Menyoal  Pembagian Bibit Kopi di Mano

- Admin

Rabu, 25 Mei 2022 - 11:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Manggarai Timur merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Status sebagai daerah penghasil kopi terbaik berlandaskan pada kenyataan bahwa kopi Colol yang terdapat di Manggarai Timur telah menjadi komoditas yang menarik perhatian pasar nasional maupun internasional. Kopi Colol sudah dikenal dan dikonsumsi di NTT dan telah diekspor ke Belanda. Itu kekayaan yang luar biasa (Media Indonesia Menyapa, 6 Juni 2021).

Menyadari hal ini, pada tanggal 6 Juni 2021 Bupati Agas Andreas menyampaikan bahwa untuk memajukan pariwisata, Pemerintah Manggarai Timur akan giat mempromosikan agrowisata kopi Colol. Ia berharap semua hotel di Matim juga turut mendukung dengan menyuguhkan kopi Colol kepada wisatawan. Komitmen serupa pun digemakan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui surat Keputusan Gubernur yang berisikan agar masyarakat NTT mengonsumsi kopi lokal sebagai bentuk apresiasi dan dukungan bagi pengembangan kopi lokal.

Meskipun demikian, alih-alih mengembangkan Kopi Colol sebagai komoditas yang paling berharga di Manggarai Timur, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur justru mengambil jalan lain yaitu memberikan bantuan berupa kopi varietas Arabika Lini S.795 yang dikirim langsung dari Desa Kemilior, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo untuk para petani kopi di Mano. Sungguh sebuah ironi. Bagaimana tidak, di tengah nama kopi Colol yang terus melambung, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur justru tidak proaktif dalam mengkampayekan petani kopi di Mano untuk menanam kopi Colol.

Baca juga :  Desa: Sentra Budaya dan Peradaban

Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Manggari Timur merupakan sesuatu yang sangat ambigu. Tindakan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur sungguh sangat lucu dan naif. Pemerintah Daerah Manggarai Timur secara langsung maupun tidak langsung mengabaikan status kopi Colol sebagai komoditas yang sudah terkenal di kancah Eropa dan Amerika. Ini juga berarti bahwa Pemerintah Daerah Manggarai Timur tidak mempunyai komitmen yang jelas dalam mengembangkan Kopi Colol sebagai  komoditi unggulan daerah.

Hemat saya, kebijakan pemerintah tersebut cukup keliru. Tindakan Pemerintah Daerah Manggarai Timur ini lantas memunculkan beberapa pertanyaan yaitu: Pertama, apakah kopi arabika lini S.795 cocok untuk iklim daerah Mano? Jangan sampai kopi berjenis arabika ini ibarat menjilat madu di ujung pisau tajam. Artinya, semakin banyak kita menanam semakin besar pula peluang untuk diserang oleh hama atau bahkan yang lebih parah lagi tidak bertahan dengan didahului pohon yang meranggas serta daun berguguran tanpa kenal musim. Atau kemungkinan yang paling buruk adalah kopi arabika lini S.795 ini mati setelah berada di tangan petani padahal belum ditanam.

Pada titik ini,  petani kopi mengalami kecemasan yang sangat akut. Fakta empris ini sudah menjadi hal yang lumrah bagi petani kopi di Mano ketika pemerintah memberikan bantuan berupa kopi dari luar daerah atau istilah yang mereka (petani) gunakan adalah kopi proyek.

Baca juga :  Dicky Senda, Model Cendekiawan Milenial dalam Pembangunan NTT

Kedua, jika pemerintah Manggarai Timur berpatokan pada prinsip bonum commune, mengapa tidak mengembangkan Kopi asli Colol yang memiliki kualitas yang teruji?  Jika memang ingin mewujudkan bonum commune bagi petani kopi, maka pemerintah membeli bibit kopi dari petani Manggarai Timur, bukan bibit kopi dari Petani Purworejo.

