Waspada Terhadap Bandit Demokrasi

- Admin

Sabtu, 18 Desember 2021 - 06:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Memperkuat Masyarakat Sipil 

Demokrasi yang kuat jika didukung oleh masyarakat sipil (civil society/CS)   yang kuat sebagai kekuatan moral (moral force), dan sekaligus menjadi katalisator perubahan sosial dan demokrasi.

Tatkala demokrasi di persimpangan jalan, ditangan para bandit, CS segera mengambil alih. Civil society, bergerak pada pada manusia, sehingga demokrasi kita berwajah kemanusiaan. Mengabaikan wajah kemanusiaan berarti Anda telah melakukan eutanasia demokrasi dengan berbagai senjata yang telah Anda hasilkan dari bangku kuliah.

Oleh karena itu Heideger telah mengingat masyarakat sipil termasuk generasi muda harus menjalankan dua kewibawaan: (1) Das rehnende denken: pemikirannya memperhitungkan—kehadirannya perlu diperhitungkan sebagai asset strategis, menguasai dengan alasan membuat kalkulai politik, (2) Das andenkende denken, pemikirannya yang memperhatikan, kehadirannya mampu untuk berpikir, bersikap terbuka, perlu menjadi pribadi yang bebas dari mentalitas ikut arus.

Baca juga :  Agama, Politik dan Kemaslahatan Bersama

Bagaimana CS memposisikan dirinya dalam konfigurasi kebangsaan ke depan dalam mengkawal demokrasi? CS memposisikan diri sebagai kekuatan nasional, kekuatan demokrasi,  katalisator perubahan, mengembangkan politik populis—option for the poor, nonmachiavelis, solidaritas universal, non diskriminasi, menjadi garda depan perjuangan demokrasi, menjadi reference group.

Untuk menjamin  posisi di atas, ada empat fokus perjuangan politik CS pada saat ini maupun ke depan dalam  menyelamatkan demokrasi dari tangan para bandit: 1)Pemberdayaan masyarakat sipil (civil society), 2) Penataan system politik yang bermoral, 3) Pembangunan kultur keterbukaan dan demokrasi, 4) Prinsip berpolitik mahasiswa hendaknya berpedoman pada karakter berikut; in principiis, unitas, in dubuiis, libertas, in omnibus, caritas (dalam hal prinsip kita bersatu, dalam hal terbuka kita bebas menentukan pendapat, dalam segala hal harus ada kasih—Mgr. Segijopranata, SJ), Mahasiswa terlibat dalam kegiatan politik dalam rangka menempatkan diri sebagai noblesse oblige, sembari  berpegang pada prinsip moral, Serviens in lumine veritatis, melayani dalam cahaya kebenaran (serving in the light of truth).

Baca juga :  Akumulasi Hasrat dan Perampasan Ruang di Flores, NTT

Dengan cara demikian  CS menjalankan sebagian Academic Social Responsibilty.  Dan percayalah apapun yang Anda lakukan, Anda telah mewartakan prinsip moral kedua ”Gloria Dei Vivens Homo, Irenius, Adversus Haereses (memancarkan cahaya kemuliaan Allah penciptanya). Sekali lagi  Vox civilem societatem Vox Dei (suara masyarakat sipil adalah suara Tuhan). Selamatkan demokrasi dan jangan biarkan bandit demokrasi dan ekonomi tangan kotor merajela di Indonesia. 

*)Ben Senang Galus, penulis buku, Kuasa Kapitalis dan Matinya Nalar Demokrasi,tinggal di Yogyakarta

Komentar

Berita Terkait

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi
Demokrasi dan Kritisisme
Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?
Dari Ledalero untuk Indonesia: Menyelamatkan Demokrasi dari Jerat Kuasa?
Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit
Independensi, Netralitas Media dan Pemilu 2024
Pemimpin: Integritas, bukan Popularitas
Politik dan Hukum Suatu Keniscayaan
Berita ini 113 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Oktober 2022 - 18:26 WITA

Perlawanan Tanpa Titik dalam Novel “Perempuan di Titik Nol”

Jumat, 3 Desember 2021 - 00:22 WITA

Kesederhanaan yang Megah dan Niat Baik Menyelamatkan yang Terbuang

Rabu, 14 April 2021 - 13:54 WITA

Tubuh Dan Persetubuhan Itu Suci

Berita Terbaru

Sastra

Pantun Berlawanan dengan Puisi

Sabtu, 25 Okt 2025 - 16:31 WITA

Pendidikan

Kaum Muda dan Budaya Lokal

Jumat, 15 Mar 2024 - 19:27 WITA