Indodian.com – Jika kita bertanya, bagaimana kondisi kebudayaan kita saat ini? Jawabannya tunggal: at death’s door. Mengapa? Jati diri kebudayaan kita yang religius dan humanis serta memiliki peradaban cukup tinggi di dunia, ternyata mencatat banyak peristiwa “penyimpangan”. Seperti kita saksikan di layar televisi, di surat kabar, medsos yang menyuguhkan berita-berita, seperti tutur kata, tingkah laku, moral kita, perangai kita, yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan serta etika peradaban bangsa kita. Dalam kondisi yang demikian “chaos” akan memunculkan “kebudayaan baru ” yang disebut “quasi culture”, yang berdampak pada jati diri kebudayaan kita mengalami kerapuhan.
Demikian rapuhnya kebudayaan kita, setidaknya berbagai sebab kemungkinan berikut ini. Pertama, munculnya kesenjangan atau terputusnya hubungan antargenerasi budaya dapat membawa akibat runtuhnya peradaban perkembangan kebudayaan, oleh karena itu kehidupan kita saat ini dan ke depan diperkirakan tidak mempunyai akar sejarah dengan peradaban masa lampau yang religius dan humanis.
Kedua, warga bangsa kita saat ini semakin menipis perasaan kolektif dan telah mengalami disharmoni. Kurang menghargai musyawarah atau konsensus dalam mengelola kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menyelesaikan masalah dengan mengabaikan dialog, hal demikian tidak sesuai dengan jati diri kebudayaan kita yang religius dan humanis. “Kekerasan” adalah semacam ideologi baru yang nota bene tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan yang secara sah memiliki monopoli atas perangkat kekerasan (organized violence), melainkan telah dilakukan pula oleh masyarakat kebanyakan.
Ketiga, tidak dapat dipungkiri bahwa proses dinamisasi dan peningkatan, kreativitas terjadi pula di kalangan masyarakat. Masyarakat dihadapkan pada tantangan kehidupan sehari-hari yang serba sulit, sehingga mau tidak mau harus berusaha untuk survive, ditambah lagi suatu kemungkinan terjadinya involusi kebudayaan, yaitu kencendrungan sebagian masyarakat semakin eksklusif.
Keempat, dengan perubahan yang begitu cepat dapat menyebabkan timbulnya gejala disorientasi kultural, yakni lapisan dalam kebudayaan kita “ethico-mythical nucleus” yang merupakan central point of reference, telah mengalami kematian, seperti: moral, peradaban, etika. Dalam masyarakat luas telah terjadi penyimpang etika dan moral yang serius, mulai dari rumah tangga sampai kantor pemerintah, kecenderungan mudah terjadi tindakan balas dendam. Demikian pula halnya di sekolah sebagai lembaga penanaman nilai dan iman telah mengalamai anomali.
Dalam arus kuat perubahan saat ini kita dihadapkan dengan beberapa pertanyaan yang substansial, sanggupkah kita merevitalisasi jati diri kebudayaan kita? Ataukah dibiarkan begitu merana? Masihkah moral bangsa kita mempunyai fungsi dan berperan sebagai “ benteng” terhadap perubahan yang keliru?
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya