Cerpen | Sabtu, 14 Agustus 2021 - 19:57 WITA
“Cepat mengaku!!”“Bukan saya, Pak!!”“Lalu kenapa bendera itu berkibar?”“Saya tidak tahu…!!” Sementara pukulan memberondong di tubuhku, aku masih lemah. Wajah jadi lebam. Darah bercampur peluh….
Cerpen | Sabtu, 31 Juli 2021 - 17:37 WITA
Indodian.com – Dua puluh enam tahun berlalu. Semenjak dihadirkan ke dunia ini, ibu masih tetap menjadi wanita terbaik dan tercantik yang pernah dia kenal….
Cerpen | Sabtu, 17 Juli 2021 - 20:21 WITA
Pemandangan sore menjelang malam ini begitu ramai. Sekumpulan lelaki dan perempuan berpasangan. Berpelukan. Mesra di penghujung hari. Satu dari kelompok manusia ini merasuk pandangan…
Cerpen | Sabtu, 10 Juli 2021 - 17:59 WITA
Ada sebuah gazebo bambu di puncak gunung itu, lengkap dengan empat buah kursi, meja kecil, dan asbak rokok yang juga terbuat dari bambu. Samwel…
Cerpen | Minggu, 20 Juni 2021 - 14:10 WITA
“Di surga nanti, ibu ingin tetap jadi penenun. Surga akan sangat membosankan tanpa alat tenun yang sudah akrab dengan ibu selama bertahun-tahun.” Itu kalimat…
Cerpen | Sabtu, 12 Juni 2021 - 11:11 WITA
Di kota ini sehabis hujan, Desember yang lalu. Di kota ini dalam ruangan berpenyejuk udara. Kau dan wangimu bersanding dengan riuh angin di luar….
Cerpen | Sabtu, 22 Mei 2021 - 16:23 WITA
Indodian.com – Mari bung duduk manis sambil berpangku tangan dan bersila. Aku tahu otakmu sedang lelah dan lapar memikirkan kepastian cinta, harga diri, dan…
Cerpen | Sabtu, 15 Mei 2021 - 19:03 WITA
Indodian.com-Saat pertama kali melihatmu, mata laki-lakiku langsung membaca dengan tepat. Kamu cantik. Walaupun matamu memancarkan kelelahan—belakangan saya tahu saat itu kamu sedang sakit—kamu tetap…
Cerpen | Minggu, 9 Mei 2021 - 13:44 WITA
Penulis Joy Rema Kamaruddin “Bagaimana keadaannya, dok?” Wanita berusia 39 tahun yang harap-harap cemas dan sangat khawatir itu, mengajukan pertanyaan menyambut kemunculan dokter Kim…
Cerpen | Rabu, 14 April 2021 - 12:24 WITA
Begitu Martin da Silva membukakan pintu, Ephy panik dan menyesal telah mengetuk pintu kamar tetangganya itu. Enu Sinta duduk di kursi kayu dekat jendela, mengenakan kaos oblong merah marun dengan gambar salib berwarna putih di bagian dada