Circles Indonesia sebagai Ruang Diskusi Virtual yang Mencerahkan  

- Admin

Jumat, 12 Agustus 2022 - 08:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indodian.com – Pada tanggal 12 Agustus 2022 ini, Circles Indonesia merayakan ulang tahun ke-2. Selama dua tahun ini, Circles Indonesia hadir dalam ruang diskusi virtual untuk mencerahkan dan menambah wawasan berpikir masyarakat Indonesia. Lahirnya Circles Indonesia pada tahun 2020 silam berawal dari kegelisahan beberapa tokoh muda Indonesia yang tergerak hatinya untuk tetap memberikan edukasi kepada masyarakat di tengah wabah Covid 19 yang mencekik seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Dhimas Anugrah, sebagai penggagas Circles Indonesia menjelaskan bahwa Covid 19 memang menjadi sebuah penderitaan global. Akan tetapi, Dhimas bersama Merry, Melisa, Deddy, dan Hannah mengikuti gagasan filsuf pendidikan, Peter Robert yang mengatakan, “Penderitaan berat dan keputusasaan perlu dilihat bukan sebagai keadaan menyimpang yang harus selalu dihindari, tetapi bisa menjadi unsur penting bagi kehidupan manusia yang dihayati dengan baik. Bagian dari pengalaman pendidikan adalah menjadi sadar akan pengalaman penderitaan dan keputusasaan yang ada dalam hidup kita, dan terbuka untuk memeriksa pengalaman ini” (Happiness, Hope, and Dispair: Rethinking the Role of Educations. 2016:23).

Hal inilah yang menjadi dasar pokok lahirnya Circles Indonesia. Kata Circles sendiri kependekan tak baku dari Christian Institute of Politics, Philosophy, and Society. Penambahan kata “Indonesia” adalah saran dari RD. Dr. Simon Petrus L. Tjahjadi, mengingat kelompok kajian ini didirikan dan digiatkan oleh anak-anak kandung Ibu Pertiwi, dan ditujukan sepenuhnya bagi kepentingan masyarakat Nusantara.

Baca juga :  Colin Crouch tentang Post-Demokrasi

Circles Indonesia melalui platform digital memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tetap memelihara kewarasan dan pola pikir yang kritis terhadap perkembangan teknologi yang berjalan begitu cepat. Selain membawa banyak manfaat bagi kehidupan, perkembangan teknologi secara tak langsung mengubah kesadaran orang-orang untuk menjadi budak konsumerisme.

Saat ini, di tengah wabah kebanjiran informasi, masyarakat lebih menyukai kecepatan daripada ketepatan informasi. Kini berkembang apa yang dikatakan Gleick (1999:6) sebagai perenungan instan, yaitu bagaimana peristiwa-peristiwa direnungkan, dianalisis, dinilai dan diberikan keputusan secara instan. Ekstasi kecepatan di satu pihak meningkatkan durasi kesenangan, tetapi di pihak lain mempersempit durasi spiritual.

Saat ini lahir pola pikir masyarakat yang mengukur status sosial dan pertemanan dari kepemilikan materi. Fenomena tersebut menggambarkan lenyapnya dimensi moral sebagai akibat dari tenggelamnya mereka ke dalam kondisi ekstasi masyarakat konsumer. Ekstasi itu mengarah pada keterpesonaan, kekayaan dan libido ekonomi yang dipupuk di tengah-tengah rimba kehidupan yang dikitari dengan benda-benda, tanda-tanda dan makna semu; di tengah-tengah kehampaan hidup dan kekosongan jiwa akan makna spiritual dan kemanusiaan; di tengah-tengah dibangunkan kerajaan kegerlapan hidup dan kekayaan ketimbang kedalaman, substansi dan transendensi.

Ekstasi melalui hasrat kebendaan, kesenangan, kesementaraan hanya menyisahkan sedikit ruang bagi penajaman hati, penumbuhan kebijaksanaan, peningkatan kesalehan dan pencerahan spiritual. Seseorang yang terjebak dalam ekstasi ini menurut Jean Baudrilard (1990:187) akan tenggelam dalam siklus hasratnya dan pada titik ekstrim menjadi hampa akan makna dan nilai-nilai moral.

Baca juga :  Demokrasi dan Viralkrasi untuk Sekali Tenggak?

Ekstasi ini menjadi karpet merah dalam memasuki sebuah ruang gaya hidup konsumerisme. Yasraf Amir Piliang (2011:91) mempertegas kesadaran ini bahwa kebudayaan konsumerisme dikendalikan sepenuhya oleh hukum komoditi yang menjadikan konsumer sebagai raja; yang menghormati setinggi-tingginya nilai-nilai individu; yang memenuhi selengkap dan sebaik mungkin kebutuhan-kebutuhan, keinginan, hasrat, telah memberi peluang bagi setiap orang untuk asyik dengan dirinya sendiri.

