Calo Ilmu Pengetahuan

- Admin

Selasa, 25 Januari 2022 - 20:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Tulisan Syamsul Risal, Profesor karena Joki (Kompas, 15 Desember 2021),  apakah syarat untuk menjadi profesor sangat berat? Tidak. Syaratnya, seseorang harus bergelar doktor dan punya satu artikel yang dipublikasikan pada jurnal internasional berprestasi.  Namun yang menjadi persoalan menurut Syamsul Risal, tidak sedikit dosen yang menulis di jurnal internasional menggunakan jasa konsultan atau lebih tepatnya menggunakan joki atau gacok.

Seminggu menjelang tulisan Syamsul Rizal, saya dengan beberapa teman di Yogyakarta mengadakan diskusi kecil-kecilan mengenai pendidikan di Indonesia. Salah seorang, yang kebetulan dosen senior salah satu perguruan tinggi di Yogyakara, mengatakan, “tidak sedikit perguruan tinggi (PT) kita di tanah air, sebagai toko kelontong. Bagaimana mungkin perguruan tinggi selevel toko kelontong, dosen-dosennya mereproduksi pengetahuan bertaraf internasional.  Hal demikian sangat mudah kita pantau,  misalnya PT kita tidak memiliki keunggulan dalam mengajar dan  penelitian. Jumlah tulisan dosen di media massa tidak banyak. Begitu pula, masih minimnya tulisan ilmiah dosen di jurnal internasional yang bereputasi atau dikutip ilmuwan negara lain.”

Baca juga :  Membangun Taman Baca, Membangun Harapan Bangsa

Melengkapi komentar teman, saya mengatakan, “kualitas mahasiswa kita sekarang mutunya merosot, disebabkan karena ulah dosennya yang tidak berbeda jauh sebagai “calo” ilmu pengetahuan.   Semua ilmu yang dimiliki berhenti ketika sudah mendapat gelar magister atau doktor, tak ada reproduksi pengetahuan lagi. Meminjam kata-kata Prof. Satjipto Raharja, dosen kita di tanah air, kebanyakan menganut ilmu pisang alias sekali berbuah mati. 

Baca juga :  Pendidikan Lenting Bencana

Perguruan tinggi merupakan tempat mendidik mahasiswa menjadi manusia jujur, menjadi manusia yang berpengatahuan luas, menjadi manusia yang memiliki knowledge power yang kuat. Oleh karena itu perguruan tinggi tidak perlu alergi untuk diperdebatkan, dikritik oleh masyarakat. Semua problem di PT diperdebatkan, tanpa ada praduga buruk. Pengelolaannya harus atas dasar sikap jujur, obyektif, dan transparan. Sebab pengetahuan itu sendiri sifatnya jujur, obyektif, dan tansparan.

Dosen   sebagai   transfer of knowledge (membagi ilmu pengetahuan) kepada mahasiswanya, supaya mahasiswanya menjadi cerdas dan pintar.  Maka fungsi dosen sebagai tranfer of knowledge, dipacu  untuk menyampaikan pendapat, melakukan inovasi pembelajaran, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bereksplorasi. Sebab mahasiswa bukan botol kosong, yang perlu diisi. Setiap dosen harus mengetahui kemampuan mahasiswanya. Oleh karena itu sistem pembelajarannya menggunakan pendekatan student center learning. Mahasiswa menjadi teman diskusi untuk memecahkan masalah. Minimal masalah materi kuliah yang sedang dipelajari.

Baca juga :  Budaya Berpikir Kritis Menangapi Teknologi yang Kian Eksis

Berani untuk membuang konsep yang sudah usang, menciptakan sesuatu yang baru. Dan paling sederhana dosen harus bisa menyusun makalah seminar, menyusun bahan ajar,  setidaknya soal-soal  kecil itu, sudahlah kalau menulis buku tidak bisa.

Komentar

Berita Terkait

Kaum Muda dan Budaya Lokal
Disrupsi  Teknologi dan Dinamika Pendidikan Kita
Budaya Berpikir Kritis Menangapi Teknologi yang Kian Eksis
Stempel Meritokrasi
Urgensi Literasi Digital di Era Pasca-Kebenaran 
Pembelajaran Agama Bercoral Multikultural
Peluang Pendidikan Tinggi di Era Digital
Pendidikan Lenting Bencana
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 September 2022 - 11:10 WITA

Memaknai Lagu “Anak Diong” dalam Konteks Budaya Manggarai

Selasa, 16 Agustus 2022 - 20:27 WITA

Lingko dalam Festival Golo Koe  

Selasa, 14 Juni 2022 - 11:38 WITA

Cear Cumpe, Ritus Pemberian Nama dalam Kebudayaan Manggarai, NTT

Jumat, 29 April 2022 - 15:49 WITA

Konsep Bambu dalam Budaya Manggarai

Senin, 14 Februari 2022 - 06:00 WITA

Merayakan Hari Kasih Sayang

Selasa, 18 Januari 2022 - 20:30 WITA

Aku Caci, Maka Aku Ada

Minggu, 17 Oktober 2021 - 12:31 WITA

Cerita Tuna Merah di Sumber Mata Air

Rabu, 13 Oktober 2021 - 22:05 WITA

Otensitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Berita Terbaru

Politik

Hukuman Ringan, Korupsi Lestari

Senin, 8 Jun 2026 - 08:40 WITA

Filsafat

Tanapolitik Negara dan Estetika Eksistensi Michel Foucault

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:05 WITA

Sejarah

Agama-Agama Asli di Nusa Tenggara Timur

Kamis, 4 Jun 2026 - 10:56 WITA

Filsafat

Kritik terhadap Kebabasan Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:07 WITA