirnya tak menulis kisah dari rekaman wawancara malam minggu untuk majalah Humanitas. Kisah Pelangi dan kawan-kawan biarkan menjadi warna-warni perjalan saya bersamanya di hari esok, karena mulai hari ini dia memasuki babak baru dan akan mengarungi bahtera rumah tangga bersama saya. []

#Jpr, Okt ’19

Komentar

Berita Terkait

Lelaki Banyak Masalah
Teriakan-Teriakan Lia
Antara Hujan dan Air Mata
Sunset yang Hilang
Tanpa Tanda Jasa
Seratus Jam Mencari Sintus
Perempuan Tangguh
Kita adalah Sepasang Luka
Berita ini 103 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Oktober 2022 - 18:26 WITA

Perlawanan Tanpa Titik dalam Novel “Perempuan di Titik Nol”

Jumat, 3 Desember 2021 - 00:22 WITA

Kesederhanaan yang Megah dan Niat Baik Menyelamatkan yang Terbuang

Rabu, 14 April 2021 - 13:54 WITA

Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Berita Terbaru

Sastra

Pantun Berlawanan dengan Puisi

Sabtu, 25 Okt 2025 - 16:31 WITA

Pendidikan

Kaum Muda dan Budaya Lokal

Jumat, 15 Mar 2024 - 19:27 WITA