Di dalam perubahan gaya hidup tersebut, konsumsi tidak lagi dilihat sebagai sebuah kebutuhan dasar manusiawi, akan tetapi menjadi tanda kelas sosial, status atau simbol sosial tertentu. Konsumsi mengekspresikan posisi sosial dan identitas kultural seseorang dalam masyarakat. Dalam konsumsi yang dilandasi dengan citraan dan tanda itu, logika yang mendasarinya bukan logika kebutuhan melainkan logika pemuasaan hasrat.

Dalam diri manusiawi hasrat ini tidak akan pernah mengalami kepuasan. Hasrat melahirkan kecenderungan untuk selalu merasa miskin di tengah kegelimangan kekayaan, merasa diri tidak trend jika tidak memiliki handphone atau mobil terbaru atau merasa harga diri membumbung tinggi ketika membeli barang-barang dengan harga miliaran rupiah.

Benih-benih konsumerisme ini bertumbuh subur melalui perkembangan media. Media menjadi pintu masuk bagi netizen untuk menikmati sebuah rekayasa-rekayasa realitas yang melahirkan ekstasi. Konten-konten media menciptakan ekstasi kekayaan di tengah realitas masyarakat Indonesia yang tidak sedikit masih susah mencari sesuap nasi, tingginya angka putus sekolah karena tidak mampu membiayai pendidikan yang mahal,  atau memilih bunuh diri karena persaingan yang tidak sehat dan ketiadaan modal untuk membeli barang-barang konsumsi.

Baca juga :  Reformasi Dikorupsi dan Gerakan Kaum Muda Progresif

Kondisi ini memberikan sebuah impresi bahwa kehadiran media berpengaruh besar dalam menciptakan pola pikir dan pola perilaku masyarakat. Melalui media, informasi, pandangan, gagasan dan wacana saling dipertukarkan dan kemajuan serta kemunduran masyarakat tercermin di dalamnya. Konten media yang saat ini mereproduksi gaya hidup yang glamour turut berpengaruh terhadap pola konsumsi yang tidak sehat dari masyarakat kelas bawah yang sebenarnya tidak mampu, tetapi berusaha kaya agar diterima dalam situasi sosial kemasyarakatan.

Kesadaran ini menjadi peluang dan tantangan Circles Indonesia untuk tetap menjadi media dan ruang diskusi yang mencerahkan masyarakat digital. Circles Indonesia sebagai sebuah platform digital tetap menawarkan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan, kebermakaan hidup melalui empati sosial dan penciptaan atmosfer hidup melalui pola pikir yang kritis. Idealisme ini penting untuk mengembalikan masyarakat kontemporer pada kedalaman spiritual, kehalusan nurani dan ketajaman hati di tengah kemabukan ekstasi dan kedangkalan pegangan hidup.

Selamat hari ulang tahun Circles Indonesia. Semoga tetap menjadi platform digital yang menyajikan diskursus berkualitas agar masyarakat menyaring data menjadi informasi, informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi sebuah kebijaksanaan  hidup.

Komentar

Berita Terkait

Lingkaran Setan Kurasi Algoritma di Era Demokrasi
Demokrasi dan Kritisisme
Saat Kaum Intelektual Lamban ‘Tancap Gas’: Apakah Tanda Kritisisme Musiman?
Dari Ledalero untuk Indonesia: Menyelamatkan Demokrasi dari Jerat Kuasa?
Debat Pilpres Bukanlah Forum Khusus Para Elit
Independensi, Netralitas Media dan Pemilu 2024
Pemimpin: Integritas, bukan Popularitas
Politik dan Hukum Suatu Keniscayaan
Berita ini 113 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Mei 2024 - 08:51 WITA

Tolong, Dengarkan Suara Hati! (Subjek Cinta dan Seni Mendengarkan)

Rabu, 1 Mei 2024 - 11:52 WITA

Apakah Aku Selfi Maka Aku Ada?

Sabtu, 16 Desember 2023 - 18:31 WITA

Masyarakat yang Terburu-buru

Jumat, 8 Desember 2023 - 12:13 WITA

Masyarakat Smombi

Selasa, 28 November 2023 - 22:48 WITA

Masyarakat Telanjang

Sabtu, 7 Oktober 2023 - 09:35 WITA

G.W.F. Hegel: Negara dan Sittlichkeit

Selasa, 13 Juni 2023 - 16:26 WITA

Emotikon, Krisis Perhatian dan Filsafat Teknologi

Rabu, 10 Mei 2023 - 21:40 WITA

ChatGPT dan Tugas Filsafat Teknologi

Berita Terbaru

Filsafat

Apakah Aku Selfi Maka Aku Ada?

Rabu, 1 Mei 2024 - 11:52 WITA