Penyakit Lisandro Martinez di MU: Hanya “Achilles Heel” atau Selamanya Akan Selalu Buruk?

- Penulis

Jumat, 19 Agustus 2022 - 22:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Dalam mitologi Yunani, ada seorang pejuang tangguh bernama Achilles. Achilles punya penyakit di tumitnya yang membuat dia gampang terbunuh.
Tapi dia berhasil menjadi salah satu pejuang paling berpengaruh setelah mampu menyembunyikan kelemahan itu dan memaksimalkan kekuatan di bagian tubuhnya yang lain.
Manchester United juga punya Achillesnya sendiri. Namanya Lisandro Martinez. Dia seorang pemain bertahan yang punya bakat hebat, tapi juga punya kelemahan yang berpotensi membawa petaka.


Bek baru Manchester United, Lisandro Martinez dituding sebagai salah satu penyebab utama terpuruknya Setan Merah pada dua laga awal Liga Inggris 2022/2023.
Walaupun punya bakat besar sebagai seorang pemain bertahan, Martinez punya satu kelemahan yang bisa saja dimanfaatkan lawan untuk memporakporandakan pertahanan Manchester United.
Kelemahan itu terletak pada postur tubuhnya yang kecil dan pendek, yang dinilai tidak cocok untuk bek tengah di Liga Inggris yang terkenal dengan permainan keras.
“Jika Anda mendatangkan bek tengah setinggi 1,75 meter, dia tidak akan bisa bersaing di liga ini (Inggris),” ungkap Jamie Redknapp, mantan gelandang yang selama 15 tahun bermain di Liga Inggris.
“Setiap tim akan mengekspos kelemahan itu dari minggu ke minggu, seperti yang dilakukan Brentford dan Brighton. Dia (Martinez) tidak cukup tinggi untuk berada di posisi itu.”
Redknapp benar. Setelah kemenangan 4-0 Brendford atas MU dalam laga pekan kedua Liga Inggris 2022/2023, Manajer Thomas Frank mengakui bahwa sejak awal mereka berencana memanfaatkan kelemahan Martinez.
“Kami tahu punya peluang untuk memenangi bola (jika berduel dengan Martinez). Kami belajar dari Brighton yang bermain bagus melawan mereka,” ujar Frank kepada Sky Sports.
“Biasanya Brighton membangun serangan dari bawah, tetapi mereka bermain dengan bola panjang dalam laga itu. Kami akhirnya mendapatkan senjata itu, lalu kami gunakan.”
Martinez didatangkan dari Ajax Amsterdam sebagai salah satu pembelian favorit musim ini. Ditebus dengan uang Rp860 Miliar, pria kelahiran Januari 1998 itu menjadi bek kedua termahal yang pernah dibeli MU setelah Harry Maguire.
Tidak heran jika Setan Merah berharap banyak padanya. Akan tetapi harapan itu langsung dipatahkan dalam dua laga awal Liga Inggris musim ini.
Ten Hag mendatangkan Martinez dari Ajax bukan tanpa alasan. Dia adalah pemain serba bisa di lini belakang. Tidak hanya tangguh di tengah, dia juga bisa diandalkan untuk posisi bek sayap dan gelandang jangkar.
Di Ajax Amsterdam, Ten Hag beberapa kali menempatkan Martinez di dua posisi itu. Di Inggris, kedua posisi itu dinilai lebih cocok bagi Martinez ketimbang posisi bek tengah yang menuntut lebih dari sekadar kehebatan skill.
“Sejujurnya, akan sangat sulit (untuk bek tengah) berhasil di liga ini dengan kondisi fisik seperti itu, sehebat apa pun Anda,” ujar mantan bek Setan Merah, Gary Neville.
Neville pun menganjurkan Martinez merelakan posisinya sebagai bek tengah dan bergeser ke kiri untuk bermain sebagai seorang bek sayap.
”Kisah dia seperti mengembalikan saya ke masa lalu. Saya mungkin bermain sekitar 50 laga dari 150 laga pertama sebagai bek tengah. Namun, kemudian saya harus bergeser dari posisi itu karena tidak mampu berduel dengan striker tinggi dan besar.”
Jika bergeser dari posisi bek tengah, Martinez akan menjadi seperti Achilles dalam mitologi Yunani. Achilles adalah seorang pejuang tangguh yang punya satu kelemahan besar yang bisa dimanfaatkan lawan-lawannya.
Akan tetapi Achilles berhasil menjadi salah satu pejuang paling berpengaruh karena bisa menyembunyikan kelemahannya kemudian memaksimalkan keunggulan yang dimiliki.
Bagi Martinez, salah satu cara menyembunyikan kelemahan itu adalah dengan bergeser dari posisi bek tengah dan bermain di kiri atau di tengah sebagai jangkar.
Jika tidak, ia selamanya akan menjadi penyakit.

Komentar
Baca juga :  Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja

Berita Terkait

Kroasia: Perang, Luka Modric dan Sepak Bola
Menanti Xavi Hernandez yang Datang Saat Schadenfreude Terlanjur Menjadi Kewajiban Moral
Zidane, Tuchel, dan Tuhan
Kemenangan Barcelona di Mata Seorang Madridista Setengah Moderat
Perjalanan Panjang El Barca Sebelum Buka Puasa di La Cartuja
Catatan Pendek Pasca Pekan Berat Real Madrid
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 November 2023 - 23:35 WITA

Fakultas Filsafat Unwira Adakan Seminar Internasional sebagai Bentuk Tanggapan terhadap Krisis Global    

Jumat, 23 Juni 2023 - 07:01 WITA

Komunitas Circles Indonesia: Pendidikan Bermutu bagi Semua

Rabu, 17 Mei 2023 - 11:05 WITA

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa melalui Kelas Belajar Bersama

Kamis, 4 Mei 2023 - 14:47 WITA

Mahasiswa Pascasarjana IFTK Ledalero Mengadakan PKM di Paroki Uwa, Palue   

Sabtu, 25 Maret 2023 - 06:34 WITA

Masyarakat Sipil Dairi Mendesak Menteri LHK Cabut Izin Persetujuan Lingkungan PT. DPM  

Sabtu, 21 Januari 2023 - 06:50 WITA

Pendekar Indonesia Menggelar Simulasi Pasangan Calon Pimpinan Nasional 2024

Selasa, 17 Januari 2023 - 23:01 WITA

Nasabah BRI Mengaku Kehilangan Uang di BRImo

Rabu, 11 Januari 2023 - 18:26 WITA

Komunitas LMC Beri Kado Nataru untuk Anak Disabilitas dan Janda

Berita Terbaru

Filsafat

Masyarakat Telanjang

Selasa, 28 Nov 2023 - 22:48 WITA

Pendidikan

Budaya Berpikir Kritis Menangapi Teknologi yang Kian Eksis

Selasa, 28 Nov 2023 - 19:50 WITA

Politik

Ketua KPK Memimpin Dengan Contoh; Contoh Korupsi

Jumat, 24 Nov 2023 - 15:03 WITA

Politik

Makan Siang, “Pertobatan”, dan Masa Depan Indonesia

Jumat, 24 Nov 2023 - 06:32 WITA