Ketiga, apakah kualitas kopi arabika dari Purworejo setara dengan kopi arabika asal Colol? Seperti yang kita ketahui bersama, pada tahun 2015, kopi jenis arabika dan robusta asal Colol dinobatkan sebagai kopi terbaik dalam kontes kopi yang diselengarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia bersama pusat penelitian kopi dan kakao Jember. Dalam kontes yang dilaksanakan di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 10-14 November 2015 tersebut, kopi Colol berhasil menggeser peringkat kopi Jambi, dengan nilai 84,32 poin (Tabloid Hari Tani hal:10). Dengan demikian, kualitasnya kopi Colol tidak bisa diragukan lagi karena sudah teruji kualitasnya.

Keempat, mengapa Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur dan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur menjadikan kopi Purworejo sebagai primadona di NTT? Mengapa bukan kopi Colol atau kopi Bajawa? Hemat saya, pemerintah gagap membaca perkembangan tentang kopi di NTT. Padahal, kopi arabika asal Bajawa menempati urutan ketiga dari 5 (lima) kopi terbaik di Indonesia (Buka Reviuw, 24 September 2021).

Pada tataran ini, kesimpulan yang tentatif tapi cukup objektif yang bisa kita ambil dari keempat pertanyaan besar di atas yaitu pemerintah merasa pesimis dan sinis terhadap kualitas kopi Colol serta membiarkan para petani kopi melarat dalam kemiskinan.

Baca juga :  Optimalisasi Layanan Pelabuhan Podor dalam Meningkatkan PADes Desa Lewohedo

Saat ini, Manggarai Timur masuk dalam katagori kabupaten dengan tingkat kemiskinan ekstrem. Indikator kemiskinan ekstrem adalah pendapatan masyarakat, rumah layak huni, air minum bersih, sanitasi berbabis lingkungan, akses listrik, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga (Flores Pos 4 Nov 2021).

Jika pemerintah jeli melihat situasi ini, maka Manggarai Timur bisa keluar dari daerah tingkat kemiskinan ekstrem dengan mengembangkan potensi yang ada di Manggarai Timur. Salah satu aset yang bernilai adalah kopi Colol yang sudah teruji kualitasnya. Tetapi anehnya, pemerintah Manggarai Timur membeli jenis kopi yang berasal dari luar daerah. Selain mengalokasikan uang untuk membeli jenis kopi di Jawa, kualitas kopi itu belum tentu cocok dengan kondisi tanah di Manggarai Timur.

Kebijakan ini memperlihatkan paradigma kebijakan pemerintah kabupaten Manggarai Timur yang belum menempatkan rakyat sebagai subjek pembangunan. Pemilihan jenis kopi menjadi indikasi bahwa keputusan pemerintah tidak mempertimbangkan potensi daerah.

Ketika pemilu, pemimpin datang dengan janji tetapi setelah menduduki tahta kekuasaan, kebijakan sungguh jauh dari yang diharapkan. Mereka hanya berani turun gunung ketika berpesta demokrasi, duduk bersama petani, menyampaikan segudang visi-misi, lalu dengan tegas megatakan mimpi kami adalah menyejahterahkan para petani. Nyatanya, setelah terpilih mimpi itu hanya sebatas mimpi.

Komentar

Berita Terkait

Reproduksi Ruang di Kampung Nelayan
Dicky Senda, Model Cendekiawan Milenial dalam Pembangunan NTT
Optimalisasi Layanan Pelabuhan Podor dalam Meningkatkan PADes Desa Lewohedo
Bias Urban dan Desa sebagai Subjek Media
Desa: Sentra Budaya dan Peradaban
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terbaru

Politik

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi

Rabu, 21 Feb 2024 - 19:07 WITA

Politik

Demokrasi dan Kritisisme

Minggu, 18 Feb 2024 - 16:18 WITA

Berita

Peredaran Hoaks Pemilu 2024 Masih Besar

Selasa, 13 Feb 2024 - 13:56 WITA